Hotspot Sumsel Tinggal 60 Titik, Mengapa Udara Palembang Masih Buruk?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : sumselterkini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID- Jumlah titik panas di Sumatera Selatan (Sumsel) tinggal 60 titik, meski demikian belum serta-merta menjadi kabar baik bagi kualitas udara, pasalnya turunnya hotspot dari 107 menjadi 60 titik itu belum bisa membuat udara menjadi sehat, bahkan persoalan kabut asap di Palembang masih menjadi perhatian.
Data Kementerian Kehutanan menjelaskan, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumsel berkurang 47 titik berdasarkan pemantauan hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 21.00 WIB.
Angka tersebut berasal dari Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), yang memantau titik panas menggunakan data satelit.
Penurunan itu menjadi perkembangan positif dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, jumlah hotspot bukan satu-satunya indikator untuk menilai kondisi udara yang dihirup masyarakat.
Situasi nasional justru menjelaskan juga ada peningkatan. Kementerian Kehutanan mencatat 793 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Sabtu malam, naik dari 437 titik sehari sebelumnya.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 288 titik, meningkat dari 122 titik. Sementara itu, Sumsel berada di angka 60 titik, Kalimantan Barat 44 titik, Kalimantan Selatan 28 titik, Jambi satu titik, dan Riau nihil. Ada sejumlah faktor yang membuat penurunan hotspot tidak selalu diikuti membaiknya kualitas udara dalam waktu bersamaan.
Titik panas yang terdeteksi satelit merupakan indikator awal adanya potensi kebakaran, bukan pengukuran langsung tingkat pencemaran udara. Sebaliknya, asap dari kebakaran yang telah terjadi masih bisa bertahan dan terbawa angin hingga ke wilayah lain.
Lokasi kebakaran, besarnya api, jumlah asap yang dihasilkan, arah angin, serta kondisi atmosfer ikut menentukan apakah asap menyebar, menumpuk, atau berangsur menghilang dari suatu kawasan. Artinya, meskipun jumlah hotspot di Sumsel menurun, kondisi udara di Palembang tetap perlu dinilai melalui pengukuran kualitas udara dan pemantauan sebaran asap terkini.
Faktor cuaca juga perlu diperhitungkan dalam melihat perkembangan karhutla di Sumsel. Stasiun Klimatologi Sumsel mencatat curah hujan pada dasarian pertama Oktober berada dalam kategori rendah, yakni 0–50 milimeter di wilayah Sumsel.
Sebagian besar wilayah juga diprakirakan masih berpeluang mengalami curah hujan rendah pada dasarian kedua Oktober.
Minimnya hujan dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Kondisi ini menjadi alasan penting bagi petugas untuk tetap meningkatkan pengawasan, meskipun jumlah titik panas di Sumsel sudah berkurang.
Sementara itu, citra satelit Himawari yang dianalisis BMKG pada 7 Oktober sebelumnya menunjukkan sebaran asap di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan. Data tersebut memberikan gambaran adanya sebaran asap pada tanggal pengamatan, tetapi belum cukup untuk memastikan kondisi udara Palembang pada Minggu (11/10/2026).
Untuk mengetahui apakah udara Palembang benar-benar membaik, data hotspot perlu dibaca bersama hasil pemantauan kualitas udara, citra sebaran asap, dan kondisi angin terbaru.
Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi resmi sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama apabila asap terlihat pekat atau muncul gangguan pernapasan.
Penurunan jumlah hotspot menjadi perkembangan yang patut dicatat. Namun, ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya berkurangnya titik panas, melainkan juga terkendalinya kebakaran dan membaiknya kondisi udara yang dirasakan masyarakat.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai kondisi udara Palembang belum dapat dijawab hanya dari angka 60 hotspot. Data kualitas udara terbaru tetap diperlukan untuk memastikan apakah pencemaran masih tinggi atau sudah berangsur menurun. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
