Sabtu, 26 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » CATATAN PINGGIR : Gerakan Pangan Mandiri, PR Baru Dunia Sekolah

CATATAN PINGGIR : Gerakan Pangan Mandiri, PR Baru Dunia Sekolah

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
  • visibility 1.462
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BEBERAPA hari lalu, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menerima kunjungan World Agroforestry (ICRAF), topiknya? bukan soal sawit, bukan pula soal kopi, melainkan soal ketahanan pangan masuk ke kurikulum muatan lokal sekolah, singkatnya, anak-anak Sumsel kelak bukan hanya bisa hitung pecahan, tapi juga bisa pecah telur ayam sendiri buat sarapan.

Dinas Pendidikan Sumsel menggandeng World Agroforestry (ICRAF) dan meluncurkan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Ada 34 sekolah yang jadi “kelinci percobaan” alias pilot project. Targetnya jelas, yakni murid-murid sejak dini terbiasa dengan nilai kemandirian, bukan cuma kemandirian jajan di kantin.

Gubernur Herman Deru bilang, inti GSMP adalah perubahan mindset, bahasa sederhananya, jangan cuma doyan beli, tapi juga bisa bikin. Masuk akal, kalau sejak SD anak-anak terbiasa melihat sayur tumbuh dari tanah, mereka paham makanan itu bukan mukjizat supermarket, tapi hasil kerja keras.

Pepatah lama mengingatkan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”, kalau hari ini mereka menanam cabai di halaman sekolah, mungkin 20 tahun lagi mereka jadi generasi yang terbiasa produktif, bukan generasi yang bingung tiap harga bawang merah naik.

Tapi kita juga tahu, program pemerintah seringkali lebih cepat muncul spanduknya daripada hasilnya, ada acara peresmian, anak-anak disuruh pegang cangkul, lalu besoknya kebun sekolah tinggal jadi hiasan Instagram. Nah, ini jangan sampai terjadi.

Pepatah kedua yang relevan “Tong kosong nyaring bunyinya”, jangan sampai muatan lokal ketahanan pangan ini hanya ramai di rapat, tapi sepi di lapangan, kalau cabai sudah ditanam di sekolah, rawat sampai bisa dipetik, lalu masak mi instan di kantin biar terasa manfaatnya.

Oleh sebab itu, kurikulum ini jika, dijalankan dengan serius, ke depannya bisa jadi, pendidikan ketahanan pangan bisa jadi game changer, misalnya dengan  karakter & keterampilan hidup, anak-anak bisa belajar sabar dan telaten, mereka paham proses, tidak semua bisa instan, hal ini sangat penting di era “scroll lima detik lalu bosan”.

Lalu dengan ekonomi rumah tangga, ilmu dari sekolah bisa dibawa pulang, siapa tahu halaman rumah jadi kebun kecil yang membantu dapur keluarga.

Tumbuh lebih tangguh

Kemudian makro, inflasi & ketahanan pangan, maksudnya kalau banyak rumah tangga mandiri pangan, kebutuhan di pasar bisa stabil. Inflasi cabai tidak lagi jadi bahan sindiran tiap tahun.

Namun, jangan lupakan guru karena mereka butuh pelatihan supaya tidak bingung, jangan sampai guru Matematika diminta ngajarin cara bikin kompos, lalu murid malah dihitungin luas lahan pakai teorema Pythagoras.

Tujuan program ini sebenarnya sederhana, tak lain untuk  kemandirian tidak diwariskan lewat kata-kata, tapi lewat kebiasaan. Kalau anak-anak terbiasa tanam dan merawat sejak kecil, mereka akan tumbuh lebih tangguh menghadapi harga pangan yang kadang bikin orang dewasa stres.

Sebab, kemandirian pangan tidak berarti semua orang harus jadi petani, tapi setidaknya semua orang punya kesadaran bahwa makanan itu hasil kerja keras, bukan sekadar hasil transfer uang ke tukang sayur.

Oleh karena itu, program ini luar biasa di atas kertas, namun yang menentukan bukan rapat pejabat, melainkan tangan-tangan kecil murid yang benar-benar menanam, merawat, dan menuai hasil.

Kalau memang serius, Pemprov Sumsel harus pastikan pilot project ini benar-benar berjalan, ada monitoring, ada evaluasi, ada keberlanjutan. Jangan sampai cuma berhenti di 34 sekolah, kalau berhasil, lanjutkan ke ratusan sekolah lain.

Untuk itu biar anak betah, solusinya bikin kreatif, jangan hanya tanam, tapi ajak murid bikin vlog pertanian, lomba masak hasil panen, atau bazar kecil. Latih guru, maksudnya guru butuh pendampingan singkat agar siap jadi fasilitator, bukan sekadar penonton kebun sekolah, dan libatkan orang tua, karena kalau di rumah anak-anak bisa praktik lagi, efeknya lebih kuat.

Gerakan Sumsel Mandiri Pangan bisa jadi warisan penting kalau betul-betul dijalankan. Anak-anak bukan hanya akan belajar sains dan matematika, tapi juga belajar nilai hidup sabar, mandiri, dan produktif.

Singkatnya keberhasilan itu, bukan diukur dari panjangnya pidato gubernur, melainkan dari seberapa banyak murid pulang ke rumah sambil bilang “Bu, jangan beli cabai di pasar, kita tanam saja di halaman”.

Kalau kalimat sederhana itu bisa muncul, barulah kita bisa bilang Gerakan Pangan Mandiri bukan cuma program, tapi investasi karakter bangsa.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Horee, Walikota Sebut Insentif Ketua RT dan RW Bakal Naik Lagi

    Horee, Walikota Sebut Insentif Ketua RT dan RW Bakal Naik Lagi

    • calendar_month Rabu, 31 Jan 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 835
    • 0Komentar

    “Kami siap berjuang bersama Pak Harnojoyo untuk mensukseskan program Palembang Emas,”

  • H Firdaus Komar, Rekam Jejak dan Pusaran Politik Uang ke Kursi PWI 1

    H Firdaus Komar, Rekam Jejak dan Pusaran Politik Uang ke Kursi PWI 1

    • calendar_month Rabu, 30 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.007
    • 0Komentar

    KONFERPROV PWI Sumsel 2019 tak terbantahkan telah menetapkan H Firdaus Komar dari Berita Pagi sebagai Ketua PWI Sumsel periode 2019-2024. Meski demikian, kalau ada temuan money politics (politik uang), ketua terpilih harus mengundurkan diri. Ini sesuai salah satu item dalam pakta integritas yang ditandatangani kandidat sebelum pemilihan putaran kedua. Ini juga berarti, kalau sampai akhir […]

  • Alibaba Cloud Luncurkan Aplikasi Web Keberlanjutan &Penerjemah Bahasa Isyarat Virtual untuk Asian Games Hangzhou

    Alibaba Cloud Luncurkan Aplikasi Web Keberlanjutan &Penerjemah Bahasa Isyarat Virtual untuk Asian Games Hangzhou

    • calendar_month Jumat, 29 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.855
    • 0Komentar

    Alat yang didukung AI ini bertujuan untuk menjadikan Asian Games pertama di cloud lebih berkelanjutan dan inklusif Sumselterkini.co.id, HANGZHOU, CHINA – Media OutReach –  Dalam upaya mempromosikan keberlanjutan dan inklusivitas Asian Games dan Asian Paralympic Games di Hangzhou, Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelijen Alibaba Group, telah meluncurkan web keberlanjutan aplikasi untuk atlet, […]

  • Lakalantas di OKI, 1 Tewas, 2 Luka Serius

    Lakalantas di OKI, 1 Tewas, 2 Luka Serius

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.256
    • 0Komentar

    TIGA orang anak yang masih di bawah umur asal Desa Talang Pangeran Kecamatan Teluk Gelam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengalami kecelakaan lalulintas (lakalantas) tunggal, hingga salah satu diantaranya meninggal dunia di lokasi kejadian, Minggu (24/11/2019) sore. Tragedi naas tersebut terjadi sekitar pukul 16.01 WIB di Jalan Singadekane (Pahlawan) Kecamatan Kayuagung OKI. Dimana sepeda motor Yamaha Mio […]

  • Memotret penerapan SPBE, Indeks SPBE OKI 2023 Berpredikat Baik

    Memotret penerapan SPBE, Indeks SPBE OKI 2023 Berpredikat Baik

    • calendar_month Minggu, 14 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 895
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Proses evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang dilaksanakan bukan hanya dalam rangka berlomba-lomba mendapatkan nilai tertinggi, ataupun pemeringkatan nasional, tetapi dalam rangka memotret penerapan SPBE di suatu wilayah, untuk kemudian menentukan langkah strategis dalam upaya perbaikan. Hal itu dilakukan  Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir dalam mengimplementasikan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) melalui […]

  • Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

    Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.222
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – “Reog itu bukan sekadar atraksi pentas. Ia adalah orkestra budaya yang kalau digoyang sedikit, bisa menghidupi 21 ribu perut, menggerakkan ekonomi, dan bikin turis mancanegara mangap saking kagumnya. Ponorogo, siap-siap, sampeyan bukan lagi kota kecil di Jawa Timur sampeyan bisa jadi kota kreatif dunia.” Begitulah kira-kira kalau Reog bisa ngomong sambil narik selendang, […]

expand_less
WordPress Archive X - The Theme Xamin – Data Science & Analytics SaaS WordPress Theme Xara – Responsive WooCommerce Shop Theme Xarris – SaaS & Startup Elementor Template Kit Xatcro – Factory Industrial Elementor Template Kit Xavier – PHP Login Script & User Management Admin Panel Xcare – Medical and Health Care WordPress Theme Xenia – Refined WordPress Corporate Theme Xeon – Minimal Portfolio WordPress Theme Xerces – Creative & Digital Agency Elementor Template Kit