BI Genjot Pariwisata Ramah Muslim, Bidik Pasar Global
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 46 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bank Indonesia (BI) menggenjot pengembangan pariwisata ramah Muslim (PRM) guna merebut peluang pasar global senilai US$424 miliar pada 2029.
Strategi ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas peluang usaha, dan memperkuat rantai nilai halal nasional.
Peluang tersebut semakin terbuka setelah Indonesia naik ke peringkat kedua dunia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, dari posisi kelima pada 2025. Indonesia juga menempati peringkat keenam dunia dalam sektor pariwisata ramah Muslim berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026.
Industri pariwisata ramah Muslim global diproyeksikan tumbuh dari US$249 miliar pada 2024 menjadi US$424 miliar pada 2029, dengan pertumbuhan rata-rata 11,2% per tahun. Indonesia berpeluang memanfaatkan pertumbuhan tersebut untuk menarik lebih banyak wisatawan Muslim mancanegara sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali mengatakan pengembangan pariwisata ramah Muslim membutuhkan strategi terintegrasi, mulai dari pemetaan potensi daerah hingga peningkatan kualitas destinasi dan layanan wisata.
Menurutnya, BI menyiapkan tiga langkah strategis, yakni memanfaatkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) untuk memetakan kesiapan daerah, menyusun Peta Jalan PRM Nasional, serta memberikan pelatihan kepada pengelola desa wisata untuk meningkatkan kualitas produk, layanan, dan daya saing destinasi.
“Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi salah satu pusat pariwisata ramah Muslim dunia,” ujar Ricky dalam Indonesia Muslim Friendly Travel Summit, rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 Tahun 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10).
BI juga memperkuat digitalisasi pariwisata melalui Indonesia Travel Pack yang dikembangkan bersama Kementerian Pariwisata dan mitra terkait pada September 2026. Inisiatif ini mengintegrasikan informasi destinasi, konektivitas digital, dan layanan pembayaran, termasuk pengembangan QRIS Antarnegara untuk memudahkan transaksi wisatawan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menambahkan pasar wisatawan Muslim global diproyeksikan mencapai 260 juta perjalanan dengan pengeluaran tahunan sekitar US$310 miliar. Untuk menangkap peluang tersebut, pemerintah memperkuat promosi digital melalui Portal Visit Indonesia yang menyediakan informasi destinasi ramah Muslim di 38 provinsi.
Portal tersebut mencakup informasi atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan paket wisata. Kementerian Pariwisata juga memanfaatkan kecerdasan artifisial melalui MaiA (Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia) untuk membantu wisatawan menemukan destinasi dan merencanakan perjalanan sesuai kebutuhan.
“Kita tidak hanya ingin mengatakan kepada wisatawan, inilah indahnya Indonesia, tetapi juga memberi tahu mereka cara menikmati dan menjelajahinya,” kata Widiyanti melansir laman resmi BI.
Pengembangan pariwisata ramah Muslim turut masuk dalam Program Prioritas Ekonomi Syariah pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Pemerintah menargetkan pertumbuhan sektor ini meningkat dari 10,28% pada 2025 menjadi 13,08% pada 2029.
Pada ISEF 2026, BI meluncurkan Kajian Rekomendasi Peta Jalan PRM Nasional dan memberikan penghargaan kepada 15 provinsi dengan capaian terbaik dalam IMTI. Daerah penerima penghargaan tersebut meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Jawa Timur, Aceh, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Riau, Jambi, dan Batam.
Kajian dan penghargaan tersebut diharapkan mendorong pemerintah daerah meningkatkan kesiapan destinasi, memperkuat kualitas layanan, serta mengoptimalkan potensi ekonomi lokal melalui pariwisata ramah Muslim.
BI akan melanjutkan sinergi dengan pemerintah dan pelaku industri untuk membangun ekosistem pariwisata ramah Muslim yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.
ISEF ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di JICC, Jakarta, dengan menghadirkan berbagai kegiatan untuk memperkenalkan potensi ekonomi syariah dan destinasi pariwisata ramah Muslim Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
