UMKM Perempuan Kuasai Industri Halal, Pembiayaan Tembus Rp15,8 T
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenpppa.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – UMKM perempuan mengantongi pembiayaan mikro Rp15,8 triliun di Bank Syariah Indonesia (BSI), lebih tinggi dibandingkan pembiayaan untuk debitur laki-laki sebesar Rp13,7 triliun. Data ini menjelaskan besarnya peran perempuan dalam sektor usaha serta memperkuat dorongan agar mereka mengambil posisi strategis dalam rantai nilai industri halal Indonesia.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengatakan, pemberdayaan ekonomi perempuan harus diarahkan untuk meningkatkan daya saing usaha, memperluas akses pasar, dan mendorong lahirnya inovasi.
Perempuan pelaku usaha perlu mendapat kesempatan untuk terlibat dalam seluruh tahapan industri halal, mulai dari produksi hingga pemasaran dan distribusi.
Pernyataan tersebut disampaikan Arifah dalam Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) 2026, bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
Menurut Arifah, penguatan UMKM perempuan tidak cukup dilakukan melalui pelatihan keterampilan usaha. Pelaku usaha juga membutuhkan akses pembiayaan, pemanfaatan teknologi, jaringan bisnis, serta koneksi dengan calon pembeli di pasar domestik dan internasional.
“Tahun 2025 ICWSCE telah menghubungkan perempuan Muslim pelaku usaha dengan ekosistem bisnis halal dan pasar global. Tahun ini, melalui tema ‘Perempuan Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal’, ICWSCE 2026 membawa kita pada tahapan berikutnya,” ujar Arifah dalam siaran pers dilaman resmi kemenpppa, dikutip minggu.
Ia menegaskan, perempuan harus didorong menjadi penggerak inovasi dan memperkuat keterhubungan antarpelaku usaha agar mampu mengambil peran strategis dalam perkembangan industri halal.
Besarnya peran perempuan dalam industri halal ditopang kontribusi mereka terhadap perekonomian nasional. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyebutkan perempuan mengelola 64,5 persen UMKM di Indonesia berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM 2023.
Jumlah pelaku usaha perempuan mencapai sekitar 37 juta orang berdasarkan data BPS 2024. Sementara itu, data KADIN 2024 mencatat nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp4.290 triliun pada 2024.
Kontribusi perempuan juga mencapai sekitar 35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Angka tersebut menunjukkan penguatan usaha perempuan berpotensi memberikan dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Perempuan itu mempunyai arti ekonomi yang sangat penting. Satu rupiah yang diinvestasikan oleh perempuan untuk kepentingan keluarganya, seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari, memberikan efek berganda, baik bagi ekonomi maupun sosial,” kata Aida.
Bank Indonesia, lanjut Aida, memperkuat pemberdayaan perempuan melalui tiga pendekatan, yakni penguatan model bisnis, fasilitasi sistem pembayaran, dan fasilitasi promosi.
Ketiga pendekatan tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha perempuan, memperkuat transaksi, dan memperluas jangkauan pemasaran produk.
Arifah mengatakan, peluang UMKM perempuan semakin terbuka seiring posisi Indonesia dalam ekonomi syariah global.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekonomi Islam. Indonesia juga berada di peringkat pertama sektor modest fashion, peringkat kedua pariwisata ramah Muslim, dan peringkat ketiga makanan halal.
Menurut Arifah, posisi tersebut menjadi modal untuk memperluas keterlibatan UMKM perempuan dalam pasar halal internasional. Namun, peluang itu perlu didukung peningkatan kualitas produk, inovasi, serta akses distribusi yang lebih luas.
Ia mengapresiasi Bank Indonesia yang melalui ISEF 2026 membuka kesempatan bagi UMKM perempuan untuk bertemu calon pembeli domestik dan internasional.
Arifah juga mendorong penguatan kolaborasi dengan dunia usaha, lembaga keuangan, marketplace, komunitas, penyedia teknologi, dan pembeli agar produk perempuan Indonesia semakin kompetitif.
Senior Vice President Islamic Ecosystem BSI, Rima Dwi Permatasari, mengungkapkan jumlah rekening pembiayaan mikro laki-laki dan perempuan relatif seimbang, masing-masing sebanyak 164 ribu rekening.
Namun, debitur perempuan mencakup 54 persen dari total pembiayaan mikro. Nilai pembiayaan untuk perempuan mencapai Rp15,8 triliun, sedangkan pembiayaan untuk laki-laki sebesar Rp13,7 triliun.
Rata-rata pembiayaan per rekening debitur perempuan juga mencapai sekitar Rp97 juta, lebih tinggi 16 persen dibandingkan rata-rata pembiayaan debitur laki-laki sebesar Rp84 juta.
Data tersebut memperlihatkan besarnya porsi perempuan dalam pembiayaan mikro. Meski demikian, pengembangan UMKM perempuan membutuhkan dukungan yang tidak hanya berfokus pada pendanaan, tetapi juga penguatan bisnis dan perluasan pasar.
Melalui ICWSCE 2026, pemerintah dan para pemangku kepentingan mendorong UMKM perempuan mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai industri halal. Penguatan pembiayaan, teknologi, promosi, dan kemitraan diharapkan membuka jalan bagi usaha perempuan untuk berkembang dan bersaing di pasar global. (****)
- Penulis: Irwan Wahyudi
