Kemenkes Uji Nutrisi untuk Cegah TBC, 42.260 Orang Terlibat
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 42.260 orang di Indonesia akan terlibat dalam penelitian untuk menguji efektivitas dukungan nutrisi dalam mencegah tuberkulosis (TBC). Uji klinik bertajuk Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) ini resmi dimulai Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Universitas Indonesia (UI) belum lama ini..
Penelitian menyasar anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Kelompok ini menjadi perhatian karena paparan di lingkungan rumah merupakan salah satu faktor risiko penularan penyakit tersebut.
Melalui PHOTON, peneliti ingin mengetahui apakah intervensi gizi dapat membantu mengurangi kejadian TBC baru ketika diberikan sebagai pelengkap upaya pencegahan medis.
Urgensi penelitian ini tidak terlepas dari besarnya beban TBC di Indonesia. Kemenkes mencatat sekitar satu juta orang jatuh sakit akibat TBC sepanjang 2024, dengan angka kematian mencapai 136.000 jiwa. Indonesia pun masih berada di posisi kedua dunia dalam jumlah kasus TBC.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan penanganan TBC membutuhkan pendekatan yang lebih luas, termasuk memperhatikan kondisi gizi masyarakat.
Menurut Dante, cakupan terapi pencegahan TBC bagi kontak serumah baru mencapai 19,7 persen dari target 80 persen. Karena itu, pendekatan nutrisi dinilai perlu diteliti untuk melihat potensinya dalam melengkapi strategi yang telah berjalan.
“Masalah nutrisi inilah yang disorot dalam penelitian PHOTON. Mungkin jawaban yang selama ini kita cari ada di piring makan kita,” ujar Dante.
Principal Investigator PHOTON Indonesia dari UI, Prof. Rina Agustina, menjelaskan penelitian ini menggunakan metode Randomized Controlled Trial (RCT), yaitu uji klinik yang membagi peserta secara acak ke dalam kelompok berbeda untuk membandingkan hasil intervensi.
Secara keseluruhan, PHOTON melibatkan 78.400 peserta di Indonesia dan Tanzania. Dari jumlah tersebut, 42.260 peserta berada di Indonesia, dengan lokasi penelitian mencakup Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok.
Peserta di Indonesia dibagi ke dalam empat kelompok, yakni penerima plasebo, vitamin D, kombinasi multi-mikronutrien, serta balanced energy-protein atau dukungan energi dan protein seimbang.
Intervensi diberikan selama enam bulan. Selanjutnya, peneliti akan memantau manfaatnya selama 24 bulan untuk menilai hasil dari masing-masing pendekatan.
Dengan rancangan tersebut, PHOTON diharapkan memberikan bukti ilmiah mengenai jenis dukungan nutrisi yang berpotensi membantu melindungi kontak serumah dari TBC. Namun, efektivitas setiap intervensi masih harus dibuktikan melalui hasil penelitian.
Berangkat dari penelitian di India
PHOTON memiliki landasan ilmiah dari studi RATIONS di India yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Penelitian tersebut menemukan bahwa dukungan nutrisi mampu menurunkan kejadian TBC baru hingga 48 persen pada kontak serumah.
Temuan RATIONS menjadi salah satu rujukan penting dalam pengembangan PHOTON. Meski demikian, hasil penelitian di India tidak dapat langsung dianggap berlaku sama di Indonesia. Uji klinik ini diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi nutrisi pada populasi dan konteks yang berbeda.
Rina menegaskan, peran Indonesia dalam PHOTON bukan sebatas menyediakan lokasi penelitian. Tim Indonesia turut memimpin proses ilmiah sejak penyusunan protokol hingga pelaksanaan studi.
Penelitian di Indonesia dipimpin UI melalui Center for Global Resilience in Health and Nutrition (C-GRHEN), dengan melibatkan Summit Institute for Development, Siklus Indonesia, dan Oxford University Clinical Research Unit.
Pendanaan internasional untuk penelitian ini didukung Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk Foundation.
Rina mengatakan pelaksanaan penelitian mengutamakan keselamatan, hak, dan kerahasiaan peserta sesuai standar Good Clinical Practice.
Wakil Rektor UI, Prof. Dr. Hamdi Muluk, menyambut pelaksanaan PHOTON sebagai bentuk kolaborasi yang dapat memperkuat kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah landasan dalam merancang strategi pencegahan TBC. Namun, dukungan nutrisi tetap diteliti sebagai pendekatan pelengkap, bukan pengganti pengobatan TBC maupun terapi pencegahan yang direkomendasikan.
Dante juga menekankan penanggulangan TBC memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, akademisi, tenaga klinis, sektor swasta, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu bekerja bersama untuk memperkuat upaya tersebut.
Melalui PHOTON, peneliti kini akan menguji sejauh mana dukungan nutrisi dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga yang tinggal bersama pasien TBC. Jawaban akhirnya akan ditentukan oleh hasil pemantauan dan analisis penelitian selama periode studi. (***)/diolah dari sumber kemkes.
- Penulis: Irwan Wahyudi
