7 Tips Mencegah Penularan TBC di Rumah, Jangan Abaikan Pemeriksaan Kontak Erat
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TUBERKULOSIS (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan yang membutuhkan perhatian serius, terutama di lingkungan keluarga.
Selain memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas, pencegahan penularan juga perlu dilakukan melalui pemeriksaan kontak erat dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi orang yang memenuhi kriteria.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan upaya mengatasi TBC tidak boleh hanya berfokus pada pengobatan pasien yang sudah sakit. Pencegahan perlu dilakukan secara agresif agar kasus baru tidak terus bermunculan.
“Mengobati pasien yang sakit TB itu penting. Capaian pengobatan TB di Indonesia juga sudah sangat baik. Namun, kalau pencegahan melalui TPT dan pelacakan kontak erat tidak kita jalankan secara agresif, angka kasus TB tahun depan akan terus berulang,” tegas Benjamin.
Pesan disampaikan itu menegaskan pentingnya keterlibatan keluarga dalam memutus rantai penularan TBC. Lantas, apa saja langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan di rumah?
1. Periksa seluruh anggota keluarga yang menjadi kontak erat
Jika ada anggota keluarga yang didiagnosis TBC aktif, terutama TBC paru, orang yang tinggal serumah perlu menjalani pemeriksaan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi kemungkinan TBC sejak dini, termasuk pada orang yang belum menunjukkan gejala. Jangan menunggu munculnya keluhan untuk berkonsultasi dengan petugas kesehatan.
Benjamin menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam penanggulangan TBC, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Oleh karena itu, kita ubah paradigma berpikir kita. Setiap rumah sakit dan Puskesmas harus memastikan kontak serumah diperiksa dan mendapatkan TPT demi melindungi masa depan keluarga masyarakat,” tegasnya.
2. Kenali gejala TBC sejak dini
Gejala TBC dapat berupa batuk berkepanjangan, demam yang berlangsung lama, keringat malam, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, serta tubuh mudah lelah.
Jika mengalami gejala tersebut, segera periksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit. Gejala saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis, sehingga pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan.
3. Tanyakan apakah anggota keluarga membutuhkan TPT
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan pemberian obat untuk mencegah berkembangnya infeksi TBC menjadi penyakit TBC aktif pada orang yang memenuhi kriteria.
TPT bukan pengganti pengobatan bagi pasien yang sudah mengalami TBC aktif. Sebelum terapi diberikan, tenaga kesehatan perlu menilai kondisi pasien dan memastikan TBC aktif telah disingkirkan.
Oleh sebab itu, keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC sebaiknya menanyakan kepada petugas kesehatan apakah TPT direkomendasikan dan bagaimana menjalani terapinya dengan benar.
4. Pastikan sirkulasi udara di rumah berjalan baik
Bakteri penyebab TBC dapat menyebar melalui udara ketika penderita TBC aktif mengeluarkan partikel infeksius. Risiko penularan dapat meningkat di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
Buka jendela dan pintu, jika memungkinkan agar udara segar masuk dan udara di dalam ruangan berganti. Hindari kepadatan berlebihan dan upayakan sirkulasi udara yang baik di ruang keluarga maupun kamar tidur.
5. Terapkan etika batuk dan gunakan masker sesuai anjuran
Pasien TBC paru yang masih berpotensi menularkan penyakit perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai penggunaan masker dan langkah pencegahan lainnya.
Biasakan menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin serta membuang tisu bekas ke tempat sampah. Anggota keluarga juga perlu mengikuti arahan petugas kesehatan mengenai perlindungan diri selama mendampingi pasien.
6. Jalani pengobatan sampai tuntas
Pasien TBC perlu mengonsumsi obat secara teratur sesuai regimen yang ditentukan tenaga kesehatan. Pengobatan tidak boleh dihentikan hanya karena gejala sudah membaik.
Jika muncul efek samping atau ada kesulitan minum obat, segera konsultasikan dengan petugas kesehatan. Pendampingan keluarga juga dapat membantu pasien menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran.
7. Manfaatkan layanan pemeriksaan TBC
Puskesmas dan rumah sakit berperan penting dalam penemuan kasus, pemeriksaan kontak erat, pengobatan, serta pemberian TPT bagi orang yang memenuhi syarat.
Masyarakat dapat menanyakan ketersediaan pemeriksaan TBC dan layanan pencegahan di fasilitas kesehatan terdekat. Jangan ragu berkonsultasi meskipun belum mengalami gejala, terutama jika tinggal serumah dengan pasien TBC aktif.
Pencegahan TBC Harus Dimulai dari Keluarga
Pencegahan TBC membutuhkan kerja sama pasien, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Pengobatan pasien yang sakit harus berjalan beriringan dengan penemuan kasus secara dini dan perlindungan bagi kontak erat yang memenuhi kriteria.
Pesan yang disampaikan Kementerian Kesehatan menjadi pengingat bahwa memutus rantai penularan tidak cukup dengan menyembuhkan pasien yang sudah terdiagnosis. Orang-orang di sekitarnya juga perlu mendapat perhatian melalui pemeriksaan dan pencegahan yang tepat.
Dengan mengenali gejala, memeriksakan kontak erat, menjaga sirkulasi udara, dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, keluarga dapat berperan aktif dalam menekan penularan TBC. (***)/diolah dari sumber utama kemkes.
- Penulis: Irwan Wahyudi
