TB Bukan Akhir Cerita! Kabar Baik untuk Pengidap TB, Skrining Kini Dikebut
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 24 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sasar Pesantren dan Permukiman Padat, Skrining TB Diperluas
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabar baik bagi pengidap TB di Indonesia, pasalnya pengobatan TB kini semakin didukung dengan perluasan skrining untuk menemukan penyakit lebih awal, sehingga pasien dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat. Pemerintah memperluas skrining TB ke pesantren dan kawasan permukiman padat yang dinilai memiliki risiko penularan lebih tinggi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Kesehatan memperkuat penemuan kasus TB di masyarakat.
Pemeriksaan rontgen dada juga mulai didukung teknologi artificial intelligence (AI) untuk membantu tenaga kesehatan mengenali indikasi TB dengan lebih cepat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan persoalan dalam penanganan TB bukan karena obatnya tidak tersedia.
Pengobatan TB sudah tersedia dan penyakit tersebut dapat disembuhkan. Tantangannya, masih ada orang yang menderita TB tetapi belum mengetahui kondisinya karena belum menjalani pemeriksaan.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong pemeriksaan secara aktif dengan mendatangi masyarakat.
Sekitar 10.000 unit rontgen disiapkan untuk didistribusikan secara bertahap ke puskesmas. Peralatan yang lebih ringkas dan portabel tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.
Pesantren menjadi salah satu sasaran utama skrining TB. Lingkungan dengan jumlah penghuni yang banyak dan tinggal berdekatan dinilai memiliki risiko penularan lebih tinggi apabila terdapat penderita TB yang belum ditemukan dan belum mendapatkan pengobatan.
Hasil skrining di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menjadi salah satu gambaran tingginya risiko tersebut.
Dari pemeriksaan yang dilakukan, sekitar 3 persen ditemukan kasus TB. Angka ini sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata hasil skrining TB secara umum yang berada di kisaran 0,3 persen.
Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Agama kemudian akan memperluas pemeriksaan TB ke pesantren di seluruh Indonesia. Kemenag mencatat terdapat sekitar 42.000 pesantren dengan lebih dari 7 juta santri.
Selain pesantren, skrining juga menyasar kawasan permukiman padat. Program tersebut direncanakan mencakup 3.373 desa dan kelurahan di 38 kabupaten/kota dengan target pelaksanaan selesai pada akhir 2026.
Bagi pengidap TB, perluasan pemeriksaan ini membawa pesan penting agar tidak takut atau malu. TB bukan penyakit yang harus disembunyikan. Dengan diagnosis lebih cepat dan pengobatan TB yang tepat hingga tuntas, pasien memiliki kesempatan untuk sembuh.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada penderita TB. Dukungan keluarga dan lingkungan diperlukan agar pasien tetap menjalani pengobatan sampai selesai.
Percepatan skrining TB, penemuan kasus, dan penguatan pengobatan menjadi bagian dari langkah Indonesia mengejar target eliminasi tuberkulosis pada 2030.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
