Sumselterkini.co.id, – Kalau dulu kita sering dengar pepatah “bagai padi, makin berisi makin merunduk,” maka sekarang ada versi barunya dari Pusri Palembang anggota holding dari PT Pupuk Indonesia (Persero) ini makin tua pabriknya, makin boros ngisep gas, oleh sebab itu lahirlah ide untuk membangun Pabrik Pusri IIIB, pabrik pupuk rasa milenial yang nggak cuma hemat energi, tapi juga ramah lingkungan dan siap jadi idola petani seantero nusantara.
Begini ceritanya. Pabrik Pusri III dan IV itu ibarat motor tua tahun ‘80-an, tiap dipake jalan 3 kilometer, harus ngaso 10 menit dan ngebul kayak kebakaran dapur. Nah, daripada terus-terusan menguras tabungan buat beli gas, manajemen Pusri akhirnya banting stir.
Desember 2023 kemarin, mereka teken kontrak hidup baru bikin pabrik baru yang low energy, high semangat, dan tahan banting sampai 2027 nanti.
Sekarang proyeknya udah masuk bulan ke-17. Ibarat hamil, ini udah masuk trimester kelima, mulai kelihatan bakalannya. Dari tiang pancang, pondasi, sampe tanki dan pipa-pipa udah mulai berdiri manis di site proyek.
Bahkan barang-barang penting juga lagi otw dikirim dari vendor, mungkin naik truk, kapal, atau dibungkus cinta dan doa ibu-ibu kelompok tani.
Kalau boleh jujur, teknologi yang dipake ini bukan kaleng-kaleng. Unit amonia pakai KBR-Purifier Process, dan unit urea pakai TOYO ACES21, kedengerannya kayak nama robot Jepang, tapi intinya ini teknologi canggih kelas dunia.
Bayangin aja, 2.750 ton urea per hari!. Itu bukan angka random, tapi jumlah pupuk yang bikin petani dari Sumatera sampai Sulawesi bisa panen sambil senyum lebar kayak dapet transferan dadakan. Teknologi amonia dan urea-nya diambil dari luar negeri, kayak anak kos yang balik bawa oleh-oleh buat tetangga sekampung.
“Kalo disuruh milih antara pabrik ini atau mantan yang suka PHP, mending pabrik ini jelas output-nya, hemat, dan nggak bikin drama”.
Bahkan yang bikin makin cakep, efisiensi energinya juga mantul. Bayangin aja, pabrik lama kayak kompor jadul butuh bensin segentong buat masak mie satu bungkus.
Tapi Pusri IIIB ini udah kayak rice cooker digital hemat, bersih, dan tinggal colok. Untuk urea cuma 21,97 MMBTu/MT dan amonia 32,89 MMBTu/MT. Buat yang bingung apa itu MMBTu, anggap aja satuannya hemat banget.
Proyek ini digarap konsorsium antara PT ADHI Karya dan Wuhuan Engineering, dengan sistem bagi hasil ADHI 15,09%, sisanya Wuhuan.
Ibarat duet nyanyi, ADHI jadi backing vokal, Wuhuan jadi lead vocal, tapi hasilnya tetap harmonis dan merdu untuk masa depan pertanian Indonesia.
Kata Pak Daconi Khotob, Dirut Pusri dalam keterangan rilisnya belum lama ini menyebutkan proyek ini bukan cuma soal bangun gedung dan pasang pipa. Ini soal menanam harapan.
Supaya petani nggak lagi galau nyari pupuk di musim tanam, dan negara kita bisa melangkah mantap menuju swasembada pangan biar nasi yang kita makan besok bukan impor dari seberang, tapi hasil keringat sendiri.
Dan seperti kata pepatah tua dari kebun belakang rumah, “Kalau ingin panen besar, jangan cuma andalkan hujan, tapi siapkan irigasi dan pupuk yang bisa diandalkan”.
Pusri IIIB ini bukan cuma proyek konstruksi, tapi juga ikhtiar untuk masa depan, bukan cuma bangun pabrik, tapi bangun ketahanan pangan nasional.
Kalau cinta bisa diperjuangkan, maka pupuk pun harus diproduksi, dengan teknologi ramah lingkungan. Pusri IIIB bukan cuma pabrik, tapi janji dari tanah untuk tanah, dari Palembang untuk petani Indonesia.
Pusri IIIB bukan juga cuma soal mesin dan pipa, tapi juga soal harapan dan ketahanan. Soal panen yang tidak lagi pakai mantra, tapi pakai pupuk berkualitas. Karena, kata orang tua zaman dulu “Sawah tak butuh janji, ia butuh pupuk tiap pagi.”
Ketika pabrik ini nanti berdiri kokoh dan mulai beroperasi penuh pada 2027, Ia adalah harapan yang disemen, dirakit, dan dipancang dengan semangat swasembada.
Asanya bahwa anak petani tak lagi harus jadi buruh di kota demi makan, tapi bisa bangga bertani dan hidup layak di kampung sendiri. Semoga pembangunan ini lancar terus kayak jalan tol, nggak banyak lubang dan drama. Karena masa depan pertanian, tergantung dari seberapa serius kita bikin pupuknya.[***]