Kesehatan

Saat Nyamuk Tak Lagi Dianggap Sepele

ist

ADA satu makhluk di dunia ini yang kerjanya paling konsisten dan jarang absen, ia adalah nyamuk, ia kecil, namun suaranya cempreng bikin ganggu telinga saat tidur di ruang gelap, tapi soal komitmen, jangan ditanya dan jangan dilawan, sebab saat  musim hujan datang, dia siap sedia,  air tergenang sedikit, dia senyum, bahkan manusia lengah aja, dia pestapora. Sementara kita? sering  ribut setelah korban berjatuhan.

Dulu nyamuk itu cuma dianggap gangguan, sekarang dia sudah naik level bro.. bukan sekadar bikin gatal, tapi bikin orang tua panik, sekolah waswas, dan rumah sakit jadi tempat singgah. Demam berdarah membuat kita pelan-pelan sadar, ada hal kecil yang selama ini terlalu sering kita anggap remeh.

Kesadaran itu makin terasa ketika isu pencegahan mulai dibicarakan secara serius, bukan cuma soal fogging dadakan atau imbauan musiman, tapi soal langkah yang lebih panjang napasnya.

Saat Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menerima audiensi tim Fakultas Kedokteran Unsri, ia menyebutkan program vaksinasi dengue sebagai kabar gembira bagi para orang tua. “Saya cukup surprise dengan adanya kerja sama yang baik ini,” ujarnya.

Kalimat itu memang terdengar ringan, tapi maknanya dalam, surprise, karena selama ini kita memang lebih sering dikejutkan oleh lonjakan kasus ketimbang  upaya pencegahan yang sistematis.

Dari sisi akademik, Dekan FK Unsri Prof. Irsan Saleh bicara dengan bahasa yang tenang. Ia menjelaskan soal vaksin, soal pemantauan jangka panjang, dan soal anak-anak usia sekolah dasar yang dijadikan fokus. Tidak berapi-api, tapi jelas arahnya mencegah lebih masuk akal daripada terus-terusan mengobati.

Namun kita juga perlu sedikit jujur dan berani bercermin, sebab nyamuk bukan hanya urusan medis, nyamuk juga urusan tata kelola. Urusan kebijakan. Urusan konsistensi pemerintah yang sering kali rajin di awal, lalu sunyi kembali di tengah.

Kita sudah terlalu sering melihat pola yang sama, begitu kasus naik, rapat digelar, bahkan spanduk dipasang dimana-mana, bahkan imbauan disebar.

Setelah itu? pelan-pelan sunyi, got kembali kotor, genangan kembali dibiarkan, dan nyamuk kembali bekerja tanpa gangguan. Kalau nyamuk bisa protes, mungkin dia akan bilang, “Terima kasih sudah konsisten memberi kami ruang.”

Namun juga, pemerintah terkadang kalah disiplin dari nyamuk, malah uniknya nyamuk bekerja itu sepanjang tahun. Pemerintah sering bekerja per musim. Padahal penyakit tidak mengenal kalender anggaran. Nyamuk tidak peduli apakah program masih berjalan atau sudah selesai laporan.

Oleh sebab, anak-anak sekolah dijadikan sasaran pencegahan itu tepat. Tapi jangan sampai sekolah hanya dijadikan lokasi, bukan mitra. Jangan cuma datang saat suntikan, lalu pergi tanpa memastikan lingkungan sekolah benar-benar aman. Karena percuma bicara pencegahan kalau selokan di belakang sekolah masih jadi kolam renang jentik.

Herman Deru bahkan mendorong agar vaksinasi dilakukan melalui sekolah dan dikoordinasikan dengan dinas pendidikan. Ini sinyal yang bagus. Tapi sinyal akan percuma kalau tidak diikuti kendaraan. Koordinasi jangan berhenti di meja rapat. Harus sampai ke halaman sekolah, ke toilet, ke sudut-sudut yang jarang dilirik kamera dan di semua kampung warga dan perumahan warga.

Vaksin dalam cerita ini sering disalahpahami. Ada yang menganggapnya penyelamat tunggal.

Ada juga yang curiga berlebihan. Padahal posisinya jelas, vaksin itu alat, bukan pengganti akal sehat. Vaksin membantu tubuh manusia, bukan membersihkan lingkungan.

Sering kita masuk dalam  jebakan klasik, pemerintah sering muncul merasa cukup dengan satu program, lalu mengendurkan yang lain. Padahal nyamuk tidak bekerja satu jalur, nyamuk memanfaatkan semua kelengahan sekaligus.

Lucunya, kita sering berharap solusi besar dari kebijakan besar, tapi lupa hal kecil, ember bocor di halaman kantor. Pot bunga di sudut gedung. Saluran air yang mampet bertahun-tahun. Semua itu bukan urusan rakyat semata. Itu juga cermin keseriusan negara mengurus hal paling dasar.

Jadi alarm

Demam berdarah bukan hanya penyakit, namun demam berdarah itu bisa jadi alarm. Alarm bahwa ada yang tidak beres dengan cara kita mengelola lingkungan dan kebiasaan, sebab ketika alarm berbunyi terus-menerus, masalahnya bukan di alarmnya, tapi di rumahnya.

Saat nyamuk tak lagi dianggap sepele, seharusnya yang berubah bukan hanya cara kita bicara, tapi cara kita bekerja.

Pemerintah harus bisa lebih rajin dari nyamuk.

Lebih konsisten dari musim hujan.

Lebih tahan lama dari baliho kampanye.

Karena pada akhirnya, nyamuk memang kecil, akan tetapi dia itu jujur, dia hanya memanfaatkan apa yang ada, kalau lingkungan rapi, dia minggir bahkan  kalau manusia disiplin, dia kalah.

Yang sering jadi masalah bukan nyamuknya, tapi kebiasaan kita yang terlalu mudah memaafkan kelalaian. Padahal kalau soal kesehatan anak-anak, tidak ada kata maklum.

Maka ketika hari ini nyamuk tak lagi dianggap sepele, itu bukan tanda kita berlebihan. Itu tanda kita mulai dewasa. Dewasa untuk menuntut pemerintah lebih konsisten, sekolah lebih peduli, dan diri sendiri lebih disiplin.

Karena melawan demam berdarah bukan soal siapa paling ribut, tapi siapa paling tahan menjalankan hal-hal sederhana.

Jujur saja, kalau nyamuk saja bisa konsisten, masa pemerintah dan kita kalah?. (***)

To Top