Sumselterkini.co.id, – Kalau kata orang tua zaman dulu, “jangan main layangan dekat gardu PLN, bisa kesetrum!”. Nah, kira-kira begitu juga kondisi anak-anak kita hari ini kalau dibiarkan berselancar di dunia maya tanpa pelindung bisa kesamber hoaks, tersambar ujaran kebencian, dan disetrum konten negatif yang menyamar seperti edukasi padahal jebakan Batman.
Untunglah, ASEAN sekarang tak tinggal diam. Di Brunei Darussalam, dalam pertemuan akbar bertajuk 17th AMRI yang terdengar seperti nama boyband tapi isinya para menteri Indonesia tampil jadi biduan utama.
Lewat Dirjen KPM Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, Indonesia menabuh genderang perang melawan konten digital yang merusak, terutama bagi anak-anak yang belum genap gigi susunya lepas, tapi sudah lihai buka akun media sosial lebih cepat dari ayahnya nyalain kompor gas.
“Literasi digital bukan cuma bisa buka browser dan bikin status galau. Ini soal kemampuan membedakan mana fakta, mana fatamorgana digital!” tegas Bu Fifi, yang kalau dilihat dari semangatnya, cocok jadi pelatih debat digital ASEAN.
Bayangkan saja satu hoaks lahir di satu desa, menyebar ke kota, lalu nyebrang ke Malaysia naik Wi-Fi tetangga, lanjut ke Filipina naik Google Translate. Dalam hitungan menit, satu kabar palsu bisa jadi bahan keributan lintas negara. Maka, kalau hoaks saja bisa lintas batas, masa kita nangkisnya sendirian?
Inilah pentingnya keroyokan digital alias kerja sama ASEAN. Seperti main futsal lawan tim hoaks dunia, kita butuh back yang solid (regulasi), playmaker handal (media berkualitas), dan striker tajam (literasi digital publik). Jangan sampai kita kalah WO di kandang sendiri.
Indonesia pun menunjukkan jurus jitu Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). Program ini bukan sekadar ngajarin cara kirim email, tapi bagaimana masyarakat bisa nyaring informasi kayak nyaring santan kalau asal tuang semua, bisa anyep. Kalau disaring dengan hati-hati, baru terasa manisnya informasi yang sehat.
Pemerintah Indonesia juga memamerkan regulasi mutakhir PP Nomor 21 Tahun 2025 tentang TUNAS, bukan singkatan dari “Tukang Ngopi Santai”, tapi Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.
Aturannya dirancang biar anak-anak ASEAN tidak jadi korban eksperimen algoritma atau jebakan iklan game yang ujungnya minta nomor kartu kredit orang tua.
Perlu dicatat, anak-anak hari ini itu seperti rumput muda kalau sering kena hoaks dan konten kebencian, lama-lama jadi kering dan gampang terbakar. Maka, semua pihak harus ikut nyiram dan lindungi. Jangan sampai generasi masa depan kita tumbuh di ladang digital yang penuh ranjau.
Sambut positif
Negara lain pun menyambut positif. Bahkan, saat pertemuan bilateral dengan Kamboja, Indonesia ngobrol serius soal cara menangani berita bohong. Kalau ASEAN bisa sepakat soal makanan halal dan visa bareng, kenapa soal informasi bersih dan aman kita nggak bisa bikin “ASEAN Clean Content Charter”?
Coba lihat Finlandia negara dengan skor literasi digital tertinggi di dunia. Mereka mengajarkan anak SD untuk membedakan opini dan fakta sejak masih main lego. Jepang bahkan punya kurikulum digital hygiene, sementara Korea Selatan rutin mengaudit algoritma platform lokalnya.
Kalau ASEAN ingin setara, bukan hanya urusan ekspor nanas dan pariwisata pantai, tapi juga ekspor kesadaran digital. Kita butuh regulasi yang bukan cuma garang di atas kertas, tapi juga gigit di lapangan.
Orang tua kita bilang, “mulutmu harimaumu”. Tapi sekarang harus diupdate “jempolmu macan digital”. Sekali share yang salah, bisa melukai reputasi, bahkan menghancurkan hidup orang. Maka, edukasi dan kolaborasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan dasar, seperti nasi dan sambal terasi.
Jurnalisme berkualitas juga tak boleh dibiarkan merana. Di era algoritma, berita benar kalah cepat dari gosip yang didramatisir. Maka, ajakan Indonesia agar platform digital berinvestasi dalam media sehat bukan hanya penting, tapi mendesak. Tanpa itu, demokrasi bisa tinggal nama, tergantikan konten viral tapi kosong.
ASEAN punya tanggung jawab kolektif menjaga anak-anaknya dari api konten jahat. Jangan tunggu satu rumah terbakar baru kita sibuk bawa ember. Mulailah sekarang: dari kebijakan, edukasi, sampai perlindungan. Dari Brunei kita belajar, dari Finlandia kita contoh, dari anak-anak kita dapat semangat.
Karena dunia maya bukan hutan bebas yang bisa sembarang orang pasang jebakan. Ini taman bermain dan belajar anak-anak kita. Dan tugas kita bersama menjaganya tetap terang, sehat, dan aman.[***]