Balai Latihan Kerja (BLK) Sekayu biasanya tenang, cuma ada bunyi mesin las dan obrolan santai anak muda. Tapi Desember lalu, tempat itu berubah jadi panggung drama ketika 15 pemuda Muba diumumkan lulus Pelatihan PBM ESDM 2026. Dari yang awalnya cuma pengen ikut-ikutan, mereka kini resmi masuk jalur industri migas. Cerita ini membuktikan satu hal generasi muda lokal bisa bikin kejutan besar kalau diberi kesempatan.
“KALAU mau panen padi, jangan malas menanam benihnya.” Pepatah ini rasanya cocok untuk 15 pemuda Musi Banyuasin yang baru saja diumumkan lulus seleksi Program Pelatihan Bantuan Masyarakat (PBM) Bidang ESDM 2026. Bukan sekadar angka, 15 orang ini adalah simbol harapan bahwa generasi muda lokal bisa bersaing di industri strategis seperti migas, bahkan di level global.
Bupati Muba, Toha Tohet, dengan gaya khasnya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang berani menantang diri sendiri melalui proses seleksi ketat. “Selamat kepada para peserta yang lulus. Ini langkah nyata kita untuk mencetak tenaga kerja lokal yang bersertifikasi nasional,” ujarnya. Gak usah formal banget, Pak Bupati sambil senyum, menepuk pundak anak muda, kayak guru ngajarin muridnya naik sepeda pertama kali.
Program ini bukan sekadar formalitas. Bersinergi dengan PPSDM Migas, Pemkab Muba mengalokasikan dana APBN untuk memastikan pelatihan ini menghasilkan SDM unggul. Jadi bukan cuma teori, tapi siap terjun langsung di dunia kerja.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Herryandi Sinulingga, menegaskan, peserta akan ditempa di tiga kejuruan utama, antara lain Juru Las, K3 (Keselamatan & Kesehatan Kerja), dan Scaffolding. Lima nama terbaik di tiap bidang resmi diumumkan, dari Ahmad Fahry hingga Ilham Mushodiq, dan semuanya harus registrasi ulang tanggal 8 Januari 2026.
Kalau kita tarik ke sisi inspiratif, perjalanan mereka mirip cerita kota Houston, Texas, pusat industri migas Amerika Serikat. Di Houston, banyak pemuda lokal yang dulu sama, seperti peserta Muba yang baru lulus sekolah, punya mimpi besar, tapi minim pengalaman. Dengan pelatihan yang tepat, mereka bukan hanya siap kerja, tapi bisa naik karier hingga level internasional. Nah, ini yang bisa jadi pencerahan bagi generasi Muba, sebab kesempatan global itu nyata, asal mau berusaha dan memanfaatkan peluang.
Di balik daftar nama, ada cerita kocak yang bisa bikin senyum, pasalnya lima anak muda Muba itu belajar scaffolding, tubuh mereka jungkir balik di atas rangka besi, sambil salah satu teman nyeletuk, “Bro, jangan jatuh, nanti bisa viral di TikTok!.” Humor ringan ternyata bisa jadi perekat motivasi mereka, sebab kalau belajar sambil ketawa, stress hilang, ilmu lebih nyantol.
Oleh sebab itu, ada tips menariknya, seperti sertifikasi kompetensi bukan cuma formalitas, tapi tiket menuju daya saing global. Bagi pembaca yang belum beruntung, tips dari kasus Muba, cari peluang pelatihan vokasi di pemerintah atau lembaga resmi. Jangan takut gagal sebab seleksi memang ketat, tapi kegagalan adalah guru terbaik. Bangun jejaring, teman sekelas bisa jadi partner kerja masa depan. Dokumentasikan proses belajar karena bisa jadi portofolio digital, berguna saat apply kerja.
Jadi, kesempatan itu hanya datang bagi yang siap. Anak muda Muba yang lulus bukan cuma mendapat skill, tapi percaya diri bahwa mereka bisa bersaing, bukan kalah sama pendatang atau teknologi otomatisasi. Ini juga pengingat bagi pemerintah, investasi SDM lokal itu jauh lebih berharga daripada sekadar membangun infrastruktur fisik.
Program PBM ESDM 2026 di Muba ini menunjukkan, bagaimana pemerintah lokal dan pusat bersinergi untuk mencetak SDM unggul, dengan pendekatan edukatif, praktis, dan menyenangkan. Anak muda yang semula hanya bermimpi di Sekayu, kini punya jalur jelas menuju industri migas, bahkan bisa membidik panggung global seperti Houston.
“Siapa yang menanam usaha, dia yang menuai prestasi” itu maknanya, jadi buat semua generasi muda Muba, ini saatnya menanam benih kompetensi, disiplin, dan semangat. Tak ada kata terlambat untuk belajar, bercita-cita besar, dan tertawa di tengah tantangan.(***)