DI lokasi pengungsian, ada satu suara yang paling dirindukan setelah bencana,yaitu suara anak tertawa. Bukan suara genset, bukan pengumuman bantuan logistik, apalagi suara sirene. Ya.. tawa anak adalah tanda hidup, meski sempat jungkir balik, belum sepenuhnya menyerah.
Masalahnya, setelah bencana, apakah tawa itu sering ikut hanyut. Jawabnya yang tersisa cuma mata kosong, anak-anak yang tiba-tiba lebih pendiam dari biasanya, dan orang dewasa yang masih sibuk bertanya, “Yang penting kan selamat?” Ya, selamat, tapi kata selamat itu, ternyata belum tentu selesai.
Dari kisah itu, psikolog memiliki peran utama yang bisa bikin anak-anak tertawa lagi, psikolog hadir ke pengungsian bukan dengan jas putih, dan bukan juga dengan daftar pertanyaan rumit, apalagi dengan wajah serius ala ujian skripsi. Mereka datang dengan cara yang tak biasa, untuk mengajak anak-anak bercerita, bermain, menggambar, dan ikut tertawa.
Kalau ada yang mengira psikolog ke pengungsian itu kerjanya duduk berhadap-hadapan sambil bertanya, “Kamu sedih ya?,” besar kemungkinan ia belum pernah melihat langsung praktiknya. Di lapangan, psikolog lebih sering jongkok di lantai, ikut main, bahkan kalah di permainan anak-anak. Kadang mereka bukan terlihat seperti tenaga kesehatan, tapi kayak kakak sepupu yang datang bawa cerita.
Anak-anak korban bencana sering kali tidak tahu bagaimana cara menjelaskan rasa takutnya. Mereka tidak punya kosakata untuk berkata, “Saya trauma kehilangan rumah” yang mereka punya hanyalah perilaku mendadak takut suara keras, susah tidur, gampang menangis, atau justru tertawa berlebihan tapi kosong. Trauma, pada anak-anak, tidaklah selalu datang sambil menangis, kadang justru datang sambil diam.
Kementerian Kesehatan menyadari satu hal penting dalam bencana tidak cuma melukai badan, tapi juga mengacak-acak batin. Oleh karena itu, setiap pengiriman relawan kesehatan disertai puluhan psikolog klinis. Mereka bertugas melakukan pendampingan psikososial, terutama bagi anak-anak, agar luka yang tidak kelihatan ini tidak tumbuh menjadi masalah panjang.
Logikanya begini luka fisik bisa dijahit, tulang yang patah bisa digips, namun luka di kepala dan hati, kalau dibiarkan, bisa jadi bekas seumur hidup. Trauma yang tidak ditangani itu seperti luka kecil yang kelihatan sepele, tapi dibiarkan kotor, dan pelan-pelan infeksi, itu ibaratnya.
Pendekatan psikolog di pengungsian ini juga mematahkan mitos lama, kesehatan jiwa itu urusan belakangan. Selama ini, kita sering berpikir, “Nanti saja urusan mental, yang penting perut kenyang dulu.” itu salah besar padahal, anak yang perutnya kenyang tapi kepalanya penuh ketakutan, tetap tidak bisa tumbuh dengan utuh.
Indikator pemulihan
Yang menarik, cara para psikolog ini sering kali sederhana, bahkan kelihatan sepele. Main tebak gambar, mendongeng dan bernyanyi. Tapi dari situ, anak-anak mulai merasa aman lagi. Mulai percaya dunia tidak sepenuhnya runtuh bahkan mereka percaya masih ada orang dewasa yang mau duduk sejajar dengan mereka, bukan cuma memberi perintah dari atas.
Di pengungsian, tawa anak bukan sekadar hiburan. Ia adalah indikator pemulihan, sebab ketika anak mulai berani tertawa, artinya ia mulai merasa aman. Ketika ia berani bermain, artinya ia mulai percaya. Dan ketika ia percaya, pemulihan bisa dimulai.
Upaya ini tentu tidak berdiri sendiri. Pemulihan kesehatan jiwa dilakukan beriringan dengan layanan kesehatan fisik dan dukungan lintas sektor. Bahkan tokoh publik dilibatkan, bukan sekadar untuk foto, tapi untuk menciptakan suasana positif. Karena suasana pengungsian yang muram berkepanjangan itu seperti hujan tanpa jeda melelahkan dan menggerogoti.
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI dalam keterangan rilis dilaman resmi kemkes menjelaskan yang dibereskan bukan hanya fisik, tapi juga jiwa. Pernyataan ini penting, bukan karena terdengar indah, tapi karena menggeser cara pandang kita soal pemulihan bencana. Bahwa bangkit itu bukan cuma soal rumah berdiri lagi, tapi juga soal pikiran yang tidak terus-menerus dihantui rasa takut.
Kita sering lupa, anak-anak hari ini adalah orang dewasa di masa depan. Trauma yang mereka simpan sekarang bisa muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk kecemasan, kemarahan, atau rasa tidak aman yang sulit dijelaskan. Maka ketika psikolog datang ke pengungsian dan hanya mengajak anak tertawa, sesungguhnya mereka sedang menyelamatkan masa depan.
Bencana memang merusak banyak hal, seperti rumah, jalan, dan rutinitas hidup, namun yang paling berbahaya adalah jika bencana juga merusak rasa aman di kepala anak-anak, oleh sebab itu langkah Kemenkes menghadirkan psikolog ke pengungsian bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan.
Ketika anak-anak bisa tertawa lagi, itu bukan tanda mereka lupa bencana. Itu tanda mereka mulai berdamai dengannya, kita patut mengapresiasi mereka yang diam-diam sibuk membangun ulang hati, sebab, bangsa yang sehat bukan hanya yang warganya selamat, tapi yang jiwanya juga pulih. Terkadang juga, pemulihan itu dimulai dari hal paling sederhana yaitu keceriahan seorang anak yang kembali bisa tertawa. (***)