“BU, sambel kok pedes nian hari ini?”
“Lha…, wong lagi ngomongin ekonomi, Nak… mana ado ekonomi yang gak pedes sekarang…” ia ya….!
Begitulah percakapan singkat klasik di dapur rumah bu Yanti, emak-emak PKK yang kalau masak, aromanya bisa bikin tetangga sebelah salah fokus waktu nyetrika. Tapi hari itu bukan cuma bawang yang digoreng, ide pun ikut digoreng.
Bahkan gara-gara Festival Rempah 2025 kemarin yang baru dibuka Gubernur Herman Deru di PTC Mall, emak-emak sekampung mendadak bahas ekspor jahe, harga kunyit, dan branding lada hitam.
“Coba pikir, Deru tu benar jugo,” kata Bu Yanti sambil ngulek sambel sampai uleknya mau patah. “Selama ini kita remehke dapur, padahal dari situlah ekonomi bisa ngebul”.
Kalau dipikir-pikir, memang betul juga ya…
Sebab, selama ini, kita sibuk bahas industri besar, pabrik baja, migas, nikel, padahal tiap rumah di Sumsel punya pabrik mini, dapur.
Di sanalah inovasi muncul tanpa proposal, tanpa tender, tanpa rapat koordinasi, cuma pakai intuisi, cinta, dan sedikit garam.
Tapi sayangnya, dapur sering dianggap cuma urusan “emak-emak”, padahal, di dapurlah masa depan itu bisa juga diolah.
Coba tengok, sambel terasi Bu Yanti….. kalau dikemas bagus, dikasih label “Sambel Sriwijaya Heritage”, lalu dipromosikan lewat TikTok, bisa laku ke luar negeri.
Itulah yang dimaksud “Jangan anggap dapur cuma tempat masak, di sanalah letak potensi ekspor”, coba bayangkan lagi, kalau cuma karena rempah, Sriwijaya dulu diserbu pedagang Arab, India, sampai Portugis.
Sekarang… bukannya mereka datang lagi beli, malah kita yang beli bumbu instan mereka di minimarket, ironi rasa kari!
Festival Rempah di PTC Mall itu hebohnya bukan main, sebab aromanya campur-campur kayak gado-gado bumbu.hehehe.. antara kayu manis, kopi, dan minyak angin (gara-gara ada bapak-bapak yang kelamaan berdiri). Tapi yang paling wangi tentu semangat para emak-emak PKK dari berbagai kabupaten.
Ada yang jual bubuk jahe sachet, ada yang jual rendang daun jeruk kemasan, ada pula yang pamer “teh serai low sugar for millennial”.
Kreatif memang dan keren.
Gubernur Sumsel terlihat semangat, sembari bilang begini…. rempah-rempah bukan cuma soal rasa, tapi juga identitas dan peluang ekonomi, bahkan Belanda sendiri dulu mencari inilah di Indonesia.
Nah, ini menarik bukan….?
Kaya rasa
Sebab kalau bicara identitas, Sumsel tuh memang kaya rasa, bukan cuma di lidah, tapi juga dalam sikap, bahkan pedasnya bak sambel geprek level 10…. getirnya kopi, dan manisnya gula aren… semua merepresentasikan kehidupan “wong kito” keras, tapi ngangenin.
Sebenarnya, ada filosofi menarik dari rempah yang bikin menarik, yaitu semakin keras ditumbuk, semakin keluar aromanya.
Begitu pula manusia Sumsel, semakin ditekan keadaan, semakin kreatif dia cari jalan. Cuma sayangnya, banyak yang belum sadar kalau potensi rempah itu bisa jadi ekonomi raksasa.
Sekarang ini, jahe kita dikirim mentah, diolah di luar negeri, lalu dibeli balik dalam bentuk “ginger latte”.
Harga naik 10 kali lipat, dan yang kaya malah bukan petaninya.
Oleh karena itu, Festival Rempah ini mestinya bukan cuma jadi ajang pameran, tapi juga ajang pencerahan, sebab yang dibutuhkan bukan cuma stand pamer, tapi standar ekonomi.
Jangan cuma pamer botol, tapi pikirkan rantai pasok, pengemasan, sertifikasi halal, sampai digital marketing.
Dan…jangan cuma jual wangi, tapi jual nilai tambah.
Maka, kadang kegiatan semacam festival ini cuman jadi ajang foto-foto, selfie bareng Gubernur, terus posting di Instagram #RempahKito #BanggaProdukLokal. Setelah tiga hari kemudian, stan ditutup, aroma rempah hilang, ekonomi balik lagi ke rasa hambar.
Sebenarnya gampang, kalau mau festival rempah ini gak jadi sekadar acara “wangi sebentar”. Pertama, harus ada follow up.
Misalnya, bikin pelatihan pengemasan dan digitalisasi produk UMKM tiap kabupaten.
Kedua, pemerintah bisa bantu riset tentang diversifikasi produk rempah, misalnya bikin parfum, sabun herbal, sampai minuman kesehatan dan Ketiga, PKK bisa jadi brand ambassador rempah lokal, kalau ada influencer emak-emak Sumsel yang review sambel lokal dengan gaya lucu, bisa viral bro!.
Oleh karena itu, kesimpulannya yaitu, hidup itu kayak sambel, kalau gak diulek, gak keluar rasanya. Kalau gak diuji, gak ada aromanya.
Festival Rempah 2025 ini mestinya jadi ulek-an pertama buat ekonomi kerakyatan Sumsel bukan hanya untuk gaya-gayaan di mall, tapi untuk nyadarkan bahwa potensi ekonomi itu sering tersembunyi di dapur.
Dapur bukan cuma tempat masak tapi melainkan untuk tempat mimpi diracik. Dan dari situlah bisa lahir pengusaha, inovator, dan penopang ekonomi keluarga.
Kalau emak-emak bisa jual sambel botolan ke luar negeri, kenapa anak muda gak bisa bikin startup bumbu digital?, siapa tahu, nanti kita punya aplikasi “RempahGo”, pesan cabe rawit premium bisa diantar pake drone.
Jadi, aroma bawang dan kunyit bisa kalahkan aroma dolar, asal dikelola dengan cerdas, pasalnya rempah itu bukan sekadar urusan dapur, tapi soal masa depan ekonomi. Kita cuma perlu satu hal: keseriusan tanpa kehilangan humor, seperti kata pepatah lama. “Kalau sudah bisa menumis masa depan, jangan biarkan cita-cita gosong di wajan birokrasi”.
Dan… buatlah semua pejabat yang hadir di Festival Rempah kemarin, semoga pulangnya bukan cuma bawa goodie bag, tapi juga good idea, karena kalau cuma nyium aroma rempah tapi gak bikin kebijakan, itu namanya cuma jadi penonton di dapur sejarah.
Mari kita rawat dapur, karena di sanalah masa depan ekonomi Sumsel sedang menunggu untuk ditumis dengan ide-ide segar, ingat jangan remehkan emak-emak PKK. Mereka bukan cuma ahli masak, tapi juga ahli meracik masa depan bangsa dengan spatula, bukan wacana!.[***]