Cara Mengenali Bakat Olahraga Anak Sejak Sekolah, Tak Harus Menunggu Jadi Juara
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 26 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

kemenpora.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Menemukan bakat olahraga anak tidak selalu harus menunggu mereka memenangkan pertandingan. Kemampuan tertentu justru bisa terlihat sejak anak mengikuti aktivitas olahraga di sekolah.
Di tahap inilah guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) memiliki peran penting. Guru berinteraksi langsung dengan siswa sehingga dapat melihat minat, kemampuan gerak, karakter, hingga respons anak ketika mencoba berbagai aktivitas fisik.
Pemetaan bakat olahraga sejak usia sekolah dapat menjadi langkah awal untuk menentukan bentuk pembinaan yang lebih sesuai. Namun, proses tersebut sebaiknya tidak dilakukan dengan cara terburu-buru mengarahkan anak hanya kepada satu cabang olahraga.
Bakat olahraga perlu dikenali secara lebih objektif
Pilihan anak terhadap olahraga tertentu sering kali dipengaruhi banyak hal. Ada yang memilih karena menyukai cabangnya, mengikuti teman, melihat atlet idolanya, atau karena olahraga tersebut populer di lingkungan sekolah.
Pilihan tersebut tentu tetap penting. Namun, guru dan orang tua dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap dengan melihat kemampuan fisik dan karakteristik anak melalui identifikasi bakat olahraga.
Pendekatan seperti ini digunakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam pembinaan talenta olahraga. Dalam salah satu pelatihan bagi guru PJOK di Malang, sebanyak 70 guru dibekali kemampuan menggunakan tes identifikasi bakat berbasis Manajemen Talenta Nasional (MTN).
Hasil pemetaan diharapkan dapat membantu guru memberikan rekomendasi yang lebih tepat kepada siswa, termasuk ketika memilih kegiatan ekstrakurikuler atau jalur pembinaan olahraga.
Guru PJOK juga menjadi pihak yang strategis karena proses menemukan calon atlet dapat dimulai dari lingkungan sekolah.
Akademisi sekaligus sport scientist Universitas Negeri Surabaya, Donny Ardy Kusuma, menilai guru olahraga memiliki posisi penting dalam menemukan calon atlet karena berhadapan langsung dengan siswa.
Artinya, sekolah bukan hanya tempat belajar akademik. Lingkungan sekolah juga dapat menjadi ruang awal untuk mengenali potensi olahraga anak.
Jangan hanya mengejar satu cabang olahraga
Satu hal yang tidak kalah penting dalam pembinaan atlet usia dini adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal berbagai jenis gerakan.
Anak membutuhkan fondasi kemampuan gerak sebelum diarahkan secara lebih spesifik pada cabang olahraga tertentu. Kemampuan seperti berlari, melompat, melempar, menangkap, menjaga keseimbangan, dan mengoordinasikan gerakan menjadi bagian dari perkembangan fisik yang penting.
Pendekatan Fun and Active Multilateral Movement (FAMM) menempatkan aktivitas gerak yang beragam dan menyenangkan sebagai bagian dari proses tersebut.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak bergerak, tetapi membangun pengalaman positif terhadap olahraga. Dengan begitu, aktivitas fisik tidak terasa sebagai kewajiban, melainkan menjadi kegiatan yang menyenangkan.
Pendekatan ini juga membantu mengembangkan literasi fisik anak. Semakin banyak pengalaman gerak yang diperoleh, semakin banyak pula kesempatan anak mengenali aktivitas yang paling sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
Hasil pemetaan bisa menjadi dasar pembinaan
Pemetaan bakat olahraga tidak seharusnya berhenti pada hasil tes. Informasi yang diperoleh perlu diterjemahkan menjadi rekomendasi dan pembinaan.
Siswa yang menunjukkan kecenderungan tertentu dapat diarahkan mengikuti ekstrakurikuler, klub olahraga, atau program pembinaan yang sesuai. Dengan cara tersebut, proses pengembangan talenta menjadi lebih terarah.
Guru PJOK dapat menjadi penghubung antara hasil identifikasi bakat dengan kesempatan pembinaan yang tersedia di sekolah maupun lingkungan sekitar.
Dalam pelatihan Kemenpora di Malang, hasil pemetaan potensi siswa juga diarahkan agar dapat terintegrasi dengan sistem Satu Data Kemenpora. Data tersebut diharapkan dapat mendukung proses identifikasi dan pembinaan talenta olahraga secara lebih terstruktur.
Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenpora, Angga Prananda Bakti, juga mendorong guru untuk menerapkan kemampuan identifikasi bakat yang diperoleh di sekolah, komunitas, maupun organisasi olahraga yang mereka ikuti.
Anak basket belum tentu paling cocok basket
Pengalaman guru di sekolah menunjukkan bahwa hasil pemetaan terkadang memberikan gambaran berbeda dari pilihan awal siswa.
Guru PJOK SMP Negeri 5 Malang, Lulut Rosvita, misalnya, menemukan bahwa seorang siswa yang sebelumnya memilih bola basket justru menunjukkan kecenderungan lebih sesuai dengan permainan bola voli berdasarkan hasil pemetaan.
Contoh tersebut menunjukkan mengapa identifikasi bakat dapat menjadi bahan pertimbangan tambahan. Anak tetap memiliki kebebasan memilih olahraga yang disukai, tetapi guru mempunyai informasi lain untuk membantu mengarahkannya.
Pendekatan seperti ini juga mengurangi risiko anak merasa harus terus menekuni olahraga yang sebenarnya kurang sesuai dengan karakteristik kemampuannya.
Peran orang tua dan sekolah tetap penting
Hasil tes bukan berarti menjadi keputusan mutlak mengenai masa depan anak. Bakat olahraga perlu dilihat bersama minat, perkembangan fisik, kondisi anak, serta pengalaman mereka dalam berolahraga.
Karena itu, orang tua dan guru sebaiknya tidak hanya bertanya, “Anak ini jago olahraga apa?”
Pertanyaan yang lebih luas adalah: gerakan apa yang paling dikuasai, aktivitas apa yang membuat anak bersemangat, dan lingkungan olahraga seperti apa yang membuatnya berkembang?
Dari sana, pembinaan dapat dilakukan secara bertahap tanpa menghilangkan unsur bermain dan kegembiraan.
Budaya aktif juga menjadi bagian dari pembinaan
Pencarian talenta olahraga pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan masyarakat untuk aktif bergerak.
Kemenpora juga mendorong pemerintah daerah menyediakan ruang olahraga bagi masyarakat, salah satunya melalui Car Free Day Olahraga. Lingkungan yang mendukung aktivitas fisik memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk bergerak di luar jam pelajaran.
Bagi anak, kebiasaan aktif sejak usia dini bukan hanya berkaitan dengan kemungkinan menjadi atlet. Aktivitas fisik juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan perkembangan kemampuan gerak.
Karena itu, menemukan bakat olahraga sebaiknya dipahami sebagai proses jangka panjang. Tes dapat membantu memetakan potensi, guru membantu membaca perkembangannya, sementara sekolah, orang tua, komunitas, dan pemerintah menyediakan ruang agar kemampuan tersebut dapat tumbuh.
Dengan pendekatan tersebut, calon atlet tidak harus selalu ditemukan setelah memenangkan kompetisi. Potensinya bisa mulai dikenali dari aktivitas sederhana di sekolah, kemudian berkembang melalui pembinaan yang sesuai dan pengalaman olahraga yang menyenangkan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
