SAAT dunia fashion yang lari kencang kayak anak balap karung habis lomba 17-an, batik muncul seperti pelari senior yang rambutnya ubanan tapi tetap gagah, sementara tren fast fashion datang silih berganti tiap dua minggu, batik sudah wara-wiri sejak zaman nenek moyang kita masih barter ikan sama garam, bahkan ribuan tahun lewat, ia tetap elegan dan punya makna, bukan sekadar fashion, tapi peradaban.
Sementara batik? dari zaman nenek moyang kita masih barter ikan sama garam, ia udah wara-wiri juga di tubuh para bangsawan, ribuan tahun lewat, dia tetap elegan, tetap punya makna. Nggak perlu gonta-ganti tren tiap musim, karena dari awal dia bukan fashion, tapi peradaban.
Hari ini, batik nggak cuma dipakai buat kondangan atau upacara 17 Agustus, ia sudah naik kelas, jadi koleksi desainer dunia, nongol di Paris Fashion Week, dan bahkan dilirik seleb-seleb Hollywood. Tapi lucunya, di tanah air sendiri, kadang batik baru dipakai kalau ada surat edaran “Hari Batik Nasional”, atau hari jumat dan acara resepsi pernikahan dan lainnya.
Padahal setiap tetes malam dan goresan canting itu punya cerita tentang filosofi, doa, dan nilai hidup, namun di tengah banjir baju impor harga dua puluh ribuan, batik sering kalah pamor sama kaos oversize yang tulisannya ‘VINTAGE’ padahal baru dicetak kemarin sore.
Fast fashion boleh punya stok ribuan model, tapi batik punya ribuan makna, ia hidup bukan dari desain yang di-scroll, tapi dari cerita yang diingat, dari Parang yang melambangkan kekuatan, sampai Mega Mendung yang ngajarin sabar meski lagi mendung hati dan dompet.
Kalau baju fast fashion bisa sobek dalam tiga kali cuci, batik bisa diwariskan tiga generasi, ia saksi hidup perjalanan bangsa, dari zaman kerajaan sampai era digital, dari kain yang dicanting manual sampai motif yang di-upload ke marketplace.
Nah, di sinilah PR besar kita, karena dunia boleh sibuk bikin tren baru, tapi Indonesia harus sibuk bikin cerita baru tentang batik, kayak yang dibilang Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, penguatan branding jadi kunci supaya batik makin dikenal dan diminati dunia.
Branding itu bukan cuma logo,katanya, tapi identitas, kalau negara lain jual mode lewat nama desainer, kita jual lewat jiwa budaya, karena batik bukan sekadar motif, tapi cermin dari cara bangsa ini memaknai hidup.
Oleh karena itu, lewat acara Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik (SNIKB) VII 2025, Kemenperin mendorong supaya batik nggak cuma jadi kebanggaan lokal, tapi juga pemain global. Supaya batik nggak cuma dibeli, tapi juga dipahami, sebab dunia sudah mulai sadar bahwa pakaian tanpa makna cuma kain, tapi batik adalah kisah.
Kalau dunia fashion terus berlari mengejar yang baru, biarlah batik tetap berjalan elegan dengan langkah penuh makna. Ia mungkin tua, tapi ia bukan fosil, ia legenda yang masih gagah berdiri di tengah arus tren yang berubah tiap checkout Shopee.
Sejatinya, yang bikin batik istimewa bukan cuma motifnya, tapi niat di balik tiap goresannya, ia bukan sekadar kain untuk menutup badan, tapi kisah untuk membuka mata, bahkan selama bangsa ini masih mau menjaga kisah itu, batik akan tetap jadi juara di catwalk mana pun, meski lawannya datang dari butik yang namanya susah dieja tapi gampang diskon di akhir musim.[***]