Setelah Karhutla Dijinakkan, Palembang Bersiap Hadapi Ancaman Musim Hujan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi / one
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BEBERAPA bulan terakhir, Pemerintah Kota Palembang disibukkan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Kabut asap yang sempat menyelimuti beberapa kawasan menjadi pekerjaan tersendiri bagi pemerintah. Mulai dari upaya penanganan kebakaran, pemantauan titik api, hingga mengantisipasi dampak asap terhadap aktivitas masyarakat. Kerja masif dan berjibaku dalam penangangan karhutla telah dibuktikan.
Kini, seiring mulai berkurangnya kabut asap, persoalan yang dihadapi Kota Palembang perlahan bergeser. Hujan mulai kembali mengguyur. Bahkan dalam beberapa kesempatan turun dengan intensitas cukup deras. Artinya, setelah berjibaku dengan urusan karhutla, pemerintah kota kini kembali dihadapkan pada pekerjaan lain yang tak kalah membutuhkan perhatian, yakni kesiapan menghadapi musim penghujan.
Pergantian musim ini tak hanya perubahan dari cuaca panas menjadi hujan. Ada sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi, mulai dari genangan air, banjir, saluran drainase yang tidak berfungsi optimal, hingga ancaman pohon tumbang akibat angin kencang.
Gambaran tersebut terlihat pada Senin (2/11/2026) siang. Sekitar pukul 13.30 WIB, hujan mengguyur Kota Palembang. Di kawasan Kecamatan Kalidoni, hujan terlihat cukup deras, disertai angin kencang dan berlangsung dalam durasi yang relatif lama.
Di lingkungan Perumahan Pesona Harapan Jaya, Jalan Azhari, RT 50, Kalidoni, pepohonan karet dan akasia yang tumbuh di lahan terbuka dekat permukiman tampak bergoyang kuat diterpa angin. Sementara itu, pohon pisang yang berada di sisi jalan utama samping rumah warga dilaporkan tumbang.
Kejadian tersebut mungkin terlihat sederhana dan belum tentu menimbulkan dampak besar. Namun, ada hal yang patut menjadi perhatian. Ancaman musim hujan bukan hanya persoalan air yang menggenangi jalan atau permukiman. Hembusan angin kencang juga memiliki potensi bahaya, terutama di lingkungan yang memiliki banyak pepohonan, termasuk di sekitar rumah warga.
Pesan Ratu Dewa dan Pekerjaan Rumah OPD
Perubahan kondisi cuaca tersebut juga menjadi alasan penting mengapa kesiapsiagaan pemerintah harus ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan arahan Wali Kota Palembang Ratu Dewa saat memimpin Apel Gabungan OPD di Pelataran Kambang Iwak, Senin (2/11/2026).
Ratu Dewa mengingatkan seluruh jajaran Pemerintah Kota Palembang agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim penghujan. Potensi banjir, pohon tumbang, serta berbagai dampak cuaca ekstrem harus diantisipasi melalui langkah nyata, artinya tidak hanya menunggu laporan ketika kejadian sudah berlangsung.
Perhatian juga diarahkan kepada Camat dan Lurah, agar lebih aktif memantau kondisi wilayah masing-masing. Sebab, perangkat pemerintahan di tingkat kecamatan dan kelurahan merupakan bagian yang paling dekat dengan lingkungan masyarakat.
Merekalah seharusnya mengetahui kondisi wilayahnya, termasuk titik-titik yang berpotensi menimbulkan persoalan ketika hujan deras turun.
Misalnya terkait dengan masalah drainase, saluran air, kawasan rawan genangan, hingga pepohonan yang berpotensi membahayakan harus menjadi perhatian bersama. Selain itu, OPD teknis juga dituntut memastikan kesiapan personel dan peralatan agar penanganan dapat dilakukan ketika dibutuhkan.
Ratu Dewa turut mengingatkan, agar jajaran OPD tidak terlalu disibukkan dengan kegiatan seremonial maupun rutinitas rapat. Pemerintah harus lebih mengutamakan pekerjaan yang benar-benar memberikan manfaat dan dirasakan masyarakat.
Pesan Ratu Dewa patut menjadi perhatian, apalagi saat ini mulai menghadapi musim penghujan, sehingga yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya imbauan, melainkan tindakan pencegahan yang bisa dirasakan langsung hingga lingkungan permukiman.
Palembang memiliki tantangan lingkungan yang berbeda ketika memasuki pergantian musim. Saat kemarau, perhatian tertuju pada kebakaran lahan dan kabut asap. Ketika hujan mulai datang, ancaman bergeser pada genangan, banjir, angin kencang, hingga pohon tumbang.
Persoalannya, beberapa ancaman tersebut sebenarnya dapat dikurangi, apabila langkah antisipasi dilakukan lebih awal. Saluran air yang tersumbat, misalnya, tidak seharusnya baru diperhatikan ketika hujan deras menyebabkan genangan. Begitu pula dengan pepohonan yang sudah miring atau memiliki ranting rapuh, semestinya diperiksa sebelum diterpa angin kencang.
Oleh sebab itu, kesiapan pemerintah tidak cukup hanya dilakukan secara mendadak. Pemeriksaan saluran drainase, pembersihan anak sungai, pemangkasan pohon yang rawan tumbang, serta pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Jangan sampai pemerintah baru sibuk setelah jalan terendam, pohon tumbang menghalangi akses warga, atau air masuk ke rumah masyarakat.
Pola kerja seperti ini seharusnya mulai ditinggalkan. Pencegahan semestinya menjadi bagian penting dari pelayanan pemerintah, tak hanya menjadi kegiatan tambahan ketika memasuki musim hujan.
Di sinilah peran masing-masing OPD perlu terlihat. Dinas yang menangani pekerjaan umum harus memastikan infrastruktur saluran air berfungsi. Perangkat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan pertamanan perlu memperhatikan kondisi pepohonan di ruang publik. Sementara Camat dan Lurah menjadi penghubung antara kondisi lapangan dengan instansi teknis.
Bahkan yang lebih penting lagi, koordinasi juga tidak boleh berhenti di tingkat pimpinan. Informasi mengenai wilayah rawan, laporan warga, dan kebutuhan penanganan harus bisa diteruskan dengan cepat. Dengan begitu, pemerintah tidak kehilangan waktu hanya karena persoalan koordinasi antarlembaga.
Masyarakat Juga Tidak Bisa Berpangku Tangan
Di samping tanggung jawab pemerintah, masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga lingkungannya. Tidak semua persoalan musim hujan bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan OPD.
Kesadaran untuk tidak membuang sampah ke saluran air, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperhatikan kondisi pepohonan di sekitar rumah merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak penting.
Jika menemukan pohon yang terlihat miring, rapuh, atau berpotensi roboh, warga dapat segera melaporkannya kepada pengurus RT, kelurahan, maupun instansi terkait.
Begitu pula dengan saluran air di lingkungan permukiman. Kebiasaan membiarkan sampah menumpuk di selokan dapat memperburuk aliran air ketika hujan deras datang. Persoalan kecil yang dibiarkan terus-menerus pada akhirnya dapat menjadi masalah bagi lingkungan yang lebih luas.
Kejadian hujan deras disertai angin kencang di Kalidoni pada Senin siang bisa menjadi pesan agar semuanya harus waspada, sebab perubahan cuaca dapat langsung dirasakan di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Oleh karena itu, kewaspadaan tidak harus menunggu adanya peringatan atau kejadian besar terlebih dahulu.
Dan, berkurangnya kabut asap akibat karhutla bukan berarti pekerjaan pemerintah selesai. Justru ketika satu persoalan mulai mereda, kesiapan menghadapi persoalan berikutnya harus semakin diperkuat.
Arahan Ratu Dewa dalam apel gabungan tersebut semestinya tidak berhenti sebagai pesan kepada jajaran OPD. Hal terpenting adalah bagaimana instruksi itu diterjemahkan menjadi kerja nyata di lapangan, mulai dari tingkat kota hingga lingkungan RT.
Palembang tentunya tidak ingin setiap pergantian musim selalu dihadapkan masalah klasik yang sama dalam setiap tahunnya, sementara langkah antisipasinya baru dilakukan setelah dampak mulai dirasakan masyarakat.
Sebab, keberhasilan pemerintah menghadapi musim penghujan bukan semata-mata dinilai dari seberapa cepat menangani banjir atau pohon tumbang, melainkan juga dari seberapa banyak potensi bahaya yang berhasil dicegah sebelum menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Semoga hujan menjadi berkah untuk masyarakat Palembang. Akhir kata, kita (masyarakat) semua tentunya berharap hujan mengguyur Kota Palembang membawa berkah bagi masyarakat, bukan malah menimbulkan persoalan baru. Amin. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
