Karhutla Sumsel Makin Ganas, Water Bombing Tak Cukup! Perlu Jurus Baru
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perang melawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) belum selesai. Meski jumlah titik panas terdeteksi menurun, persoalan di lapangan belum bisa dianggap aman.
Justru di tengah penurunan hotspot itu, pemerintah mulai mendorong cara berbeda untuk menghadapi Karhutla Sumsel. Water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap dijalankan, tetapi dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi penguatan pencegahan di darat.
Hal itu mengemuka dalam Pertemuan Koordinasi Kolaborasi Penanggulangan Karhutla di Kantor BPBD Sumsel, Rabu (7/10/2026).
Gubernur Sumsel H. Herman Deru mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dalam penanganan Karhutla. Ia menjelaskan kondisi cuaca semakin kering akibat fenomena El Nino menjadi salah satu tantangan harus dihadapi bersama.
Sejumlah wilayah masih menjadi perhatian, terutama OKI, Kayuagung, Muara Enim, Banyuasin dan Musi Banyuasin.
Menurutnya, persoalan menjadi lebih rumit, karena banyak kawasan rawan berada di lahan gambut. Di wilayah seperti ini, api tidak selalu selesai ketika nyala di permukaan berhasil dipadamkan.
“Langkah aksi maupun regulasi sudah kami lakukan secara maksimal, tentunya tetap dalam koridor hukum. Namun, kita juga membutuhkan stamina fisik maupun psikis bagi para petugas yang berada di lapangan,” katanya.
Water bombing saja tidak cukup
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Dian Faizal Hendropiyono menegaskan penanganan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan operasi udara.
Ia mengapresiasi respons cepat Sumsel melalui OMC dan water bombing. Namun, dua metode tersebut harus berjalan beriringan dengan penguatan infrastruktur di lokasi rawan.
Pemerintah juga mendorong ketersediaan pompa, kanal blocking hingga water intake agar air lebih mudah digunakan ketika kebakaran muncul.
Dia menambahkan pertarungan melawan Karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Infrastruktur air harus tersedia lebih dulu di titik-titik rawan.
Dia juga meminta perusahaan ikut mengambil bagian dalam membangun infrastruktur pencegahan dan penanggulangan Karhutla.
Hotspot Sumsel turun, tapi belum berarti aman
Data Kementerian Kehutanan melalui Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Karhutla (SiPongi) menunjukkan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumsel memang mengalami penurunan.
Hingga Selasa (6/10) pukul 21.00 WIB, Sumsel tercatat memiliki 71 hotspot high confidence, turun dari 142 titik sehari sebelumnya.
Secara nasional, hotspot high confidence juga turun dari 1.359 menjadi 1.201 titik. Namun, angka tersebut tidak otomatis berarti jumlah kebakaran dan luas lahan terbakar ikut turun dalam besaran yang sama.
Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tetap membutuhkan groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Hal ini penting terutama di kawasan gambut. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meskipun api di atas permukaan sudah tidak terlihat.
Operasi darat tetap berjalan melalui patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up dan pendinginan.
61 armada udara masih disiagakan
Pemerintah juga belum menarik kekuatan udara dari operasi Karhutla, bahkan sebanyak 61 unit armada udara disiagakan, terdiri dari 17 unit untuk patroli dan OMC serta 44 unit untuk water bombing.
Enam provinsi masih menjadi wilayah prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Artinya, meski hotspot harian mengalami penurunan, status kewaspadaan belum diturunkan.
Udara Palembang masih berbahaya
Ancaman Karhutla juga terasa dari kondisi udara, data BMKG pada Rabu (7/10) pukul 13.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Talang Betutu Palembang mencapai 434,0 µg/m³, sedangkan Musi 2 mencapai 392,1 µg/m³. Keduanya masuk kategori berbahaya.
Kondisinya bahkan lebih tinggi pada pagi hari. Pada pukul 06.00 WIB, PM2.5 di Musi 2 tercatat 478,4 µg/m³, sementara Talang Betutu mencapai 470,2 µg/m³, yang juga berada pada kategori berbahaya.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penurunan hotspot tidak serta-merta membuat persoalan asap selesai. Kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah angin dan dinamika atmosfer.
Masyarakat pun diminta tetap mengikuti informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi memburuk. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil dan masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah kini menghadapi pekerjaan yang lebih besar: bukan hanya mengejar api dari udara, tetapi memastikan air, pompa dan infrastruktur pencegahan sudah tersedia sebelum api kembali membesar. Karhutla Sumsel mungkin menunjukkan penurunan pada angka hotspot, tetapi perang di lapangan belum benar-benar berakhir. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
