Selasa, 22 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan-Kaki Bukit » BUKIT SIGUNTANG, Membangun Pariwisata Jangan Kurbankan Situs Arkeologis 

BUKIT SIGUNTANG, Membangun Pariwisata Jangan Kurbankan Situs Arkeologis 

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 18 Jul 2021
  • visibility 2.402
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“…Kapal api masuk Palembang, airnya tenang jadi gelombang, hati siapa tidak akan bimbang…” Penggalan lirik dari lagu Cup Mak Ilang tadi sengaja dipinjam untuk mengawali tulisan ini, membahas salah-satu situs Sriwijaya tidak jauh dari jantung Kota Palembang hari ini. Palembang adalah ibukota pusat pemerintahan Sriwijaya, lebih banyak disepakati oleh para ahli mengingat temuan-temuan arkeologis artefaktual Sriwijaya, tidak terbantah lebih banyak di Palembang dan sekitarnya.

Data arkeologi yang ditemukan di Palembang, yaitu: Arca Buddha dari Bukit Siguntang berasal dari sekitar abad ke-7 – 8 Masehi. Temuan arca tersebut berasosiasi dengan arca perunggu, lempengan-lempengan emas, lapik arca, stupa dan strukur bangunan bata, pecahan keramik Cina, manik-manik, dan pecahan prasasti. Pecahan keramik Cina yang terdapat di situs ini berasal dari masa Dinasti Tang (618 – 906 Masehi), Dinasti Sung (abad ke-10 – 13 Masehi) dan dinasti Yuan (1280-1368 Masehi).

Berdasarkan wujud dan banyaknya jenis temuan arkeologis tersebut, dapat disimpulkan bahwa situs Bukit Siguntang merupakan situs keagamaan terpenting dari masa Sriwijaya. Mengutif tulisan Retno Purwanti Nadeak, dalam Forum Arkeologi  Volume 29, Nomor I, April 2016 di Bukit Siguntang, selain sisa-sisa bangunan dari  bata, ditemukan juga artefak berupa fragmen batu (foto di bawah ini), berada di  dalam cungkup makam Panglima Bagus Kuning dan Panglima Bagus Karang.

 

 

Artefak pertama terletak di atas Makam Panglima Bagus Kuning berupa bantalan  arca (asana), yaitu tempat untuk mendirikan sebuah patung (padma) yang berukuran  panjang 68 cm, lebar 34 cm dan tinggi 27 cm. Sisi bagian luarnya melingkar, dan sisi  dalamnya cenderung rata. Kemungkinan merupakan satu sisi (1/4 bagian), bawah padma untuk mendirikan arca. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari  juru kunci makam, dahulunya batu ini merupakan bagian atau menjadi salah satu  nisan dari Panglima Bagus Kuning. Saat dilakukan pemerian batu ini diletakkan di atas  makam tersebut, tetapi, tidak menjadi nisan.

Artefak kedua merupakan pecahan dari sebuah batu. Di sisi kanan dan kiri batu  tersebut patah. Dari jenis batuan, kemungkinan sama dengan batu yang digunakan  untuk menulis prasasti dan arca (batu andesit). Ukuran batu tersebut lebar 28 cm,  panjang 25 cm dan tinggi 23 cm. Menurut penuturan penjaga makam, batu ini  dahulunya merupakan salah satu bagian nisan Panglima Bagus Karang. Ada  kemungkinan bahwa bangunan ini merupakan sisa-sisa bangunan candi, tempat  bernaung arca Buddha (foto di bawah ini).

 

 

Arca itu sekarang berada di teras museum Sriwijaja, TPKS – Karanganyar, sebelumnya  di halaman sisi kanan museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Di situs Bukit  Siguntang itu, ditemukan juga struktur bata yang diduga berasal dari dua bangunan  berbeda, satu di lereng dan satu di puncak Bukit Siguntang. Temuan bata-bata kuno  itu membuktikan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Schnitger pada 1936,  dan hasil survei yang dilakukan pada 1954, menginformasikan adanya temuan sisa sisa bangunan stupa (Schnitger 1937, 3-4; Soekmono, dkk. 1985, 42-43).

Dugaan adanya bangunan stupa merupakan bagian dari bangunan keagamaan ini,  diperkuat dengan temuan arca Buddha, Jambala, Wairocana, dan sebagainya, di  Bukit Siguntang (Schnitger 1937, 3-4). Mengulik arca Buddha secara visual  merupakan temuan arca terbesar di Palembang dan tingginya hampir 4 meter, dalam  kondisi telah pecah kemudian digabungsatukan Kembali itu, diduga kuat posisi

asalnya di bagian puncak Bukit Siguntang. Seharusnya pemindahan dari halaman  Musem SMB II kemarin, keberadaan arca itu dikembalikan pada tempat asalnya,  bukan malah berencana mau menempatkan replika dari arca tersebut ke Bukit  Siguntang, pakai logika seperti apa sehingga berpikir begitu.

Menurut kawan di Balai Arkeologi Sumatra Selatan, kondisi situs arkeologi Bukit  Siguntang saat ini sudah rusak parah. Proses kerusakan awalnya adalah dengan  kehadiran bangunan-bangunan permanen, berupa makam/petilasan-petilasan yang  dasarnya hikayat atau cerita rakyat, kemudian diberi papan nama raja-raja Sriwijaya  terakhir dengan nama tokoh-tokoh hikayat, tindakan itu tentunya bukan hanya  merusak zona inti situs menurut UU Cagar Budaya, namun sudah juga tergolong  kebohongan sejarah dan publik.

Selain kehadiran petilasan-petilasan tadi, dibangun pula beberapa bangunan lain,  sebagai falilitas pendukung yang juga dibuat secara permanen. Beberapa tahun  terakhir terjadi perusakan lebih massif dan tidak tanggung-tanggung, dengan  dukungan APBD bahkan APBN. Zona inti situs arkeologis Bukit Siguntang dibongkar  dengan menghadirkan alat berat boldozer, di puncak Bukit Siguntang dibangun air  mancur dan di kakinya di bangun galeri dan beberapa fasilitas permanen lainnya.

Saat proses pengerjaan “proyek” itu sudah diingatkan oleh beberapa ahli (arkeolog  dan sejarawan) juga terlibat dari negara luar, namun sayangnya masukan itu tidak  dipedulikan sama sekali, proyek terus berlenggang jumawa hingga selesai  pengerjaannya, dengan alasan dikatakan guna meningkatkan minat kunjungan  wisata, terutama jelang kegiatan olahraga internasional yang lalu. Adakah evaluasi  yang memang menunjukkan kunjungan wisata meningkat secara signifikan?

Baik saat kegiatan olahraga internasional berlangsung, hingga kini, tampaknya  tingkat kunjungan wisata tidak ada perubahan, kecuali saat di Bukit Siguntang sedang  diadakan kegiatan tertentu saja. Namun, fakta yang terjadi adalah semakin lepasnya  pengetahuan masyarakat akan nilai ke-Sriwijaya-an atas situs arkeologi Sriwijaya,  Bukit Siguntang. Bahkan pada akhir-akhir kemarin sempat ada pula rencana akan  merehab dengan mendesain ulang bangunan petilasan yang ada, karena ingin  mencontoh seperti di Malaysia, lucu!

Kemudian melalui dukungan lembaga tertentu telah dihembuskan konsep  “Palembang Ulu Melayu.” Diksi ulu itu berasal dari kata hulu, untuk asal arah aliran  sungai yang mengalir ke hilir, sehingga Palembang Ulu Melayu artinya, Palembang  adalah asal Melayu. Jelas konsep itu sulit dicerna oleh logika berpikir yang wajar, jika  ada Ulu Melayu maka tentunya akan ada Ilir atau hilirnya, dimana dan sejak kapan  keberadaannya? Dengan konsep Palembang Ulu Melayu, orang akan berimajinasi  atau membayangkan adanya sungai Melayu dari Palembang, namun mengalir dan  bermuaranya ke mana? Lagi pula sungai Melayu itu sendiri dimana?

Catatan pendeta I’Tsing abad ke-7 M memberitakan, bahwa dia datang pertama kali  ke Nusantara singgah di negeri yang bernama Mo-lo-yu (baca: Melayu), di tepian  sungai Batanghari – di Jambi hari ini, setelah I’Tsing kembali dari India singgah  kembali ke Nusantara, ternyata Mo-lo-yu sudah dibawah kekuasaan Sriwijaya. Kronik  China itu sudah dibicarakan para ahli sejak lama tentunya, dan Palembang ikut  dibicarakan juga, sebagaimana rujukan Sejarah Nasional Indonesia selama ini, dan  tidak ada satupun wacana yang menyinggung Palembang Ulu Melayu.

 

Papan Nama Makam dan Makam Radja Segentar Alam, sumber: Google 

Berbeda lagi dengan Hikayat Melayu atau yang berkembang di Malaysia, melalui  Sulalatus Salatin kemudian Malaysia menyebutnya juga sebagai Sejarah Melayu. Dalam hikayat tersebut memang ada menyebutkan, bahwa leluhur bangsa Malaysia  berasal dari Bukit Siguntang, tetapi itu hanyalah alur cerita atau hikayat Melayu,  bukan rujukan Sejarah Nasional Indonesia yang bersifat arkeologis-artefaktual.  Bangsa Indonesia seperti diketahui juga termasuk rumpun Melayu, tentu memiliki  pula cerita ataupun hikayat, mungkin saja memiliki kesamaan dengan Hikayat  Melayu, Malaysia.

Di situs Sriwijaya Bukit Siguntang dipasang papan nama Makam-Makam Radja  Sriwijaya berjumlah tujuh makam, salah-satunya makam Raja Sigentar Alam. Dalam  penulisan di papan nama makam saja, sudah ada ketidakkonsistenan penulisan huruf  DJ pada kata Radja dengan J pada kata Sriwijaya. Makam Radja Sigentar Alam bukan  hanya ada di Bukit Siguntang, demikian pula makam Pangeran Bagus Kuning, makam  Putri Kembang Dadar, maupun makam lainnya, ternyata makam dengan nama yang  sama ada juga di tempat lain (ciri hikayat), sementara Sriwijaya itu bersifat Budhisme  rajanya tentu diperabukan.

Saat menghembuskan Palembang Ulu Melayu terkait Bukit Siguntang, dalam waktu  bersamaan diksi Siguntang diganti dengan Seguntang. Sudah tepat Siguntang, karena  diksi Si menunjukkan personifikasi objek atau tempat yang berbukit (guntang =  menggantung), atau si guntang. Pada kata Seguntang, diksi Se malahan merubah

makna menjadi kuantitas atau jumlah, misalkan: Serumah, se-Sumatra, se-Indonesia,  seliter, segelas, segantang, sekarung, dan lain sebagainya.

Mengingat nilai Sriwijaya dan kebesarannya, juga selaras dengan konsep Bung Karno  “Jasmerah” sebaiknya Pemda Sumatra Selatan, segera mengembalikan marwah Bukit  Siguntang sebagai salah-satu situs arkeologis Sriwijaya. Tidak selamanya dapat  dibenarkan asumsi “nilai mistik dapat dijual sebagai asset pariwisata”, apalagi nilai  mistik itu sampai meracuni Sejarah Nasional Indonesia.

Keberadaan makam-makam  bersumber hikayat, dan melabelinya dengan makam-makam raja, puteri, dan  panglima, serta menempelkan Raja Sriwijaya, adalah kebohongan sekaligus  membodohi, khususnya masyarakat awam sejarah, termasuk generasi muda.

 

 

Bongkar bangunan “sampah” Sriwijaya di Bukit Siguntang!

*) Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau

 

Oleh: A. Erwan Suryanegara *) 

Budayawan

 

 

BIODATA 

Nama : A. ERWAN SURYANEGARA 

Tempat & tgl. lahir : Palembang, 14 Oktober 1962 

Alamat : Jl. Anggada no. 6 RT. 08 RW. 02 Kelurahan Kalidoni,  Palembang – 30119 Hp. 081368829559; WA 082177172240 

  • Perintis dan pernah Ka. Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Budaya, Univ. Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang, 2008-2014. Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau, sejak 2009 s.d. sekarang. 
  • Perintis/Kepala Pusat Kajian Sriwijaya – Pemerintah Kota Palembang, 2012-2014. Peneliti, penulis buku, dan produser film dokumenter Sriwijaya. 
  • Penulis syair dan produser Lagu Jayasiddhayatra Sriwijaya. 
  • Peneliti, penulis buku, dan produser film dokumenter Ragam Hias Sumatra Selatan. Pembicara/pemakalah Temu Budaya ANBTI, di Bogor dan Yogjakarta. 
  • Pembicara/pemakalah Kongres Bahasa Wilayah Barat, di Lampung. 
  • Narasumber acara di radio dan televisi, Sumatra Selatan. 
  • Peneliti Seni Rupa Megalitik, Dataran Tinggi Pasemah – Sumatra Selatan. Pemateri pada seminar nasional dan internasional tentang Seni Rupa Megalitik. Penulis pada jurnal nasional dan internasional tentang Seni Rupa Megalitik. Penggagas Monumen Kapal Sriwijaya sebagai Ikon Bhumi Sriwijaya & Jalur Rempah Nusantara. Pembina Dewan Kesenian Palembang dan Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Pameran Seni Rupa di Palembang, Jakarta, Bandung, dan Malaysia. 

Kurator Pameran Seni Rupa.

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berkunjung ke Pemkot, Apekli Curhat Ini, Ratu Dewa Respon Begini..

    Berkunjung ke Pemkot, Apekli Curhat Ini, Ratu Dewa Respon Begini..

    • calendar_month Selasa, 8 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 812
    • 0Komentar

    ASOSIASI Pedagang Kaki Lima [Apekli] Kota Palembang menemui Sekretaris Daerah [Sekda] Pemkot Palembang Ratu Dewa. Dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan keluh kesahnya. Salah satunya aktivitas jual beli disaat pandemik Covid-19. Menurutnya, Sekda ada beberapa hal yang bisa ditindaklanjuti dari hasi paparan mereka, seperti untuk tetap melakukan sosialisasi protokol kesehatan, contohnya  ada beberapa hal yang harus […]

  • Rektor Universitas Tridinanti Ingin Hasilkan SDM Beriman dan Berkualitas

    Rektor Universitas Tridinanti Ingin Hasilkan SDM Beriman dan Berkualitas

    • calendar_month Minggu, 29 Jul 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.263
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, Palembang – Rektor Universitas Tridinanti  Palembang Dr. Ir. Hj Nyimas Manisah M.P dalam mengatakan sangat bersyukur gedung kuliah dan auditorium ini bisa selesai dikerjakan dalam 2 tahun  pembangunan dengan lancar. “Semua ini berkat Ridho Allah. Dan yang membanggakan adalah ini dibangun dengan swadana,” jelasnya, dalam peresmian Gedung Kuliah dan Auditorium Universitas Tridinanti Palembang (UTP), […]

  • Insya Allah Dibalik Musibah Ada Hikmahnya, Pesan Ketua TP PKK OKI

    Insya Allah Dibalik Musibah Ada Hikmahnya, Pesan Ketua TP PKK OKI

    • calendar_month Senin, 26 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 982
    • 0Komentar

    KETUA Tim Penggerak PKK Kabupaten Ogan Komering Ilir, Hj. Lindasari Iskandar menyerahkan bantuan kepada keluarga korban kebakaran di Desa Terusan Laut dan Desa Awal Terusan Kecamatan SP Padang OKI, Senin (26/4/2021). Bantuan ini di berikan untuk meringankan beban para korban, serta memberikan dukungan moril bagi korban agar segera bangkit dari musibah. “Mohon jangan dilihat dari […]

  • Keuangan Muba Masuk Era Cashless, Bendahara Tak Lagi Nenteng Kantong Kresek

    Keuangan Muba Masuk Era Cashless, Bendahara Tak Lagi Nenteng Kantong Kresek

    • calendar_month Rabu, 11 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 812
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Kalau dulu kita sering dengar istilah “uang rakyat harus dikelola dengan bijak”, kini di Muba, pepatah itu di-upgrade jadi “uang rakyat jangan cuma dikelola, tapi dicatat real-time dan bisa di-screen shoot!” Ya, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) baru saja launching gaya baru dalam urusan keuangan Kartu Kredit Pemerintah Daerah alias KKPD. Bukan buat […]

  • Kharisma Event Nusantara 2021

    Kharisma Event Nusantara 2021

    • calendar_month Minggu, 11 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 5.399
    • 0Komentar

      MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, meluncurkan program “Kharisma Event Nusantara (KEN) 2021” sebagai upaya menggerakkan kembali roda perekonomian di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, terutama di bidang event. Dalam acara peluncuran “Kharisma Event Nusantara” di Studio RCTI Plus, Jakarta Barat, Sabtu (10/4/2021) malam, Sandiaga mengatakan program […]

  • Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Bagi-bagi Hadiah, Buruan Jadi Nasabah !!

    Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Bagi-bagi Hadiah, Buruan Jadi Nasabah !!

    • calendar_month Minggu, 22 Jul 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.815
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, Palembang – Bank Sumsel Babel (BSB) kembali menunjukan komitmennya untuk melayani seluruh nasabahnya dengan menggelar acara penarikan undian tabungan Pesirah (Penggerak Potensi Daerah) periode Januari-Juni 2018 yang dilaksanakan bertempat di halaman kantor pusat BSB, Jakabaring, Palembang, Jumat (20/7/2018) malam. Dengan mengusung tema outdoor Bank yang dipimpin oleh Muhammad Adil itu membagikan ratusan hadiah menarik […]

expand_less
WordPress Archive Out Of Stock Product Reservation for WooCommerce Out-of-the-Box | Dropbox plugin for WordPress Outdoor – Creative Photography / Portfolio WordPress Theme Outgrid - Multi-Purpose Elementor WordPress Theme Outlet Storefront WooCommerce Theme Outmedia – Outdoor Advertising & Billboard Agency WordPress Theme Outstock – WooCommerce Responsive Furniture Theme Ovation – Wedding & Event Photography WordPress Theme Ovent – Event Conference WordPress Theme Overlap – High Performance WordPress Theme