HYROX Makin Diminati Perempuan, Kenapa Olahraga Ini Jadi Tren Baru?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 41 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto: kemenpora.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – HYROX mulai menarik perhatian perempuan yang mencari tantangan baru dalam berolahraga. Perpaduan lari dan latihan fungsional membuat olahraga hybrid ini tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga kekuatan dan daya tahan.
Sekilas, konsepnya memang terlihat cukup berat. Peserta harus berlari sekaligus menyelesaikan berbagai latihan fungsional dalam satu rangkaian. Namun, kombinasi itulah yang membuat HYROX berbeda dari latihan kebugaran biasa.
Ada unsur kompetisi di dalamnya, peserta tidak hanya datang untuk berkeringat, tetapi juga membawa target masing-masing. Ada yang ingin menyelesaikan perlombaan, memperbaiki catatan waktu, atau sekadar membuktikan kemampuan diri.
Dari situ, daya tarik olahraga HYROX mulai terlihat, karena formatnya mempertemukan dua kemampuan yang selama ini kerap dilatih secara terpisah, yakni daya tahan dan kekuatan. Pelari ditantang menghadapi latihan fungsional, sementara orang yang terbiasa latihan kekuatan harus tetap menjaga kemampuan berlari.
Reuters melaporkan, HYROX telah berkembang dari kompetisi yang awalnya hanya diikuti sekitar 650 peserta menjadi olahraga global dengan lebih dari 1,5 juta atlet. Perlombaannya kini berlangsung di lebih dari 100 kota di 35 negara. Formatnya menggabungkan lari satu kilometer dengan latihan kebugaran fungsional dalam delapan segmen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan olahraga hybrid bukan lagi hanya aktivitas di kalangan kecil penggemar kebugaran. Yang menariknya, perkembangan itu juga membuka ruang yang lebih besar bagi perempuan.
Atlet hybrid race asal Amerika Serikat, Johnny Tieu, mengatakan HYROX di Indonesia tidak hanya untuk laki-laki dewasa. Menurutnya, perempuan juga dapat mengikuti olahraga tersebut dan memiliki berbagai kategori untuk saling menantang.
Pernyataan itu disampaikan Johnny dalam konferensi pers Indonesia Sports Summit 2026 x Jakarta Hybrid Race di Gedung Kemenpora, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Kemenpora menyebutkan Johnny sebagai Asia’s Top Ranked Hyrox Pro Athlete dan Performance Coach.
Hal itu menarik karena olahraga menggunakan beban atau perlengkapan berat selama ini kerap dianggap lebih dekat dengan laki-laki. Kini, batas itu mulai bergeser.
Perempuan juga semakin memiliki ruang untuk mencoba aktivitas yang menggabungkan kekuatan, daya tahan, dan kemampuan mengendalikan tubuh.
Ketika Tantangan HYROX Berubah Jadi Kepercayaan Diri
Bagi sebagian peserta, tantangannya bahkan bukan soal mengalahkan orang lain. Ada pertanyaan yang lebih personal yaitu, seberapa jauh kemampuan diri bisa didorong?
Pertanyaan sederhana itu dapat membuat pengalaman mengikuti HYROX terasa berbeda. Seseorang mungkin datang dengan kemampuan yang belum sempurna, tetapi memiliki target untuk menyelesaikan tantangan yang sebelumnya belum pernah dilakukan.
Oleh karena itu, pengalaman pertama menjadi bagian penting.
Orang yang awalnya hanya melihat video HYROX di media sosial belum tentu langsung tertarik mencoba. Namun, ketika melihat teman sendiri berlatih atau mengikuti perlombaan, rasa penasaran bisa muncul.
Dari sana, muncul dorongan sederhana: kalau orang lain bisa mencoba, mungkin saya juga bisa.
Johnny juga melihat pengalaman bersama teman dapat mendorong seseorang untuk berani mencoba. Menurut dia, keraguan sebelum memulai bisa berubah menjadi rasa percaya diri setelah seseorang berhasil melewati pengalaman pertamanya.
Setelah itu, tantangannya bisa berkembang.
Seseorang mungkin ingin memperbaiki waktu, meningkatkan kekuatan, atau mencoba kategori berbeda. Dengan begitu, olahraga tidak berhenti pada satu perlombaan.
Di sinilah komunitas menjadi bagian penting dari perkembangan HYROX.
Latihan bersama memberikan dorongan yang berbeda dibandingkan berolahraga sendirian. Ada teman untuk berbagi target, saling menyemangati ketika latihan terasa berat, sekaligus menjadi alasan untuk kembali berlatih.
Komunitas juga membuat persaingan terasa lebih sehat. Tidak semua orang datang dengan tujuan menjadi juara. Sebagian hanya ingin menyelesaikan tantangan yang sudah mereka tentukan sendiri.
Pola seperti itu ikut menjelaskan mengapa HYROX dapat menarik orang dengan latar belakang kebugaran berbeda.
Pelari bisa menguji kekuatannya. Orang yang terbiasa latihan beban bisa mengukur daya tahannya. Sementara mereka yang baru mengenal olahraga hybrid dapat menjadikannya sebagai tantangan baru.
Indonesia pun mulai mengikuti perkembangan tersebut.
Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melihat pertumbuhan hybrid fitness dan kehadiran HYROX sebagai bagian dari perkembangan olahraga partisipatif di Indonesia. Pemerintah juga memperkenalkan Indonesia Sports Summit 2026 bersama Jakarta Hybrid Race sebagai bagian dari perkembangan ekosistem olahraga dan industri olahraga nasional.
Namun, keberlangsungan HYROX pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya sebuah event.
Olahraga akan bertahan ketika orang memiliki alasan untuk kembali melakukannya.
Bagi satu orang, HYROX mungkin menjadi target kebugaran. Bagi yang lain, olahraga ini menjadi cara menguji batas diri setelah lama berlari atau berlatih di gym. Bagi peserta lainnya, komunitas justru menjadi alasan untuk terus berlatih.
Itulah yang membuat olahraga hybrid memiliki daya tarik tersendiri.
Ada tantangan fisik, persaingan, pengalaman personal, dan kebersamaan yang berjalan bersamaan.
Semakin banyak perempuan yang masuk ke olahraga seperti HYROX, semakin terlihat pula perubahan cara masyarakat memandang latihan berbeban. Aktivitas tersebut tidak lagi harus dianggap sebagai olahraga untuk kelompok tertentu.
Sehingga, HYROX menawarkan sesuatu yang sederhana, kesempatan untuk menguji kemampuan diri melalui tantangan nyata. Bagi mereka yang baru mengenalnya, langkah pertama mungkin hanya rasa penasaran.
Tetapi setelah tantangan pertama berhasil dilewati, bisa jadi muncul keinginan berikutnya, untuk mencoba lagi dan melihat seberapa jauh kemampuan diri bisa berkembang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
