Features

Palembang Mendadak ‘Error’ Zaman, Ketika Jeep Tua Kalahkan Algoritma TikTok

ist

Saat jalan protokol lebih viral dari beranda media sosial (Jeep Willys vs Algoritma TikTok).

DI tengah deru Jeep Willys yang suaranya seperti orang tua batuk, tapi keras kepala, dan sepeda ontel yang berdecit seolah mengeluh karena masih diajak keliling kota di usia senja, kepala mendadak terasa seperti diputar radio tua.

Bukan radio Bluetooth, bukan Spotify Premium, tapi seolah radio jadul mendesis kenangan. Tanpa aba-aba, lirik Koes Plus muncul sendiri di benakku yang saat itu kebetulan ada di Sabtu pagi Jalan Protokol tempat kendaraan ‘barang antik’  kompoi, terdengar suaranya pas seperti disetel alam, sepenggal lirik lagu yang ku ingat itu, “Hatiku gembira punya mobil tua, peninggalan jaman dulu kala.

Mobil tua, mobil tua, modelnya lucu dan mengagumkan…..” Lucu, juga iya, sangat mengagumkan, jelas, bukan karena bodinya kinclong, tapi karena setiap goresannya seperti menyimpan cerita yang tidak bisa diedit dan tidak bisa di-skip.

Jeep-jeep tua itu melaju pelan, tidak tergesa, tidak terburu-buru mengejar apa pun. Seolah mereka ingin mengajari satu kota hidup tidak selalu harus cepat asal bisa sampai. Tidak ada yang saling menyalip, tidak ada yang klakson emosi, apalagi pamer kecepatan.

Setiap putaran rodanya membawa potongan masa lalu, tentang zaman ketika kendaraan bukan simbol gaya hidup, tapi alat perjuangan. Tentang masa ketika orang tidak sibuk memperbaiki angle kamera, melainkan memperbaiki strategi bertahan hidup.

Yang lebih menarik lagi, pagi akhir pekan lalu itu, warga Palembang justru menikmatinya, biasanya suara knalpot sedikit saja bisa memicu status Facebook bernada keluhan panjang, tapi knalpot Jeep Willys ini malah disambut senyum.

Bahkan, anak-anak melongo, orang dewasa bengong, pembeli berhenti menawar kepada pedagang. Bahkan lalu lintas seperti ikut maklum, seolah satu kota sepakat, hari ini tidak perlu buru-buru, hari itu waktunya untuk mengingat sejarah.

Di antara iring-iringan kendaraan klasik itu, sepeda ontel ikut mengayuh pelan, suaranya kriet-kriet seperti sedang mengeluh, tapi tetap setia melaju. Anak-anak mungkin bertanya dalam hatinya, ini cosplay atau orang beneran? Tapi, justru di situlah asyiknya.

Apalagi, sejarah itu  biasanya cuma muncul di buku pelajaran dan soal ujian, hari itu lewat di depan mata tanpa bisa di-skip, tanpa ring light, tanpa filter estetik.

Ketika iring-iringan itu terus bergerak, suasana berubah, seperti ajakan kolektif yang ringan tapi dalam “Mari-mari jangan ketinggalan, ramai-ramai keliling kota.”

Palembang benar-benar menurutku, kota diklaim ‘kota tua’ ini berkeliling bukan untuk pamer kendaraan, bukan cari konten, apalagi mengejar viral, keliling kota,  bisa jadi versi refleksi untuk menyusuri jalan sambil mengingat  sebelum ada jalan mulus, lampu lalu lintas, dan gedung tinggi, pernah ada masa ketika kota ini dipertahankan dengan nyali, bukan dengan kata-kata manis Ironisnya, sejarah hari itu datang tanpa WiFi tapi tetap viral dan  sejarah juga tidak ada live streaming resmi, tidak ada drone, tidak ada caption bombastis.

Namun, semua mata tertuju, semua ponsel terangkat. Satu kota berhenti scrolling, di zaman ketika segalanya harus online, justru yang paling menyentuh adalah yang datang secara offline. Asap knalpot memang bikin mata sedikit pedih, tapi setidaknya itu asap jujur bukan asap pencitraan, bukan pula asap janji.

Di tengah suasana itu, Wali Kota Palembang ikut larut, bukan larut di kolom komentar, tapi larut di masa lalu, ia mengenakan seragam pejuang, duduk di mobil tua, dan melintasi jalan protokol. Biasanya pejabat naik podium dan bicara masa depan.

Kali ini, ia naik jeep dan mengajak menoleh ke belakang, pesannya singkat, tapi terasa lebih berat dari pidato panjang, kemerdekaan dibayar mahal, dan tugas hari ini adalah menjaganya.

Bukan mundur

Pemandangan itu terasa janggal tapi pas, di tengah zaman serba cepat, seorang pemimpin justru memilih melambat. Seolah ingin bilang  tidak semua kemajuan harus melupakan jejak. Bahwa menoleh ke belakang itu bukan berarti mundur, sebaliknya untuk  memastikan langkah ke depan tidak salah arah.

Oleh karena itu, di sela-sela deru mesin tua itu, ada rasa gembira yang aneh, bukan gembira karena hiburan, tapi gembira karena kesadaran,  yang kita sebut “kuno.”

Namun, ternyata tidak pernah benar-benar usang, malah sebaliknya  kitalah yang sering terlalu sibuk mengejar hal baru sampai lupa merawat ingatan lama, kita sibuk mengejar sinyal, baterai, dan validasi digital, sampai lupa ada sejarah yang tidak pernah minta diunggah, tapi jasanya kita nikmati setiap hari.

“Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam” ibarat cermin besar yang diletakkan di tengah kota, lantas cermin itu  memantulkan pertanyaan sederhana, dan menggelitik, bunyinya sejauh apa kita sudah mengisi kemerdekaan yang dulu diperjuangkan tanpa kamera, tanpa likes, dan tanpa algoritma.? dan, apakah kemerdekaan hari ini hanya kita nikmati, atau benar-benar kita rawat?

Kata orang tua dulu, “Jangan sampai karena mengejar bayangan, kita lupa matahari.” Sabtu itu, Palembang memilih mataharinya, bukan layar ponsel, bukan notifikasi, tapi ingatan kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal, serta tentang kota yang pernah berdiri gagah mempertahankan diri, dan kini berdiri di persimpangan zaman.

Jeep Willys itu mungkin pelan, berisik, dan boros bensin, sepeda ontel itu mungkin tua dan berderit, tapi keduanya mengalahkan algoritma TikTok dengan satu cara sederhana, yaitu membawa makna, mereka tidak mengejar perhatian, tapi mendapatkannya, tidak memaksa viral, tapi masih dikenang.

Acara kompoi mobil tua  memang tidak sekadar memperingati sejarah, kota ini sedang mengingatkan dirinya sendiri dan kita semua, bahwa kemerdekaan bukan konten musiman, dan bukan sekadar upacara, bukan sekadar parade, bukan pula sekadar cerita di buku. Ia adalah tanggung jawab yang harus dihidupi, bahkan ketika kamera sudah dimatikan dan sorak-sorai reda.

Mungkin benar kata lirik lagu Koesplus yang ku ingat-ingat di pagi itu, “hatiku gembira” bukan karena mobil tuanya itu lucu, namun karena kita diingatkan  tidak semua yang tua harus ditinggalkan.

Sebagian justru perlu sering-sering diajak jalan, supaya kita tidak lupa arah pulang, dan tidak salah mengira  kemajuan selalu berarti melaju kencang, padahal kadang cukup melambat, mendengar, lalu mengingat.(***)

Terpopuler

To Top