Sumselterkini.co.id, – Di kota yang katanya terkenal dengan pempek dan senyuman di atas jembatan Ampera, Pemerintah Kota Palembang kembali menyalakan obor semangat lewat program “Palembang Cerdas”. Program ini bukan sekadar tempelan stiker di pagar sekolah atau jargon untuk lomba yel-yel saat apel pagi. Tapi, niat mulia buat ngasih anak-anak kita yang tiap pagi nyebrang parit pakai seragam belepotan tanah pendidikan yang tidak cuma cerdas di akal, tapi juga bersih di moral.
Namun sayangnya, di tengah niat baik ini, masih saja ada praktik pendidikan model warung yang duduk bayar, yang lulus bayar, yang mau daftar sekolah juga bayar. Ini bukan pendidikan, tapi seminar MLM. Maka tak heran, Sekda Aprizal Hasyim sampai turun tangan langsung kasih pengarahan ke para kepala sekolah SMP se-Palembang, sambil berpesan “Jangan takut intervensi, asal kita masih di jalan yang benar.”
Pendidikan mestinya tempat anak-anak menanam mimpi, bukan tempat kepala sekolah memanen “uang bangku”. Kita tahu, menjelang tahun ajaran baru, beberapa sekolah mendadak berubah seperti pasar subuh ramai pungutan tanpa karcis, dari uang pendaftaran sampai sumbangan “suka tidak suka”. Alasan resminya “demi operasional”, tapi kadang mirip parkiran liar tidak ada kuitansi, tapi petugasnya galak.
Coba tengok Finlandia negara yang katanya punya sistem pendidikan paling jos sedunia. Di sana, pendidikan bukan cuma gratis, tapi juga nggak pakai pungutan-pungutan nyeleneh. Kepsek di Finlandia gak sibuk hitung amplop, tapi sibuk mikir bagaimana murid bisa suka matematika tanpa harus trauma lihat angka 7.
Atau Jepang, yang bahkan saking niatnya, guru-guru di sana dapat pelatihan lebih ketat dari calon ninja. Disiplin, transparan, dan bertanggung jawab. Di kita, pelatihannya kadang cuma nambahin template PowerPoint dan sertifikat warna-warni.
Di atas kertas, kepala sekolah itu pimpinan tertinggi di sekolah. Tapi dalam praktik, ada yang malah lebih mirip calo yang mangkal di terminal pendidikan. Maka betul kiranya peringatan Sekda “Jaga amanah. Jangan takut intervensi”. Karena kalau lurus, tak perlu takut disalip. Yang bikin ngeri itu kalau sudah belok-belok, tapi ngotot bilang “jalan tol”.
Kepsek harusnya seperti sopir bus pariwisata tahu rute, tahu rem, tahu kapan nyalain AC supaya anak-anak nyaman. Tapi jangan malah jadi kernet yang sibuk narik ongkos tambahan padahal sekolahnya masih nebeng dinas.
Program Palembang Cerdas juga katanya akan menyentuh fasilitas sekolah. Nah ini baru benar, karena jangan sampai muridnya cerdas, tapi plafonnya ambrol. Belajar Kimia pakai helm proyek karena takut tertimpa eternit.
Kalau ruang kelas sudah mirip rumah hantu, gimana anak-anak bisa fokus belajar? Kita perlu sekolah yang bukan cuma punya papan tulis, tapi juga papan harapan. Dan ini bukan mimpi. Di daerah-daerah seperti Banyuwangi dan Surabaya, sekolah-sekolah negeri sudah seperti hotel kapsul rapi, bersih, penuh inovasi. Muridnya semangat, gurunya kreatif. Bukan karena dana lebih, tapi karena manajemen yang benar.
Integritas kepala sekolah dan guru adalah fondasi. Kalau yang di depan kelas saja licik, bagaimana mungkin anak didiknya jadi jujur? Jangan sampai Palembang Cerdas jadi cuma slogan semata. Karena pendidikan bukan hanya soal ijazah, tapi juga karakter. Kalau dari kecil anak diajari “asal ada duit semua bisa diatur”, maka kita sedang mencetak generasi yang pintar nyari jalan pintas, bukan solusi panjang.
Palembang sedang menata langkah menuju pendidikan yang lebih baik. Tapi langkah itu akan pincang kalau pungutan liar masih merajalela. Kepala sekolah bukan kolektor tagihan. Mereka pemimpin yang harusnya bisa jadi contoh. Pungli bukan kurikulum, dan amplop bukan indikator prestasi.
Maka mari dukung Palembang Cerdas, bukan dengan kata-kata manis dalam seminar, tapi lewat tindakan nyata bersih, transparan, dan berani bilang tidak pada pungli. Karena sekolah bukan tempat cari untung, tapi tempat anak-anak menanam masa depan. Dan ingat, “Cerdas itu bukan mahal, tapi berintegritas”.[***]/