Kesehatan

Virus Nakal Mengintai! Kemenkes & BIN Siap Tempur

ist

DI sudut-sudut yang nggak kelihatan, virus kayaknya lagi rapat kecil, merencanakan strategi untuk bikin heboh. Iya, ya.. virus itu memang nggak punya seragam kayak Tentara, Polisi, atau ASN, juga nggak pake tank, namun bisa bikin rumah sakit penuh oleh dia (virus).

Bahkan kota bisa lockdown, dan semua orang panik membuat  Menkes Budi Gunadi Sadikin mengingatkan “Perang melawan patogen justru memakan korban paling besar.” benar juga..

Kalau biasanya BIN dikenal karena intelijen politik dan keamanan, sekarang mereka juga ikut mengintai virus.

Kepala BIN Muhammad Herindra menegaskan, “Pandemi COVID-19 menunjukkan keterkaitan erat antara ancaman kesehatan dengan stabilitas keamanan nasional.

Dengan bekerja bersama dengan Kemenkes, tugas kami jadi lebih ringan karena ancaman kesehatan ini tidak bisa ditangani sendiri.” katanya belum lama ini mengutip laman resmi kemkes.

Oleh sebab itu Kemenkes dan BIN bikin kesepakatan bersama/MoU guna membangun sistem peringatan dini supaya negara nggak kaget kalau virus nakal muncul lagi.

Jadi, saat virus main-main, kita sudah siap dengan ‘senjata’ canggih.

Kalau perang biasanya pakai tank dan radar, lawan virus pakai laboratorium, genome sequencing, dan sistem surveilans super canggih. Data dan tabung reaksi jadi ‘mata-mata’ yang mengintai virus.

Contoh nyata virus berbahaya adalah Ebola, yang bisa bikin demam tinggi dan pendarahan, H5N1 alias flu burung yang menyerang sistem imun.

Untungnya, berkat laboratorium canggih dan teknologi genome sequencing, kita bisa memantau perubahan virus secara cepat, mendeteksi varian baru, dan menyiapkan langkah pencegahan sebelum wabah meluas.

Oleh karena itu, virus sebenarnya tanpa disadari mengajarkan filosofi sederhana, yaitu deteksi dini lalu berusaha lakukan kesiapan hasilnya Insya Allah bisa selamat. Negara yang siap sejak awal lebih aman, yang telat?, misalnya bakal panik, stres, kewalahan.

Dalam kehidupan sehari-hari pun sama sebenarnya kalau persiapan kurang, semua jadi berantakan, sehingga perlu tetap waspada, punya rencana cadangan, tapi jangan lupa senyum dan ketawa.

Setidaknya tips ala Kemenkes dan BIN ini bisa membuat kita bertahan dari virus nakal, seperti yang paling sederhana, membiasakan diri untuk mencuci tangan minimal 20 detik pakai sabun sebab virus itu nggak suka bersih-bersih.

Sistem peringatan dini

Kemudian jaga jarak sosial saat ada wabah, sebab virus itu galak, suka rame-rame, lakukan vaksin dan booster pakai ‘baju besi’ tubuh biar nggak gampang KO. Makan sehat, tidur cukup, olahraga, sehingga imun kita kuat dan  virus susah masuk lalu yang terakhir selalu di usahakan update info dari sumber resmi, jangan gampang panik karena hoaks.

Mudah-mudahan tips ini bisa bikin kita aman, sehat, dan tetap bisa ketawa di tengah ancaman virus.

Oleh karena itu, kerja sama Kemenkes-BIN menunjukkan kesehatan bukan hanya urusan dokter, namun juga strategi nasional. Integrasi intelijen dan surveilans memungkinkan deteksi dini penyakit sebelum meledak.

Bahkan inovasi multidimensi ini merupakan pencegahan lebih efektif daripada penanganan. Virus cepat mutasi tetap bisa dikontrol dengan kesiapsiagaan, edukasi publik, dan teknologi. Negara yang siap bisa mengurangi dampak sosial dan ekonomi dari pandemi berikutnya.

Jadi, perang melawan virus nyata dan berbahaya itu, bisa diantisipasi, apalagi Kemenkes-BIN membangun sistem peringatan dini supaya negara nggak kaget,  artinya siapa cepat, dia menang. Virus mutasi? tenang… manusia bisa upgrade pertahanan.

Pesannya yang jelas hidup itu penuh ancaman tak terlihat, misalnya ancaman dari virus, stres, masalah sehari-hari, namiun kalau kita siap, teliti, dan tetap humoris, semuanya bisa dilewati.

Bahkan  dengan ketawa itu resep yang  paling murah, karena dampaknya setidaknya dapat menaikan imun, stress juga bisa turun, bahkan hati selalu senang.

Virus boleh nakal, tapi kita bisa lebih siap, tangguh, dan tetap bisa ketawa!.(***)

Terpopuler

To Top