Gajah Sumatra Tak Kenal Batas Kawasan, Ini yang Jadi Masalah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 24 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Gajah Sumatra tidak mengenal batas kawasan yang dibuat manusia. Saat mencari pakan, air, hingga tempat berkembang biak, satwa ini membutuhkan ruang yang saling terhubung. Persoalannya, jalur pergerakan gajah tidak selalu berada di satu kawasan, apalagi ruang jelajahnya dapat melewati berbagai fungsi wilayah dan bersinggungan dengan aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga Gajah Sumatra di Lanskap Bukit Tigapuluh yang berada di wilayah Jambi dan Riau.
Lanskap ini merupakan salah satu bentang alam penting bagi Gajah Sumatra, karena guna menjaga keberadaan satwa tidak cukup hanya dengan mempertahankan kawasan hutan, tetapi juga memastikan jalur yang menghubungkan habitatnya tetap tersedia.
Gajah Butuh Jalur yang Terhubung
Koridor menjadi penting karena gajah menggunakannya untuk berpindah, mencari makanan dan sumber air, serta menjalankan aktivitas alaminya.
Ketika ruang tersebut terputus, pergerakan satwa dapat semakin terbatas. Kondisi itu juga dapat meningkatkan peluang terjadinya interaksi antara gajah dan manusia.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Tebo di Desa Muara Sekalo, Kabupaten Tebo, Jambi.
Raja Juli mengatakan perlindungan habitat gajah tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan juga harus menjadi bagian dari upaya konservasi.
“Penegakan hukum itu penting. Tapi pada saat yang bersamaan, kita juga harus memberikan alternatif kepada mereka. Apa alternatif yang ideal yang bisa kita tawarkan kepada mereka?” ujar Raja Juli melansir dilaman resmi kehutanan, Selasa (29/9/2026).
Menurut dia, pemberdayaan masyarakat perlu berjalan bersamaan dengan perlindungan kawasan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap habitat tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat di sekitar lanskap.
Gubernur Jambi Al Haris juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan gajah dan kehidupan masyarakat. “Jadi bagaimana gajah kita tetap dijaga, tetapi masyarakat di sekitarnya juga diperhatikan,” kata Al Haris.
Konservasi Tak Cukup di Dalam Hutan
Upaya menjaga Lanskap Bukit Tigapuluh turut diperkuat melalui PROTECT30 atau Promoting Sustainable Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in the Bukit Tigapuluh Landscape.
Program tersebut merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan Proforest, Yayasan WWF-Indonesia dan KKI Warsi, dengan dukungan APP Group serta koordinasi bersama pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, sektor swasta dan pemangku kepentingan lainnya.
Sejumlah kegiatan diarahkan untuk menjaga dan memulihkan habitat, memperkuat konektivitas ruang jelajah gajah, meningkatkan kapasitas masyarakat, mengembangkan alternatif mata pencaharian serta memperkuat tata kelola lanskap.
Salah satu bentuk kegiatan di lapangan dilakukan melalui pengayaan sumber pakan gajah pada area sekitar 2,8 hektare.
Area tersebut ditanami tebu, pisang, nanas dan rumput gajah untuk menambah ketersediaan pakan sekaligus mendukung kualitas habitat.
Selain itu, pemantauan habitat dan jalur pergerakan gajah dilakukan untuk mengetahui kondisi ruang hidup satwa serta mendukung pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Ruang Gajah dan Manusia
Persoalannya memang tidak sederhana. Gajah membutuhkan ruang yang luas dan saling terhubung, sementara kawasan yang dilaluinya memiliki fungsi, status pengelolaan dan aktivitas manusia yang beragam.
Oleh sebab itu, perlindungan Gajah Sumatra tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan koordinasi lintas wilayah, pemantauan lapangan, pengelolaan habitat, pencegahan konflik manusia dan satwa liar, serta keterlibatan masyarakat.
Lanskap Bukit Tigapuluh menunjukkan bahwa menjaga gajah bukan hanya tentang mempertahankan satwa di dalam hutan.
Yang juga harus dijaga adalah jalur yang membuat gajah tetap bisa bergerak, mencari pakan dan berkembang biak secara alami, tanpa mengabaikan masyarakat yang hidup di sekitar habitatnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
