BI Bongkar Tantangan Inovasi Digital, Jangan Berhenti Jadi Ide
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Inovasi digital di Indonesia dinilai tidak cukup hanya melahirkan gagasan baru karena ada tantangan berikutnya yaitu, memastikan inovasi benar-benar berubah menjadi solusi yang memberi nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro saat membuka Casual Talk bertajuk “Strategi dan Pemanfaatan Inovasi Digital sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi” dalam rangkaian FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (25/9/2026).
Solikin mengatakan peningkatan produktivitas menjadi salah satu kunci agar Indonesia dapat naik kelas dan keluar dari jebakan pendapatan menengah. Karena itu, inovasi harus diarahkan pada sesuatu yang menghasilkan dampak nyata bagi perekonomian.
“Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas,” kata Solikin.
Menurut dia, Indonesia masih memiliki ruang besar untuk memperkuat kemampuan inovasinya. Hal itu tercermin dari posisi Indonesia yang berada di peringkat ke-55 dalam Global Innovation Index 2025 yang diterbitkan World Intellectual Property Organization (WIPO).
Namun, penguatan inovasi tidak bisa dilakukan hanya oleh satu lembaga. Pemerintah, regulator, industri, asosiasi, akademisi, hingga talenta digital perlu bergerak dalam ekosistem yang sama.
Salah satu upaya BI adalah memperkuat Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Pusat ini dirancang bukan sekadar menjadi tempat munculnya gagasan teknologi, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji, mengembangkan, dan mempertemukan inovasi dengan kebutuhan industri.
BI mengembangkan PIDI melalui tiga jalur utama, yakni market intelligence, innovation experimentation, dan digital talent development.
Melalui market intelligence, perkembangan teknologi dan kebutuhan industri dipetakan untuk melihat manfaat sekaligus risikonya. Sementara innovation experimentation memberi ruang bagi pengembangan dan pengujian gagasan, salah satunya melalui program Hackathon.
Adapun pengembangan talenta digital dilakukan melalui DIGDAYA yang mencakup pembelajaran, sertifikasi, bursa kerja, hingga pertemuan antara talenta dengan industri.
Target akhirnya bukan sekadar menghasilkan teknologi baru pasalnya, BI ingin inovasi dikembangkan bisa menjawab persoalan nyata, membuka lapangan kerja, serta menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
QRIS Jadi Contoh Inovasi yang Sudah Teruji
Salah satu contoh inovasi digital yang sudah menunjukkan dampak luas adalah QRIS.
BI mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 69,32 juta orang, sedangkan jumlah merchant mencapai 47,11 juta hingga Agustus 2026.
Angka tersebut menunjukkan bagaimana inovasi sistem pembayaran dapat berkembang dari sebuah teknologi menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.
BI menyebut capaian QRIS sebagai salah satu kisah sukses inovasi digital. Tantangannya kini adalah melahirkan inovasi berikutnya yang mampu memberikan dampak serupa.
Percepatan inovasi tersebut menjadi bagian dari agenda Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Pengembangannya tetap diarahkan agar berjalan bersama persaingan usaha yang sehat, pelindungan konsumen, integritas, serta stabilitas sistem pembayaran.
OJK Siapkan Ruang Uji untuk Inovasi Baru
Di sektor jasa keuangan, pesatnya inovasi juga menuntut adanya mekanisme pengujian sebelum sebuah teknologi diterapkan secara luas.
Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Gonthor Ryantori Aziz mengatakan pendekatan sandbox menjadi salah satu cara untuk menjembatani perkembangan inovasi dengan kebutuhan menjaga stabilitas sektor keuangan.
Melalui sandbox, inovasi dapat diuji dalam kondisi nyata dengan memperhatikan aspek tata kelola, manajemen risiko, transparansi, dan pelindungan konsumen.
Persoalannya tidak berhenti pada tahap pengujian. Ketika layanan keuangan semakin terintegrasi, koordinasi antarotoritas juga menjadi semakin penting.
Bank Indonesia, OJK, kementerian/lembaga, dan industri perlu memperkuat pemetaan kewenangan, pertukaran informasi, hingga mekanisme penanganan insiden.
Tujuannya agar inovasi tetap bisa berkembang tanpa mengorbankan keamanan dan kepercayaan masyarakat.
AI Mulai Dipakai untuk Hadapi Ancaman Fraud
Dari sisi industri, tantangan lain muncul ketika transaksi digital semakin cepat dan volumenya terus bertambah.
Anggota Dewan Pengawas AFTECH Niki Luhur mengatakan sistem keamanan industri perlu ikut berkembang. Pengguna menginginkan transaksi yang cepat dan mudah, tetapi kemudahan tersebut tidak boleh membuat aspek keamanan menjadi nomor dua.
Salah satu teknologi yang mulai dimanfaatkan adalah sistem intelijen fraud berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi pola transaksi yang tidak normal secara lebih cepat sehingga industri memiliki kesempatan untuk mencegah risiko sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Niki menekankan pengamanan tidak seharusnya baru diperkuat setelah kasus terjadi, pendekatan yang dibutuhkan adalah pencegahan sejak awal, dengan dukungan standar industri dan kepatuhan yang kuat.
Inovasi Harus Berujung pada Dampak
Diskusi yang menghadirkan Fitria Irmi Triswati dari PIDI, Gonthor Ryantori Aziz dari OJK, Gretel Griselda dari ASPI, dan Niki Luhur dari AFTECH itu pada akhirnya mengarah pada satu persoalan: bagaimana membuat inovasi digital tidak berhenti sebagai konsep.
Ekosistem yang melibatkan regulator, pemerintah, industri, asosiasi, akademisi, dan talenta digital menjadi penting karena perkembangan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Ukuran keberhasilan inovasi bukan hanya seberapa banyak teknologi baru yang lahir, yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu menyelesaikan persoalan, meningkatkan produktivitas, memperluas akses ekonomi, menciptakan pekerjaan, dan memberi nilai tambah.
FEKDI x IFSE 2026 sendiri berlangsung pada 24–26 September 2026 di JICC Jakarta. Agenda tersebut menghadirkan seminar, talkshow, showcase inovasi teknologi, digital experience, serta sesi jejaring yang mempertemukan regulator, industri, talenta, dan masyarakat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
