Rabu, 23 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » Labelin Dulu Sebelum Di-Labelling-in!

Labelin Dulu Sebelum Di-Labelling-in!

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 770
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di negeri yang katanya laut lebih luas dari darat ini, terkadang ikan lokal kita bernasib seperti mantan yang gak sempat dihalalkan sudah dibesarkan dengan kasih sayang, eh diaku-aku orang lain. Padahal, dari ujung Sabang sampai Merauke, Indonesia punya lebih dari sekadar kecantikan pantai, kita punya harta karun rasa ikan asin, garam laut, rumput laut, hingga mutiara yang kalau dijual bisa bikin dompet nggak kempes pas akhir bulan.

Masalahnya? Banyak dari produk laut dan pesisir itu belum punya Indikasi Geografis (IndiGeo), semacam akta kelahiran resmi yang bilang, “Hei dunia, produk ini milik daerah kami, lho!”

Bayangkan, Garam Amed dari Bali awalnya cuma dihargai Rp5.000 per kilogram. Tapi begitu sah punya sertifikat IndiGeo, harganya melonjak jadi Rp20.000. Gara-gara apa? Gara-gara label. Luar biasa memang kekuatan satu lembar sertifikat bisa bikin garam naik kasta, dari garam dapur jadi garam artis.

Hal yang sama terjadi pada Mutiara Lombok. Begitu dapat cap IndiGeo, harga jualnya meledak kayak saldo e-wallet pas dapet cashback. Sebab apa? Pembeli percaya, ini bukan sembarang mutiara, ini mutiara yang tahu asal-usulnya. Ibarat jodoh, makin jelas latar belakangnya, makin mantap orang ngelamar.

Tapi mari kita jujur, dibanding potensi laut kita yang luasnya bikin nelayan bisa nyasar sinyal, baru 11 produk yang resmi terdaftar sebagai IndiGeo. Padahal kalau mau dihitung, dari ikan kerapu hingga rumput laut tenggiri, kita bisa punya puluhan, bahkan ratusan produk yang siap dipatenkan.

Sementara itu, negara-negara lain udah ngebut duluan, mereka nggak mau produk khasnya ‘diembat’ pihak lain.

Lihat Prancis, misalnya, mereka bela-belain bikin aturan ketat demi Champagne. Anggur bersoda itu cuma boleh disebut Champagne, kalau lahir di kawasan Champagne sana dan diperas dari anggur di luar wilayah itu, ya maaf, paling banter disebut sparkling wine. Mau enak kayak apa rasanya, gak akan lolos jadi ‘anak resmi’.

Italia juga punya kebanggaan pada Parmigiano Reggiano dan Prosciutto di Parma. Keju dan daging asap ini diawasi seperti anak kos yang baru pertama kali merantau. Salah prosedur dikit langsung dicoret dari daftar pewaris nama besar Italia. Bahkan, toko keju di negara lain bisa disomasi kalau berani mengaku-ngaku.

Giliran ke Asia, Thailand juga gak mau kalah, mereka ngurusin beras Jasmine, gula kelapa Phetchaburi, sampai mangga Nam Dok Mai, dengan semangat kayak ibu-ibu jaga arisan. Di bungkus rapi, dikasih label resmi, lalu dipromosiin ke Eropa. Thailand ngerti branding rasa bisa jadi pemasukan negara.

India pun demikian, dari Darjeeling Tea, Malabar Pepper, sampai Basmati Rice  semuanya diproteksi, mereka gak cuma jual rasa, tapi juga cerita. Rempah jadi rebutan dunia?. Tenang, India udah pasang pagar hukum. Sementara kita, kadang masih sibuk debat ini sambel terasi Betawi apa Bangka?

Contoh paling berbusa

Contoh paling ‘berbusa’ datang dari Meksiko, mereka bela mati-matian Tequila dan Mezcal. Hanya wilayah tertentu yang boleh produksi. Bahkan pabrik di luar zona itu, meskipun pakai resep sama, gak boleh pakai nama “Tequila”. Cuma gara-gara label, Meksiko bisa naikkan ekspor dan harga jual minuman lokal mereka. Coba bayangin, kalau kita bisa lakukan hal serupa pada arak Bali atau sopi Maluku, bisa-bisa masuk etalase restoran Michelin!

Dan jangan remehkan Vietnam. Mereka bukan cuma ngurus wisata Danang atau kopi di kafe hipster. Mereka daftarkan kopi Buon Ma Thuot, saus ikan Phu Quoc, hingga lada Quang Tri sebagai GI (Geographical Indications). Mereka bahkan bikin perjanjian khusus sama Uni Eropa supaya produk Vietnam makin susah ditiru.

Lha kita? Kadang masih bingung ini ikan tenggiri punya siapa, kok tiba-tiba muncul di restoran luar negeri tapi pakai nama “Asian Sea Delight”?

Indikasi Geografis itu bukan sekadar urusan stempel atau hiasan di kemasan. Ia adalah bentuk pengakuan atas keringat nelayan, budaya lokal, dan warisan rasa yang nggak bisa digandakan begitu saja. Negara yang cerdas bukan hanya memanen hasil laut, tapi juga memanen nilai tambah dari identitas produknya.

Jangan sampai kita cuma jadi penonton di panggung dunia kuliner, sementara hasil laut kita dipentaskan orang lain dengan label palsu dan harga tinggi. Ibarat pepatah lama “Kalau bukan kita yang daftarin, ya siap-siap dilabelin sama orang”.

Jadi sebelum ikan asin kita jadi bintang di restoran luar negeri tanpa KTP daerah, yuk kita bantu mereka punya identitas yang sah. Biar nanti, kalau dunia mencicipi rasa laut Indonesia, mereka tahu persis ini dari mana, oleh siapa, dan dengan cinta budaya apa ia diproduksi. Kalau cinta saja butuh status, apalagi ikan kerapu.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Festival Seni Palembang

    Festival Seni Palembang

    • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 943
    • 0Komentar

    WAKIL Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda sangat mengapresiasi kegiatan yang mengemukan adat dan istiadat Palembang tersebut yang melibat 18 kecamatan yang ada di kota tertua di Indonesia ini. “Kita berharap dengan festival lomba ini bukan dikenal oleh orang tua saja, tetapi mengajak para pemuda untuk mengetahui kebudayaan di Kota Palembang dan juga bisa membawa bibit […]

  • Di DKI, Grab Klaim 9.400 Unit Sudah Uji KIR

    Di DKI, Grab Klaim 9.400 Unit Sudah Uji KIR

    • calendar_month Senin, 6 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 955
    • 0Komentar

    Jakarta mendominasi uji KIR, semoga dapat diikuti di kota lainnya

  • Erick Thohir Akui Program Sumsel Mandiri Pangan Pemprov Sejalan dengan Kementerian BUMN 

    Erick Thohir Akui Program Sumsel Mandiri Pangan Pemprov Sejalan dengan Kementerian BUMN 

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 552
    • 0Komentar

    TAK hanya persoalan minyak goreng, penangkaran bibit dan permasalahan sinyal, namun sejumlah kendala terkait pangan juga diungkapkan Gubernur Sumsel Herman Deru langsung kepada Menteri BUMN RI, Erick Thohir. Curhat itu disampaikannya saat Ia berbicara pada Seminar Nasional Jilid 3 Membangun Aglomerasi Sumbagsel Tingkat Provinsi untuk Nusantara- Untuk Indonesia, yang digelar Maayarakat Profesional (Maspro) Sumbagsel bersama […]

  • SEMANGAT GOTONG ROYONG : Cara KKP Ringankan Beban Korban Gempa Cianjur

    SEMANGAT GOTONG ROYONG : Cara KKP Ringankan Beban Korban Gempa Cianjur

    • calendar_month Kamis, 24 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 936
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Cianjur – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengirimkan bantuan ikan beku, obat-obatan hingga beras untuk para korban gempa bumi magnitudo 5,6 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (24/11/2022).   Penyerahan bantuan secara simbolis kepada korban gempa dilakukan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Posko Pengungsian Desa Ciherang, Kecamatan Pacet. Ada […]

  • Muba waspada dengan kenaikan harga sembako karena 3 momen ini

    Muba waspada dengan kenaikan harga sembako karena 3 momen ini

    • calendar_month Senin, 15 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 845
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, –  Tiga momen ini yang dapat memacu kenaikan harga sehingga menyebabkan inflasi, oleh sebab itu mengikuti Rapat Koordinasi Terkait Pembahasan Langkah Konkret. Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2024 Secara Virtual, Senin (15/1/2024) di Ruang Rapat Serasan Sekate. Tinjauan inflasi perkembangan harga di Minggu-2 Januari 2024, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya, bawang merah […]

  • “Lowongan Kerja Muba Tak Bisa Lagi Main Petak Umpet”

    “Lowongan Kerja Muba Tak Bisa Lagi Main Petak Umpet”

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.932
    • 0Komentar

    JADI gini, bro…Pemerintah pusat sama Pemkab Muba sekarang lagi kompak-kompaknya kayak duo vokal yang akhirnya nemu nada pas. Mereka bilang ke semua perusahaan “Lowongan kerja itu bukan dokumen rahasia negara. Lapor ke Disnaker. Sudah.” Ibarat rumah pengap lama nggak dibuka, Perpres 57/2023 dan Perda 2/2020 ini fungsinya kayak buka semua jendela lebar-lebar.Pokoknya lowongan kerja nggak […]

expand_less
WordPress Archive WordPress Banner Ads – AdvertPlaces WordPress Booking Hotel WordPress Cloud Manager | Dropbox – Google Drive – S3 Folder Sharing WordPress Country Selector WordPress Download Manager Pro + Addons WordPress Dynamic Keyword Insertion WordPress Easy Menu Editor WordPress Event Manager, Event Calendar and Booking Plugin WordPress Events Calendar Registration & Tickets WordPress Expire Passwords