Vaksin HPV Sebaiknya Diberikan Sejak Masih Anak-anak, Ini Alasan Medisnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 36 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kanker akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV) sering kali baru diketahui ketika seseorang sudah dewasa. Padahal, upaya untuk mencegah penyakit tersebut justru perlu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia dewasa.
Inilah alasan mengapa imunisasi HPV dianjurkan sejak anak-anak. Vaksin diberikan bukan karena anak sedang sakit, melainkan untuk membangun perlindungan lebih awal sebelum risiko terpapar virus meningkat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) terus mendorong pemberian imunisasi HPV sebagai salah satu langkah pencegahan kanker.
Program ini menyasar anak perempuan dan laki-laki usia 10–11 tahun atau yang duduk di kelas 5 sekolah dasar.
Lantas, mengapa vaksin HPV perlu diberikan saat anak-anak? Apakah vaksin ini aman? Dan siapa saja yang bisa mendapatkannya secara gratis?
Mengapa Vaksin HPV Dianjurkan Sejak Anak-anak?
Ada alasan medis mengapa pemberian vaksin HPV tidak perlu menunggu seseorang dewasa.
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, MARS, menjelaskan pemberian vaksin pada usia lebih muda dapat menghasilkan perlindungan yang lebih tinggi.
Menurut Indri, anak usia 9-14 tahun yang mendapatkan satu dosis vaksin HPV bisa memperoleh perlindungan hampir 90 persen. Angka yang dijelaskannya mencapai sekitar 88 persen.
Sementara itu, pada kelompok usia di atas 20 tahun yang mendapatkan dua dosis, perlindungannya diperkirakan sekitar 60 persen.
“Semakin awal kita berikan, perlindungannya akan semakin tinggi, semakin besar,” jelas Indri dalam webinar edukasi Kemenkes mengenai pencegahan penyakit akibat HPV.
Dengan demikian, imunisasi sejak usia sekolah menjadi kesempatan penting untuk memberikan perlindungan sebelum seseorang berisiko terpapar virus tersebut.
HPV Tidak Hanya Menyebabkan Kanker Serviks
Selama ini, masyarakat lebih mengenal HPV sebagai virus penyebab kanker serviks atau kanker leher rahim. Padahal, dampak infeksi virus ini tidak hanya dialami perempuan.
HPV juga dapat menyebabkan kanker pada laki-laki, termasuk kanker pada area anus, penis, dan orofaring atau bagian belakang tenggorokan.
Besarnya ancaman tersebut terlihat dari data yang disampaikan Kemenkes. Setiap tahun, sekitar 22.000 perempuan di Indonesia meninggal akibat kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi HPV.
Ancaman serupa juga tercatat secara global pada laki-laki. Data tahun 2022 menunjukkan sekitar 95.000 laki-laki terkena kanker akibat HPV, dengan sekitar 44.000 di antaranya meninggal dunia.
Data tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperluas imunisasi HPV, bukan hanya untuk anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki.
Kemenkes telah menjalankan program imunisasi HPV nasional bagi anak perempuan sejak 2023. Pada 2026, program tersebut mulai diperluas kepada anak laki-laki di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali.
Apakah Vaksin HPV Aman untuk Anak?
Keamanan vaksin menjadi salah satu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan orang tua.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan bahwa vaksin HPV aman dan efektif karena telah melalui uji klinis sebelum digunakan dalam program imunisasi nasional.
Meski demikian, penerima vaksin tetap dapat mengalami reaksi setelah penyuntikan. Beberapa reaksi yang mungkin muncul antara lain nyeri, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan. Ada pula yang mengalami pusing, lemas, demam, mual, hingga muntah.
Menurut Hinky, reaksi tersebut umumnya ringan dan dapat sembuh. Oleh karena itu, orang tua perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai imunisasi HPV. Jangan sampai keputusan memberikan perlindungan kepada anak justru dipengaruhi kabar yang belum jelas kebenarannya.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengingatkan hoaks dan disinformasi masih menjadi tantangan dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Ia mengajak media, jurnalis, dan influencer untuk aktif menyampaikan informasi berbasis bukti serta meluruskan informasi keliru mengenai vaksin HPV.
Siapa yang Berhak Mendapatkan Vaksin HPV Gratis?
Pemerintah menyediakan imunisasi HPV gratis melalui program imunisasi nasional bagi anak perempuan dan laki-laki usia 10–11 tahun atau kelas 5 SD.
Namun, perluasan program untuk anak laki-laki pada 2026 baru dimulai di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, DIY, dan Bali.
Capaian imunisasi menunjukkan perkembangan yang cukup besar. Data Kemenkes mencatat cakupan vaksin HPV pada anak perempuan kelas 5 SD pada 2026 mencapai 83,5 persen.
Sementara itu, cakupan imunisasi pada anak laki-laki kelas 5 SD di tiga provinsi wilayah perluasan mencapai 88 persen.
Sebagai pembanding, cakupan imunisasi HPV dosis tunggal pada anak perempuan kelas 5 SD pada 2025 mencapai 90,8 persen.
Bagi orang tua yang ingin memastikan anak mendapatkan imunisasi, informasi mengenai jadwal dan pelaksanaannya dapat ditanyakan melalui sekolah, puskesmas, atau fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
Imunisasi HPV Bukan Pengganti Skrining Kanker Serviks
Ada hal penting lain yang perlu dipahami masyarakat. Mendapatkan vaksin HPV bukan berarti seseorang tidak lagi membutuhkan pemeriksaan kesehatan.
Imunisasi dan skrining memiliki fungsi berbeda. Vaksin bertujuan mencegah infeksi HPV penyebab sejumlah kanker, sedangkan skrining membantu menemukan perubahan atau kelainan pada leher rahim lebih awal.
Kemenkes juga mendorong skrining kanker serviks bagi perempuan dewasa, termasuk melalui integrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program tersebut menyasar perempuan mulai usia 30 tahun.
Kombinasi imunisasi dan pemeriksaan berkala menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks.
Untuk membantu masyarakat memperoleh informasi yang tepat, kelompok kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) juga mengembangkan situs imunisasi-hpv.rcce.id.
Situs tersebut menyediakan berbagai informasi mengenai HPV, kanker serviks, kanker orofaring, imunisasi, hasil penelitian, hingga kebijakan terkait vaksin HPV.
Perlindungan Kesehatan Sebaiknya Dimulai Lebih Awal
Kanker akibat HPV memang umumnya baru berkembang ketika seseorang dewasa. Namun, langkah pencegahannya tidak harus menunggu sampai usia tersebut.
Pemberian imunisasi sejak anak-anak merupakan salah satu cara untuk membangun perlindungan lebih awal. Orang tua dapat memanfaatkan program pemerintah, mencari informasi dari tenaga kesehatan, dan memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai ketentuan.
Semakin baik pemahaman masyarakat mengenai HPV, semakin besar pula peluang pencegahan dilakukan sejak dini.
Sebab, melindungi anak dari risiko penyakit di masa depan tidak selalu harus menunggu sampai ancamannya terlihat. Salah satu langkahnya bisa dimulai melalui imunisasi HPV saat mereka masih duduk di bangku sekolah. (***)/diolah dari sumber utama kemkes
- Penulis: Irwan Wahyudi
