Features

Wali Kota Palembang Ungkap Pesan Terakhir Haji Halim

ist

TAK semua kehilangan perlu suara keras, ada duka yang justru terasa berat karena terlalu sunyi, seperti di Rumah duka itu menjadi saksi, bagaimana orang-orang datang dengan kepala sedikit menunduk, seolah sepakat hari ini bukan soal siapa yang hadir, tapi siapa yang telah pergi.

Wali Kota Palembang, H. Ratu Dewa, hadir langsung melayat ke kediaman almarhum Kms. H. Abdul Halim Ali atau Haji Halim. Ia duduk dekat jenazah, menunduk, membaca Yasin dan tahlil bersama keluarga. Tidak ada sambutan resmi, tidak ada panggung. Dalam suasana seperti itu, kehadiran sudah lebih dari cukup.

Di hadapan keluarga dan masyarakat, Ratu Dewa menyampaikan duka cita mendalam. Ia menyebut Haji Halim sebagai sosok yang ia anggap orang tua sekaligus teladan. Bukan sekadar tokoh masyarakat, melainkan figur yang kontribusinya dirasakan nyata oleh banyak orang.

“Beliau sangat peduli. Kontribusinya nyata, baik dalam bidang sosial maupun syiar agama Islam,” ujar Ratu Dewa, kamis ini.

Kalimatnya singkat, tapi berat, karena kepedulian memang tidak selalu butuh narasi panjang.

Kenangan itu kemudian membawa Ratu Dewa pada pertemuan terakhirnya dengan almarhum. Beberapa waktu sebelum wafat, ia sempat membesuk Haji Halim saat dirawat.

Pertemuan itu singkat, tanpa petuah panjang. Namun ada satu pesan yang terus ia ingat Palembang harus tetap dijaga sebagai kota yang religius, kota yang memegang nilai dan tidak mudah goyah oleh perubahan zaman.

Pesan itu tidak pernah disebut sebagai wasiat. Tidak tertulis, tidak pula diumumkan. Tapi justru karena itulah ia kuat. Ia hidup sebagai nilai yang diwariskan, bukan sebagai kalimat yang dipajang.

Haji Halim seolah mengajarkan, hidup bukan soal berapa lama seseorang ada, melainkan seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan. Banyak orang sibuk mengejar umur panjang, lupa memastikan hidupnya berarti.

Almarhum memilih jalan sebaliknya, bekerja dalam diam, meninggalkan jejak dalam tindakan.

Sebagai tokoh masyarakat, Haji Halim menjadi cermin yang jujur. Ia tidak sempurna, tapi konsisten. Tidak selalu tampil di depan, tapi hadir ketika dibutuhkan. Di tengah zaman yang gemar pamer peran, ia justru dikenang karena kesederhanaannya.

Ratu Dewa mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan almarhum agar seluruh amal ibadahnya diterima dan ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT. Ia juga menyampaikan doa bagi keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan ketabahan.

Kepergian Haji Halim memang meninggalkan ruang kosong. Namun di saat yang sama, ia juga meninggalkan penanda. Bahwa kota ini tidak hanya dibangun oleh proyek dan bangunan, tetapi oleh nilai yang dijaga orang-orangnya.

Mungkin, itulah pesan terakhir yang paling terasa. Bukan pesan yang meminta dikenang, melainkan diteruskan. Karena orang baik tidak benar-benar pergi.

Ia hanya lebih dulu berhenti, meninggalkan kita dengan satu tanggung jawab bersama, menjaga nilai yang telah ia titipkan dan dalam setiap kepergian orang baik, selalu ada tugas diam-diam yang ditinggalkan, yaitu  meneruskan. (***)

To Top