Lawan Hoaks, Perpustakaan Palembang Siapkan Jurus Baru
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perpustakaan Palembang siapkan strategi baru untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi dan melawan hoaks.
Bahkan, pustakawan hingga pengelola pojok baca didorong menjadi agen literasi yang mampu mengedukasi warga di lingkungannya masing-masing.
Pasalnya, di tengah banjir informasi digital saat ini, kemampuan membaca saja tak lagi cukup. Masyarakat juga dituntut mampu memeriksa fakta, mengenali informasi menyesatkan, serta memahami data sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Hal ini menjadi perhatian Bunda Literasi Kota Palembang, Hj Dewi Sastrani saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi Perpustakaan Kota Palembang Tahun 2026 di Ruang Audio Visual Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palembang, Senin (2/11/2026).
Menurut Dewi, Bimtek tidak boleh hanya sebatas kegiatan peningkatan kapasitas peserta. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan melahirkan agen-agen literasi yang mampu membawa pengetahuan tentang pengelolaan informasi ke tengah masyarakat.
Ia mendorong pustakawan dan pengelola pojok baca mengambil peran aktif dalam membangun budaya literasi. Mereka diharapkan menjadi penggerak edukasi, mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas masyarakat.
Sasaran edukasi literasi informasi pun tidak terbatas pada kalangan pelajar. Anak-anak, ibu-ibu di lingkungan RT/RW, remaja, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu dibekali kemampuan mengolah informasi secara tepat.
“Kita ingin mewujudkan masyarakat Kota Palembang yang tidak hanya bisa membaca, tetapi masyarakat yang literat, masyarakat yang kritis, kreatif, dan komunikatif,” tegas Dewi.
Dewi menilai perlunya perubahan cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku.
Oleh sebab, perpustakaan harus berkembang menjadi ruang pembelajaran, pengembangan kreativitas, sekaligus pusat informasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
“Perpustakaan masa kini adalah pusat peradaban, pusat inovasi, dan jantung literasi masyarakat,” ujarnya.
Dewi menegaskan, literasi informasi kini telah menjadi kompetensi dasar yang perlu dimiliki setiap warga. Kemampuan tersebut tidak berhenti pada aktivitas mencari informasi, tetapi juga mencakup kecakapan memeriksa kebenaran, menilai keakuratan, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Dengan kecakapan tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi keliru sekaligus mampu memanfaatkan pengetahuan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan, pengembangan wawasan hingga peningkatan ekonomi.
Dewi turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan atas dukungan pengembangan perpustakaan di Kota Palembang.
Dukungan tersebut antara lain berupa bantuan buku, mebeler, dan perangkat komputer untuk perpustakaan kelurahan serta Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Menurut Dewi, kolaborasi pemerintah pusat, provinsi, dan kota menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.
Melalui penguatan literasi informasi dan dukungan fasilitas tersebut, perpustakaan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat serta mampu mengambil peran lebih besar dalam membangun warga yang cerdas, kritis, dan bijak menghadapi arus informasi digital. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
