Tujuh anak muda Musi Banyuasin membuktikan sukses tak selalu harus menunggu SK
TAHUN 2026 ini, Musi Banyuasin bikin kabar yang agak bikin minder, tujuh anak mudanya berangkat ke Jepang. Bukan study tour, bukan healing, tapi kerja. Sementara yang lain masih debat formasi CPNS, mereka sudah debat koper, mana yang muat jaket tebal.
Rilis resmi Pemkab Muba mencatat, tujuh putra-putri daerah ini berangkat lewat dua jalur BLK Disnakertrans dengan kurikulum IM Japan, Kemnaker, dan jalur mandiri. Artinya, ada yang disiapkan negara, ada yang nekat tapi terukur. Jepang tidak peduli jalur mana, yang penting disiplin.
Satu orang bahkan sudah berangkat 7 Januari 2026. Namanya M. Depri Perdiansyah, tujuan Fukushima, sektor pengolahan makanan. Ini penting, karena ini bukan wacana, bukan rencana tahun depan. Ini kejadian nyata, sudah lewat imigrasi.
Kepala Disnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga, berpesan agar para peserta menjaga disiplin, memahami budaya, dan mematuhi aturan di negeri orang sebab di Jepang, telat itu dosa sosial.
Bupati Muba, H. M. Toha, ikut bangga. Katanya, mereka bukan sekadar bekerja, tapi membawa nama baik daerah, boleh capek, jangan bikin malu.
Menariknya, tidak semua lewat BLK. Empat peserta jalur mandiri. Ini bukti anak muda mulai sadar, masa depan tidak selalu datang lewat panggilan, kadang harus dijemput. Jepang tidak membuka pintu buat yang setengah-setengah.
Ada juga peserta perempuan, pasalnya sekarang yang berangkat bukan cuma mimpi, tapi juga keberanian. Jepang tidak bertanya kamu dari mana, tapi kamu bisa kerja atau tidak.
Tujuan mereka pun tidak main-main ke Hokkaido, Fukushima, Saitama, Osaka. Sektornya? Alat berat, pengolahan makanan, sampai kampus. Artinya, tenaga kerja Muba tidak dikirim asal, tapi sesuai kebutuhan. Ini bukan kirim badan, ini kirim kompetensi.
Pelatih, Sensei Kailani, menyebut keberhasilan ini bukti pemuda Muba punya daya saing. Versi singkatnya anak kampung ini bukan kaleng-kaleng.
Program ini sejalan dengan visi Pemkab Muba menekan pengangguran. Cara kerjanya sederhana tapi efektif, kalau lapangan kerja tidak cukup di rumah, cari yang di luar rumah, asal resmi, terlatih, dan aman.
Oleh sebab itu di saat sebagian orang masih menunggu SK, anak-anak Muba ini sudah menunggu boarding pass. Dan mungkin, mulai sekarang, ukuran sukses di kampung perlu direvisi, bukan lagi, “Sudah diangkat?” tapi, sudah berangkat ke Jepang?.(***)