Gajah Sumatera Yuyun Jadi Perhatian di PLG Saree, Ada Pelajaran Penting di Balik Cara Mahout Merawatnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Gajah Sumatera bukan hanya satwa besar yang hidup di hutan. Di balik tubuhnya yang kuat, satwa ini memiliki karakter, kebiasaan, dan kebutuhan yang membuat proses merawatnya membutuhkan pengetahuan sekaligus kesabaran.
Hal itu dirasakan langsung 60 anak muda peserta Forest Youthverse (FYV) Resilience Aceh 2026 ketika mengunjungi Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Rabu (26/8).
Di tempat itu, perhatian peserta tertuju pada Yuyun, seekor gajah yang sehari-hari dirawat oleh mahout. Pertemuan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi para peserta yang selama ini lebih banyak mengenal gajah Sumatera melalui buku, foto, maupun media sosial.
Yuyun bukan hanya diperkenalkan sebagai satwa yang harus dilindungi. Peserta juga diajak melihat bagaimana seekor gajah dirawat, mulai dari kebutuhan pakan, kesehatan, perilaku hingga interaksi sehari-hari dengan mahout.
Dari sana muncul satu pelajaran penting konservasi gajah tidak berhenti pada upaya menyelamatkan satwanya. Hutan sebagai habitat juga harus tetap terjaga.
Mengenal Yuyun dari dekat
Mouludin, mahout yang sudah mendampingi Yuyun selama sekitar empat tahun, mengatakan gajah memiliki karakter yang berbeda-beda.
Menurutnya, Yuyun termasuk gajah yang ceria, aktif, banyak makan dan sedikit usil. Ia juga cukup senang berinteraksi dengan manusia.
Karakter seperti itu membuat seorang mahout tidak bisa hanya mengandalkan rutinitas dalam merawat gajah.
“Merawat gajah bukan sekadar memberi makan. Kita harus mengenali kebiasaannya, kondisi kesehatannya, suasana hatinya, dan membangun kepercayaan setiap hari,” ujar Mouludin.
Penjelasan tersebut menjadi bagian menarik dari kunjungan para Genries. Mereka tidak hanya melihat gajah dari jarak dekat, tetapi juga memahami bahwa hubungan antara mahout dan gajah dibangun melalui interaksi yang dilakukan secara konsisten.
Pemberian pakan, perawatan, latihan hingga pemantauan kondisi gajah menjadi bagian dari keseharian yang membutuhkan keterampilan dan ketelitian.
Bagi Arya Alfarisi, salah seorang Genries asal Aceh, pengalaman bertemu langsung dengan Yuyun membuat pandangannya terhadap konservasi gajah berubah.
Selama ini, kata dia, gajah lebih banyak dikenalnya melalui cerita dan media sosial. Setelah melihat langsung proses perawatan di PLG Saree, ia menyadari bahwa menjaga gajah membutuhkan kesabaran, pengetahuan dan komitmen.
Gajah Sumatera dan persoalan yang lebih besar
Cerita Yuyun sebenarnya hanya satu bagian kecil dari persoalan konservasi di Aceh.
Wilayah ini memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Bentang alam Leuser bahkan menjadi habitat bagi empat satwa penting, yakni gajah Sumatera, harimau Sumatera, badak Sumatera dan orangutan Sumatera.
Artinya, ketika habitat hutan mengalami tekanan, persoalannya bukan hanya hilangnya tempat tinggal satu jenis satwa.
Ada ekosistem yang ikut dipertaruhkan, karena menjaga populasi gajah Sumatera juga berkaitan dengan bagaimana manusia menjaga hutan, koridor satwa dan ruang hidup yang memungkinkan satwa liar bergerak tanpa terus berhadapan dengan permukiman atau aktivitas manusia.
Di Aceh, persoalan tersebut juga terlihat dari konflik manusia dan gajah. Ketika habitat dan jalur pergerakan gajah terganggu, perjumpaan dengan manusia dapat terjadi dan berpotensi menimbulkan konflik.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan BKSDA Aceh dalam merespons persoalan tersebut adalah Conservation Response Unit (CRU), yang turut mendukung penanganan konflik manusia dan gajah liar.
Anak muda diajak melihat konservasi dari lapangan
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Luckmi Purwandari, mengatakan pengalaman di lapangan sengaja diberikan agar peserta Forest Youthverse tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari ruang kelas.
Menurutnya, generasi muda perlu melihat secara langsung bagaimana persoalan kehutanan dan konservasi berlangsung di tingkat tapak.
“Menjaga satwa tidak dapat dipisahkan dari menjaga hutannya,” kata Luckmi.
Pengalaman seperti ini diharapkan membuat konservasi terasa lebih dekat. Bukan sekadar istilah yang muncul dalam kampanye lingkungan, tetapi persoalan nyata yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Bagi para Genries, perjumpaan dengan Yuyun sekaligus menjadi cara sederhana untuk memahami bahwa menjaga satwa liar bukan pekerjaan satu pihak saja.
Ada mahout yang merawatnya setiap hari, ada pengelola kawasan yang menjaga habitat, ada masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa, dan ada generasi muda yang kelak ikut menentukan bagaimana hutan dan satwa di dalamnya diperlakukan.
Pada akhirnya, Yuyun mungkin hanya seekor gajah yang ditemui para peserta dalam satu kegiatan.
Namun dari seekor gajah itu, mereka bisa melihat persoalan yang jauh lebih besar, ketika hutan tetap menjadi rumah, gajah memiliki ruang untuk hidup dan manusia memiliki peluang lebih besar untuk hidup berdampingan dengannya.
Itulah makna konservasi yang sesungguhnya, bukan hanya membuat gajah tetap ada, tetapi memastikan rumahnya juga tidak hilang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
