Sungai Bendung Direhabilitasi lewat NUFReP, Warga Palembang Bakal Rasakan Apa?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 34 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sungai Bendung menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian dalam program penanganan banjir Kota Palembang tahun ini. Melalui National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), sungai tersebut akan direhabilitasi sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengendalian banjir di kawasan perkotaan.
Rencana dibahas dalam Rapat Koordinasi NUFReP Tahun Anggaran 2026 yang digelar Pemerintah Kota Palembang. Pertemuan tersebut tidak hanya membahas pekerjaan fisik, tetapi juga berbagai hal yang perlu disiapkan sebelum program berjalan.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Palembang, Drs. Kgs. H. Sulaiman Amin, mengatakan persoalan banjir tidak bisa diselesaikan hanya dengan penanganan ketika air sudah menggenangi permukiman.
Menurut dia, upaya mengurangi risiko banjir perlu dilakukan sejak awal, dengan melibatkan berbagai sektor dan menyesuaikan kondisi perkotaan yang terus berkembang.
“Penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Kita membutuhkan langkah yang preventif, terintegrasi, adaptif dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh sektor,” kata Sulaiman.
Rehabilitasi Sungai Bendung menjadi salah satu bagian penting dari dukungan NUFReP untuk Palembang. Program tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki sistem pengendalian air sekaligus mengurangi risiko genangan di kawasan yang terdampak.
Namun, pekerjaan di lapangan bukan satu-satunya hal yang harus dipersiapkan.
Pemkot Palembang juga menyoroti persoalan pengadaan tanah, kesiapan kegiatan, serta pemenuhan standar lingkungan dan sosial. Hal ini menjadi perhatian karena pelaksanaan proyek dapat bersinggungan langsung dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Karena itu, pemerintah daerah meminta perangkat daerah, camat, lurah dan masyarakat ikut mengawal pelaksanaan program. Sosialisasi kepada warga sekitar juga dinilai penting agar masyarakat mengetahui tujuan proyek sekaligus memahami perubahan yang mungkin terjadi selama kegiatan berlangsung.
“Partisipasi masyarakat sangat penting. Karena itu, sosialisasi harus terus diperkuat sehingga masyarakat memahami program, termasuk dampak dan manfaat yang akan dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Sulaiman.
NUFReP sendiri tidak hanya menyasar pembangunan infrastruktur. Program kerja sama Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia tersebut juga mencakup penguatan kelembagaan, perencanaan berbasis risiko, peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta keterlibatan masyarakat dalam menghadapi ancaman banjir.
Untuk penanganan fisik, pendekatannya dapat mencakup penguatan drainase primer, pembangunan kolam retensi, peningkatan tanggul hingga pemanfaatan solusi berbasis alam atau Nature-Based Solutions.
Sementara dari sisi nonfisik, pemerintah didorong memperkuat analisis risiko banjir dan tata kelola sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan mitigasi.
Kepala BBWS Sumatera VIII dan Balai Pelaksana Jalan Nasional Sumatera Selatan Hardy Pangihutan Siahaan, Kepala BPN Kota Palembang Dhona Fiermansyah Lubis, jajaran perangkat daerah, camat dan lurah se-Kota Palembang serta konsultan Technical and Program Implementation Support (TePIS) Regional-2 Kota Palembang turut hadir dalam rapat koordinasi tersebut.
Bagi Palembang, rehabilitasi Sungai Bendung pada akhirnya bukan hanya soal membenahi aliran air. Program ini juga akan menjadi ujian bagaimana pemerintah, lembaga teknis dan masyarakat bisa bekerja bersama menghadapi persoalan banjir yang semakin kompleks. Harapannya ketika hujan deras datang, risiko genangan bisa ditekan dan warga memiliki sistem perlindungan yang lebih baik. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
