Cegah Kebutaan Sejak Dini, Pemeriksaan Mata Perlu Jadi Bagian dari Layanan Kesehatan Rutin
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GANGGUAN penglihatan tak hanya menjadi persoalan kemampuan melihat dengan jelas. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat membatasi aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, hingga mengurangi kualitas hidup seseorang. Oleh sebab itu, upaya mencegah kebutaan dan mendeteksi penyakit mata sejak dini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Di Indonesia, tantangan tersebut semakin besar seiring bertambahnya populasi lanjut usia dan perubahan pola penyakit.
Katarak masih menjadi salah satu penyebab utama kebutaan, tetapi ancaman terhadap kesehatan mata kini juga datang dari gangguan refraksi, retinopati diabetik, degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD), hingga glaukoma.
Kondisi ini menuntut penguatan layanan kesehatan mata yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pemeriksaan rutin, deteksi dini, dan pemerataan akses pelayanan hingga ke daerah terpencil.
Deteksi dini menjadi kunci pencegahan kebutaan
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan penanganan gangguan penglihatan merupakan investasi penting untuk meningkatkan Health-Adjusted Life Expectancy (HALE), yaitu indikator yang menggambarkan lamanya seseorang dapat hidup dalam kondisi sehat tanpa dibebani penyakit atau disabilitas.
Menurut Dante, meskipun gangguan penglihatan seperti katarak tidak secara langsung menyebabkan kematian, dampaknya terhadap kualitas hidup tidak dapat diabaikan.
Kemampuan melihat berpengaruh besar terhadap kemandirian, aktivitas harian, dan produktivitas seseorang.
Pemerintah bersama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) berupaya mengurangi antrean operasi katarak sekaligus mempercepat pemerataan dokter spesialis mata, termasuk di wilayah yang masih terbatas akses pelayanannya.
Upaya tersebut menjadi semakin relevan di tengah tren penuaan penduduk. Tanpa penanganan yang memadai, gangguan penglihatan dapat membuat masyarakat lanjut usia lebih rentan kehilangan kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Perluasan pemeriksaan mata dari fasilitas kesehatan primer
Salah satu strategi yang didorong Kementerian Kesehatan adalah memperkuat deteksi dini melalui Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional.
Pendekatan ini menempatkan fasilitas pelayanan kesehatan primer sebagai bagian penting dari upaya menemukan gangguan mata sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Pemerintah menetapkan sejumlah sasaran strategis, mulai dari pemeriksaan dini hingga peningkatan keberhasilan operasi katarak.
Target tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan mata secara dini terhadap sedikitnya satu juta individu berisiko di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Pemerintah juga menargetkan cakupan operasi mencapai 80 persen dari penderita katarak tingkat sedang hingga berat, serta sedikitnya 80 persen pasien pascaoperasi memperoleh pemulihan tajam penglihatan yang baik.
Selain itu, angka Cataract Surgical Rate (CSR) ditargetkan mencapai minimal 3.000 tindakan per satu juta penduduk per tahun secara nasional, sebagaimana disampaikan dalam rencana penguatan layanan kesehatan mata.
Pencapaian sasaran ini membutuhkan keterlibatan berbagai tingkat pelayanan kesehatan, terutama agar pasien dapat teridentifikasi lebih awal dan memperoleh rujukan sesuai kebutuhan.
Dokter umum dan dokter penyakit dalam turut berperan
Pemeriksaan mata tidak harus selalu dimulai dari fasilitas khusus mata. Penguatan kemampuan tenaga medis di layanan primer juga dapat membantu menemukan tanda awal berbagai penyakit yang berpotensi mengganggu penglihatan.
Salah satu metode yang didorong adalah funduskopi atau oftalmoskopi, yakni pemeriksaan bagian dalam mata, termasuk retina dan pembuluh darahnya. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi kelainan yang berkaitan dengan penyakit mata maupun kondisi sistemik tertentu.
Dante menilai, penggunaan funduskopi yang lebih luas oleh dokter umum dapat meningkatkan peluang ditemukannya kelainan mata sejak dini. Hal serupa berlaku bagi dokter yang menangani pasien diabetes, mengingat retinopati diabetik dapat berkembang sebagai komplikasi yang merusak pembuluh darah retina.
Dengan memperkuat pemeriksaan di berbagai lini pelayanan, potensi gangguan penglihatan dapat dikenali lebih cepat sehingga pasien berpeluang memperoleh penanganan sebelum kerusakan bertambah berat.
Ancaman kebutaan semakin beragam
Ketua Pengurus Pusat Perdami Prof. Budu menyampaikan bahwa persoalan kebutaan di Indonesia semakin kompleks. Selain katarak, gangguan refraksi, retinopati diabetik, AMD, dan glaukoma menjadi bagian dari tantangan kesehatan mata yang perlu mendapat perhatian.
Gangguan refraksi terjadi ketika mata tidak mampu memfokuskan cahaya secara tepat, misalnya pada rabun jauh atau astigmatisme. Sementara itu, retinopati diabetik berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah retina akibat diabetes, AMD memengaruhi bagian tengah retina yang berperan dalam penglihatan detail, dan glaukoma menyebabkan kerusakan saraf optik yang dapat berujung pada kehilangan penglihatan.
Perubahan pola hidup dan transisi epidemiologi turut memengaruhi perkembangan masalah kesehatan mata. Oleh sebab itu, strategi penanggulangan kebutaan perlu mencakup beragam penyakit, tidak terbatas pada operasi katarak.
Budu menekankan pentingnya mengantisipasi tingginya beban kebutaan di Indonesia melalui penguatan program pencegahan dan penanganan yang terintegrasi.
Ia juga mengapresiasi kerja sama Kementerian Kesehatan dengan Perdami serta mendorong seluruh cabang organisasi tersebut untuk mempercepat upaya penanggulangan kebutaan akibat katarak di berbagai daerah.
Menjaga penglihatan membutuhkan upaya berkelanjutan
Peringatan World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap kesehatan mata. Namun, upaya menjaga penglihatan perlu berlangsung sepanjang tahun melalui pemeriksaan berkala, deteksi dini, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan akses pengobatan yang lebih merata.
Mengenali perubahan penglihatan dan memeriksakan mata ketika muncul keluhan merupakan langkah penting. Kelompok berisiko, termasuk penderita diabetes dan lanjut usia, juga perlu memperoleh perhatian sesuai kebutuhan pemeriksaan medisnya.
Sementara itu, pemerintah dan tenaga kesehatan perlu memastikan bahwa layanan pemeriksaan, rujukan, serta tindakan medis dapat dijangkau oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Oleh sebab itu, keberhasilan penanggulangan kebutaan tidak hanya diukur dari jumlah tindakan operasi, tetapi juga dari kemampuan sistem kesehatan menemukan gangguan sejak dini dan membantu masyarakat mempertahankan penglihatan serta kemandiriannya. Penglihatan yang terjaga merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat dan berkualitas. (***)/diolah dari sumber kemkes.
- Penulis: Irwan Wahyudi
