Haji & Umroh

Sujud Terakhir di Tanah Haram, Peluk Pertama di Tanah Air

ist

Sumselterkini.co.id, – Suasana di Asrama Haji Palembang pagi kemarin seperti pasar kaget yang disiram air zam-zam, tangis haru, tawa riang, peluk cium, dan sandal jepit yang entah milik siapa berserakan jadi satu dalam adukan rindu yang tak bisa ditakar pakai timbangan digital.

Sebanyak 368 jamaah haji dari Kabupaten OKU Timur, yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 1 Debarkasi Palembang, akhirnya menginjak tanah air, tanah gatal karena sejak tadi mereka duduk sempit di pesawat setelah menunaikan ibadah haji yang bukan cuma ibadah, tapi juga perjalanan batin, logistik, dan kadang perjuangan rebutan lift di hotel.

Yang menyambut mereka bukan siapa-siapa, tapi orang yang cukup siapa untuk berdiri di podium Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, Edward Candra, ia datang mewakili Gubernur Herman Deru, yang katanya sedang dinas ke luar kota, entah kota nyata atau kota yang hanya muncul saat ditanya wartawan.

Dengan mikrofon di tangan dan peci miring penuh wibawa, Edward menyambut para tamu Allah seperti menyambut pahlawan dari perang spiritual. “Selamat datang kembali ke Tanah Air. Selamat kembali ke rumah masing-masing. Insya Allah bapak/ibu pulang membawa predikat haji mabrur,” ujarnya, sambil melirik kiri-kanan memastikan tidak ada jamaah yang masih jet lag dan mengira dia pemandu tur.

Di tengah barisan koper-koper besar bertuliskan nama-nama desa, ada Ibu Rasimah (61), jamaah asal Belitang. Wajahnya cerah meski sempat “nyasar” di bandara Jeddah karena mengikuti rombongan negara lain gara-gara tasnya mirip. “Saya kira itu rombongan dari OKU juga, lha kok pas azan mereka sujud ke arah lain,” tuturnya sambil tertawa, memperlihatkan gigi palsu yang baru dipasang sebelum berangkat.

Ada pula Pak Darlan (68), pensiunan guru yang bercerita bagaimana ia sempat menjadi “imam dadakan” di Mekkah karena suaranya lantang. “Padahal niatnya cuma ngingetin kawan wudu, eh malah dikira ustaz,” ujarnya dengan tawa yang khas, seperti suara saringan teh bergetar.

Haji bukan sekadar ibadah, ia adalah pertemuan antara niat, logistik, stamina, dan kadang kebetulan. Ada yang bawa lima pasang kaus kaki tapi lupa bawa obat masuk angin. Ada yang sibuk ngitung pahala, tapi lupa bawa celana dalam cadangan.

Namun begitulah, “hidup itu seperti naik haji banyak tantangan, tapi kalau niat lurus, Insya Allah sampai”.

Sekda Edward dalam sambutannya tak hanya menyampaikan ucapan selamat datang, tapi juga menaruh harapan bahwa para jamaah haji ini akan menjadi agen kebaikan di lingkungannya. “Pulang bukan cuma bawa air zam-zam dan sajadah dari toko dekat Masjidil Haram, tapi juga bawa akhlak yang harum dan amal yang terus mengalir,” ucapnya.

Di belakang panggung sambutan, panitia sibuk membagikan konsumsi, mengangkat koper, dan mencari sandal yang tiba-tiba tidak berjodoh lagi dengan pasangannya. Memang benar kata pepatah.”Pergi haji itu membawa keberkahan, tapi pulang dari haji harus siap kehilangan sandal”.

Fenomena menarik lainnya adalah banyaknya jamaah yang pulang membawa kenangan dan niat baru. Ada yang ingin bangun musala, ada yang ingin jadi lebih sabar menghadapi menantu, dan ada juga yang berniat tidak marah-marah lagi di pasar.

Bagi masyarakat OKU Timur, ini bukan sekadar kepulangan. Ini adalah momen syahdu seperti sawah yang baru panen  hasilnya tak hanya padi, tapi juga harapan baru, begitulah haji ibadah yang berat di awal, ringan di hati, dan selalu bikin rindu datang lagi.

Sambutan Sekda Sumsel ini bukan cuma formalitas, namun  pengakuan bahwa jamaah haji bukan hanya kembali dengan koper dan kurma, tapi dengan hati yang lebih lapang dan kepala yang (setidaknya sementara) lebih dingin.

Dan kalaupun nanti ada yang lupa niatnya di bandara atau salat subuhnya bolong karena jet lag, ya itu urusan pribadi. Yang penting, semangat dan berkahnya menyebar, seperti aroma rendang di pagi lebaran. Selamat datang, para tamu Allah. Tanah air menyambutmu, dengan segala kerinduan dan sandal jepit cadangan.

Dari balik senyum yang merekah, dari sandal yang hilang sebelah, dan dari air zam-zam yang kini dimasukkan ke dalam teko di meja tamu, kita belajar bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik, tapi perjalanan hati.

Orang-orang biasa dari desa, dari pelosok sawah dan lorong gang, kini pulang dengan gelar yang mulia haji dan hajjah. Tapi lebih dari itu, mereka pulang membawa perubahan kecil lebih sabar, lebih ramah, lebih ringan tangan bantu tetangga, meski tetap ngopi pagi sambil ngerumpi.

Di tengah gegap gempita penyambutan, peluk-peluk haru, dan aroma rendang bekal dari rumah, kita melihat wajah Sumsel yang penuh berkah, karena ketika yang pulang dari haji bukan cuma membawa sajadah, tapi juga semangat memperbaiki diri dan lingkungan, maka sesungguhnya kampung pun ikut naik haji secara spiritual.

Kata orang bijak, “Kalau tak sanggup ke Tanah Suci, cukup sambut yang pulang dengan hati suci karena doa haji mabrur itu, kadang mampir lewat senyum dan salam yang tulus”. Jadi, sambutlah mereka. Jangan cuma tanya, Oleh-olehnya mana? tapi tanya juga, doanya udah sampai ke kita, belum?”.[***]

Terpopuler

To Top