Features

Shalat Sambil Hemat Listrik? Masjid Ini Bisa!

ist

MASJID Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo di Palembang kini bukan hanya pusat ibadah, tapi juga pionir energi bersih. Dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18,2 kWp yang baru saja diresmikan, masjid ini membuktikan shalat dan hemat listrik bisa berjalan beriringan.

Coba pikirkan, misalnya saja jamaah yang datang untuk shalat, AC tetap dingin, lampu terang, kipas angin muter, bahkan CCTV nyala tanpa satu rupiah pun keluar ekstra dari kantong kas masjid.

Bahkan hemat listrik diperkirakan mencapai Rp12 juta hingga Rp24 juta per tahun. Mantap kan? Bisa buat beli karpet baru, jajanan buka puasa, atau cukup untuk tabungan amal jamaah. Matahari bekerja lembur tapi tidak minta bonus, dan semua senang jamaah adem, dompet aman, bumi tersenyum.

Wali Kota Palembang, Drs. Ratu Dewa, M.Si, menegaskan, “Satu masjid mungkin kecil dampaknya, tetapi seratus masjid adalah pembangkit kota.”

Kalau diterjemahkan ala bahasa sehari-hari satu masjid nyala sedikit, seratus masjid nyala banyak. Efeknya langsung terasa, bukan hanya di tagihan listrik tapi juga di alam sekitar.

Tapi PLTS Masjid Agung bukan cuma soal menghemat uang. Masjid ini memiliki smber energi bersih. Anak-anak yang belajar ngaji di sini bukan hanya belajar huruf hijaiyah, tapi juga belajar  sinar matahari bisa bikin lampu menyala. Shalat tetap khusyuk, bumi tetap aman, jamaah pun tersenyum.

Perumda Tirta Musi Palembang ikut mendukung program ini lewat TJSL. Biasanya urusan air minum, kali ini ikut “ngurus listrik matahari.” Lengkap sudah, air ada, listrik ada, niat baik ada. Tinggal masyarakatnya mau ikut atau tetap santai bilang, “Ah, listrik konvensional juga bisa –lah.”

Secara teknis, PLTS yang dipasang punya kapasitas 18,2 kWp, baterai 30 kWh, dan inverter 18 kW. Produksi listriknya lumayan Desember 2025 tercatat 1.137,2 kWh, Januari 2026 sudah 436,5 kWh.

Energi ini dipakai untuk lampu, kipas angin, AC, speaker, CCTV, dan televisi LED. Jadi jamaah tetap adem, listrik tetap hijau, hati tetap senang.

Menariknya, masjid ini sekarang bisa dibilang punya status baru sebagai pusat ibadah sekaligus contoh  “energi hijau.” Jamaah belajar shalat sambil belajar tentang energi bersih.

Efeknya? Anak-anak sadar lingkungan, jamaah dewasa tersadar, imam tersenyum dan  semua bisa bahagia.

Oleh sebab itu, Masjid Agung jadi simbol transformasi energi bersih di Palembang. Bukan sekadar soal teknologi, tapi juga simbol sosial dan spiritual. Satu masjid bisa memulai, dan efek domino-nya bisa menjangkau ratusan fasilitas publik lain. Kota terang, dompet aman, bumi tersenyum, semua hijau, semua bahagia.

Jadi saat ini Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin bukan hanya tempat sujud, tapi contoh nyata aksi kecil berdampak besar. Dari satu atap, satu panel surya, satu niat baik bisa lahir inspirasi ribuan orang untuk peduli bumi.

Seperti kata pepatah  “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Mulai dari satu masjid saja bisa membawa perubahan besar. Dan jangan menunggu sempurna untuk memulai kebaikan, karena yang kecil sekalipun jika konsisten akan berdampak besar.

Masjid ini membuktikan shalat bisa khusyuk, bumi bisa hijau, dompet tetap aman, mulai dari hal kecil, hasilnya bisa luar biasa. (***)

To Top