CSR

Ulang Tahun Tanpa Pesta, Pusri Rayakan Usia dengan Muhasabah

ist

1.266 Anak Yatim Duduk di Barisan Depan, Pusri Memilih Berbagi dan Berdoa

BALLroom PT Pusri Palembang, akhir pekan lalu terasa berbeda, bukan karena dekorasi yang mencolok atau musik pembuka yang keras, melainkan karena kursi-kursi bagian depan lebih dulu diisi oleh anak-anak yatim. Sebanyak 1.266 anak dari 31 panti asuhan dan 8 kelurahan Ring 1 perusahaan duduk rapi, sebagian menenteng goodie bag, sebagian lagi menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu.

Di ruangan yang biasanya menjadi tempat rapat serius dan presentasi penuh angka, hari itu suasananya lebih tenang. Tidak ada pesta besar, tidak ada perayaan meriah, PT Pusri Palembang memilih memperingati usia ke-66 dengan muhasabah dan doa bersama, sebuah jeda yang jarang diambil di tengah ritme industri yang cenderung tergesa.

Orang Palembang sering nyeletuk, “Kalu sudem jauh melangkah itu, jangan lupo nyingok  ke belakang.” Barangkali itulah yang sedang dilakukan Pusri.

Anak-anak yang hadir berasal dari berbagai latar, ada yang tampak kikuk, ada yang sibuk mengatur duduk, ada pula yang langsung akrab dengan teman di sebelahnya.

Bagi mereka, acara ini mungkin terasa seperti kegiatan biasa, namun bagi perusahaan, kehadiran mereka membawa pesan penting bahwa perjalanan panjang Pusri tidak pernah benar-benar sendiri.

Dalam kegiatan ini, Pusri menyalurkan bantuan berupa paket perlengkapan alat tulis, uang santunan, serta uang pembinaan bagi panti asuhan. Tidak mewah, tidak berlebihan, tapi cukup, seperti pepatah lama, “Sedikit tapi ingat, lebih baik dari banyak tapi lupa.”

Rangkaian acara dilanjutkan dengan ceramah agama dan doa bersama yang dipimpin  Ustadz KMS M. Ali. Tanpa panggung megah, tanpa retorika berlebihan, doa menjadi pusat acara.

Tema besar HUT ke-66 Pusri, yaitu “Growing Beyond Limits,” biasanya terdengar sebagai bahasa korporasi. Namun dalam konteks doa bersama ini, maknanya terasa lebih membumi.

Bahkan melampaui batas, bukan hanya soal mesin baru atau target produksi. Kadang, melampaui batas berarti mengakui tidak semua hal bisa dikontrol manusia. Ada bagian yang tetap harus dititipkan pada Yang Maha Mengatur.

Direktur Utama PT Pusri Palembang, Maryono, menyampaikan  doa dan dukungan masyarakat memiliki arti penting bagi keberlanjutan perusahaan, termasuk dalam pelaksanaan proyek strategis.

“Insya Allah pembangunan Pabrik Pusri IIIB dapat berjalan lancar sesuai target. Kami mohon doa dan dukungan agar pembangunan tersebut membawa berkah dan manfaat, khususnya bagi masyarakat di sekitar perusahaan,” ujar Maryono.

Ia menegaskan, pembangunan Pusri IIIB menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat kapasitas produksi pupuk nasional guna menopang sektor pertanian dan agroindustri.

Sisikan ruang

Sebagai anggota PT Pupuk Indonesia (Persero), Pusri memikul tanggung jawab besar dalam menjaga pasokan pupuk nasional. Target produksi, distribusi, dan efisiensi menjadi menu harian. Namun di sela itu, perusahaan ini tetap menyisihkan ruang untuk kegiatan sosial.

Muhasabah dan doa bersama bukan sekadar agenda rutin TJSL, melainkan pengingat keberlanjutan perusahaan juga bertumpu pada hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar.

Orang Palembang bilang, “usaha boleh kencang, tapi hati jangan ketinggalan”

Oleh sebab itu, di usianya ke- 66 tahun, Pusri memilih cara peringatan yang sederhana. Tidak gegap gempita, tidak penuh sorotan. Yang ada hanya anak-anak yatim, doa bersama, dan harapan agar perjalanan ke depan tetap diberi kelancaran.

Di tengah pembangunan pabrik baru dan tuntutan industri, Pusri seolah mengirim pesan pelan-pelan bertumbuh melampaui batas bukan berarti meninggalkan akar.

Sebab pada akhirnya, umur panjang sebuah perusahaan bukan hanya soal seberapa besar ia berdiri, tetapi seberapa sering ia ingat untuk berbagi dan menunduk.(***)

Terpopuler

To Top