Lingkungan

“Ngopi Sambil Nyiram Hutan, Cerita Jambore Anti-Kabut Asap di Kaltim!”

ist

DI SUATU pagi yang agak-agak panas tapi masih bisa ditahan, ribuan pasang kaki berderap masuk ke hutan. Bukan buat camping ceria atau cari sinyal buat unggah konten, tapi buat satu misi mulia ngusir si api dari hutan Kalimantan Timur. Yup, tanggal 6 sampai 8 Agustus 2025, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang kalau disingkat mirip nama boyband Korea mendadak ramai sama manusia-manusia berkepala tegak yang ikut Apel Siaga dan Jambore Pengendalian Karhutla.

Bukan jambore biasa. Ini jambore serius tapi santai. Tempatnya di Diklathut Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, tapi suasananya kayak gabungan antara latihan militer, festival lingkungan, dan reuni anak pecinta alam.

Kenapa rame? Karena Kalimantan Timur ini lagi-lagi masuk daftar rawan kebakaran, kayak hati mantan yang belum move on. Sejak Januari sampai 5 Agustus aja udah 66 titik panas nongol. Kayak kompor yang lupa dimatiin, hutan bisa kebakar kalau nggak dijagain. Dan ingat, katanya Wamen Kehutanan Pak Sulaiman Umar “Mencegah itu lebih murah ketimbang padamkan.” Betul, Pak. Sama kayak cinta lebih baik menjaga hubungan daripada ribet minta balikan.

Menurut BMKG, tahun ini musim kemaraunya kategori kemarau basah. Kayak mie instan kebanyakan air tetap panas, tapi masih bisa diminum. Tapi suhu tetap naik loh, antara 0,3 sampai 0,6 derajat Celcius. Jadi jangan salah, meski agak-agak lembab, si api tetap bisa ngendap di balik semak-semak.

Nah, makanya digelarlah apel dan jambore. Isinya bukan cuma hormat-hormat dan pidato, tapi ada juga simulasi pemadaman, pelatihan teknis, penanaman pohon, dan deklarasi Relawan Muda Siaga Karhutla. Pokoknya dari yang muda sampai yang ubanan, semua digeret buat ikut sadar bahwa hutan bukan warisan nenek moyang yang bisa dibakar sesuka hati.

Wamen Sulaiman juga bilang, teknologi harus dimaksimalkan. Drone, satelit, bahkan kamera CCTV kalau perlu dipasang juga di semak. Jangan sampai kita kalah sama teknologi para peternak konten. Di sisi lain, masyarakat adat, tokoh agama, dan emak-emak arisan juga kudu diajak. Karena kadang, nasihat Bu RT lebih didengar daripada suara alarm kebakaran.

Dan tentu saja, generasi muda jangan cuma sibuk nyanyi “api-api-api… makin panas makin asik.” Kalo bisa jadi relawan jaga hutan, kenapa harus jadi netizen yang cuma bisa komen “OMG sad banget” waktu hutan kebakar?

Presiden Prabowo sendiri udah wanti-wanti lewat rapat kabinet waspada karhutla, jangan sampai kita kejar-kejaran sama api tiap tahun kayak sinetron yang nggak tamat-tamat.

Mencegah api itu kayak menyiram tanaman kelihatan sepele, tapi efeknya luar biasa. Hutan itu tumbuh puluhan tahun, terbakar satu hari. Menjaga hutan itu bukan tugas dinas kehutanan semata, tapi tanggung jawab semua, termasuk kamu yang baca sambil ngopi ini.

Pepatah baru hari ini “Lebih baik peluh di pelatihan, daripada air mata saat pemadaman.”

Jadi sobat rindang dan pejuang anti-asap, kalau ada kegiatan seperti jambore karhutla ini, jangan ditanggapi dengan malas dan ngantuk. Karena kalau hutan habis, mau napas pakai apa? Pakai filter IG?

Yuk, jaga hutan mulai dari sekarang. Jangan sampai cucumu nanti kenalnya bukan hutan tropis, tapi hutan kenangan. Salam lestari, salam anti-asap, dan salam ngopi sambil nyiram!.[***]

Terpopuler

To Top