Gempa NTT M7,7, BNPB Petakan Jalur Bantuan di Flores, Dropping Logistik Jadi Pilihan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pemantauan dilakukan menggunakan helikopter pada hari ketujuh setelah gempa, Jumat (21/8). Tim BNPB menyisir wilayah dari Labuan Bajo hingga Nagekeo untuk melihat langsung kondisi wilayah yang terdampak, terutama daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dari udara, sejumlah permukiman terlihat berada di kawasan perbukitan. Kondisi medan seperti ini menjadi perhatian karena kendaraan pengangkut logistik tidak mudah mencapai lokasi warga.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan survei tersebut tidak hanya untuk melihat kondisi kerusakan, tetapi juga memastikan informasi yang sebelumnya diterima dari pemerintah daerah dan masyarakat.
“Kita buat foto secara singkat, secara rangkaian supaya nanti kita bisa melihat secara utuh kawasan terdampak dari kawasan pesisir hingga daratan,” kata Abdul Muhari.
Rute pemantauan mencakup pesisir utara Flores, mulai dari Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada hingga Nagekeo. Helikopter diterbangkan pada ketinggian sekitar 25 sampai 30 meter dari permukaan tanah sehingga kondisi lanskap dapat diamati dengan cukup jelas.
Akses Darat Jadi Kendala
Salah satu temuan penting dari survei udara BNPB adalah persoalan akses menuju sejumlah titik pengungsian atau permukiman yang berada di lokasi sulit dijangkau.
Jika bantuan dalam jumlah besar harus dikirim menggunakan truk atau mobil, medan menjadi salah satu kendala. Karena itu, BNPB menyiapkan alternatif berupa dropping logistik melalui udara untuk wilayah tertentu.
“Kondisi seperti ini tentu cukup sulit jika dikejar dengan truk logistik atau mobil angkut yang membawa bantuan hingga 1 ton. Jadi untuk daerah-daerah ini akan kita optimalkan dengan dropping logistik via udara,” ujar Abdul Muhari.
Survei juga digunakan untuk mencari titik yang memungkinkan dijadikan lokasi penurunan bantuan menggunakan helikopter. Dengan begitu, distribusi bantuan korban gempa dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan tanpa sepenuhnya bergantung pada akses kendaraan roda empat.
Dampak Tsunami Disebut Minor
Selain persoalan distribusi bantuan, pemantauan dari udara juga memberikan gambaran mengenai dampak tsunami setelah gempa NTT M7,7.
Abdul Muhari menyebut dampak tsunami secara umum tergolong minor. Meski begitu, ada sejumlah lokasi pesisir dengan kondisi geografis tertentu yang berpotensi memperkuat gelombang.
Beberapa permukiman berada di kawasan cekungan maupun teluk. Kondisi tersebut membuat wilayah tertentu berpotensi mengalami landaan tsunami lebih besar dibanding daerah di sekitarnya.
Namun, BNPB tidak melihat dampak tsunami sebagai kejadian yang melanda kawasan permukiman secara luas.
“Yang sifatnya hamparan, kita melihat hanya di dua titik. Itu di posisi Riung dan perbatasan antara Riung dan Nagekeo,” kata Abdul Muhari.
Menurutnya, wilayah yang terdampak lebih luas justru berupa hamparan yang sebagian dimanfaatkan masyarakat sebagai tambak. Dengan kondisi tersebut, dampaknya terhadap permukiman warga dinilai tidak terlalu signifikan.
Pemetaan Dilanjutkan dari Darat
Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 sebelumnya sempat membuat BMKG mengeluarkan informasi peringatan dini tsunami berdasarkan hasil pemodelan. Status tersebut kemudian berakhir setelah beberapa waktu.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, BNPB akan melanjutkan pemetaan melalui survei darat. Data dari udara dan darat nantinya digunakan untuk memperkuat identifikasi wilayah terdampak gempa maupun tsunami.
Pemetaan tersebut juga berkaitan langsung dengan kebutuhan penanganan di lapangan. Titik yang sulit dijangkau kendaraan akan menjadi pertimbangan dalam menentukan pola distribusi bantuan.
Dengan demikian, hasil survei udara BNPB tidak berhenti pada pemetaan kerusakan. Data tersebut sekaligus menjadi dasar untuk menentukan bagaimana bantuan bisa tetap menjangkau warga di wilayah perbukitan dan lokasi lain yang akses daratnya terbatas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
