Buaya Sinyulong Muncul di Mempawah, Tiga Anakan Baru Menetas Buka Petunjuk soal Habitatnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :kkp.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Buaya sinyulong kembali ditemukan di Kalimantan Barat. Bukan satu, melainkan tiga anakan yang baru menetas muncul di kawasan permukiman nelayan Dusun Teredu, Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah.
Temuan ini menjadi perhatian bukan hanya karena ketiga satwa tersebut merupakan jenis langka, tetapi juga karena keberadaan anakan yang baru menetas bisa menjadi petunjuk bahwa kawasan Sungai Mempawah Hulu masih mendukung perkembangbiakan buaya sinyulong.
Menurut masyarakat Dayak Kanayatn/Ahe, satwa ini dikenal dengan sebutan Baringayong. Ketiga anakan yang ditemukan memiliki ukuran hampir sama, masing-masing sekitar 33 sentimeter.
Temuan tersebut bermula dari laporan warga pada 20 Agustus 2026. Masyarakat melaporkan adanya telur buaya yang menetas di sekitar kawasan permukiman nelayan. Di saat bersamaan, muncul informasi mengenai dugaan rencana perdagangan satwa tersebut.
Laporan itu kemudian ditindaklanjuti Tim Respon Cepat Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak. Petugas mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi satwa sekaligus mengumpulkan informasi sebelum melakukan evakuasi.
Penanganan dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kesejahteraan satwa. Setelah dievakuasi, ketiga anakan tersebut dibawa ke tempat penampungan sementara milik Balai PK Pontianak untuk mendapatkan perawatan.
Hasil pemeriksaan awal secara daring bersama dokter hewan spesialis, drh. Rio, menunjukkan kondisi ketiganya secara umum cukup baik. Namun, masih terdapat sisa kantung kuning telur atau yolk sac pada bagian bawah tubuh.
Kondisi itu perlu mendapat perhatian karena sisa kantung kuning telur yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, ketiga anakan kini menjalani pemeliharaan dan inkubasi secara intensif hingga kondisi fisiknya pulih dan stabil.
Bagi Balai PK Pontianak, kemunculan buaya sinyulong Mempawah juga memberikan informasi penting terkait sebaran satwa tersebut di Kalimantan Barat.
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarief Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan keberadaan anakan yang baru menetas menjadi indikasi bahwa ekosistem Sungai Mempawah Hulu masih memiliki kondisi yang memungkinkan spesies tersebut berkembang biak.
“Sebaran buaya sinyulong di Kalimantan Barat sebelumnya lebih banyak teridentifikasi di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Ketapang. Temuan anakan yang baru menetas di wilayah Mempawah mengonfirmasi bahwa ekosistem Sungai Mempawah Hulu masih mendukung keberadaan dan reproduksi spesies ini,” kata Iwan dalam siaran resmi, Minggu (30/8).
Menurut dia, temuan tersebut perlu dilihat lebih jauh karena kondisi habitat sangat menentukan keberlangsungan populasi satwa. Degradasi dan fragmentasi rawa gambut, perubahan debit sungai hingga ketersediaan pakan alami menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi habitat buaya sinyulong.
Artinya, kemunculan tiga anakan tersebut bukan sekadar soal penyelamatan satwa dari kawasan permukiman. Temuan ini sekaligus memberikan gambaran baru mengenai keberadaan populasi buaya sinyulong di wilayah Mempawah.
Dengan tambahan tiga anakan tersebut, Balai PK Pontianak kini menangani empat anakan buaya. Selain tiga anakan sinyulong, terdapat satu anakan buaya muara berukuran sekitar 38 sentimeter yang sebelumnya juga telah dievakuasi.
Balai PK Pontianak bersama pemerintah desa dan aparat setempat selanjutnya melakukan pemantauan kawasan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.
Masyarakat diminta tidak menangkap, memelihara ataupun memperjualbelikan buaya sinyulong. Satwa ini termasuk yang dilindungi dan berstatus Endangered dalam daftar merah IUCN serta tercantum dalam Appendix I CITES.
Temuan tiga anakan yang baru menetas di Mempawah pada akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga satwa tidak cukup hanya dengan menyelamatkan individunya. Kondisi sungai, rawa dan lingkungan tempat satwa berkembang biak juga ikut menentukan apakah populasi buaya sinyulong dapat terus bertahan di Kalimantan Barat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
