Taman Anak Sejahtera Palembang Sasar Anak 3-4 Tahun, Fokus Pengasuhan Jadi Perhatian
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 34 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO. ID – Taman Anak Sejahtera Palembang mulai diarahkan bukan sekadar sebagai fasilitas bermain anak. Melalui TAS “Wong Kito”, Pemkot Palembang menaruh perhatian pada pengasuhan, perlindungan, dan tumbuh kembang anak usia dini, terutama kelompok usia 3 hingga 4 tahun.
Fasilitas tersebut diluncurkan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dengan dukungan Kementerian Sosial RI melalui Sentra “Budi Perkasa” Palembang.
Bunda Literasi Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menyebut keberadaan TAS menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan anak dan keluarga.
Menurut Dewi, kebutuhan pengasuhan tidak selalu berhenti di lingkungan rumah. Ada orang tua yang harus menjalankan aktivitas di luar rumah sehingga diperlukan lingkungan yang tetap memberi rasa aman sekaligus mendukung perkembangan anak.
“Keberadaan TAS ini sangat penting untuk memperkuat layanan pengasuhan, perawatan, perlindungan, serta dukungan tumbuh kembang anak. Fasilitas ini juga diharapkan dapat membantu orang tua, terutama yang memiliki aktivitas di luar rumah,” ujar Dewi.
Anak Usia 3-4 Tahun Jadi Perhatian
Pemilihan anak usia 3 hingga 4 tahun sebagai sasaran TAS “Wong Kito” bukan tanpa alasan. Kelompok usia tersebut berada pada fase penting pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pada tahap ini, lingkungan sekitar ikut menentukan bagaimana anak memperoleh pengasuhan, stimulasi, perlindungan, sekaligus kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, Dewi menilai pemenuhan hak anak tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal. Keluarga dan lingkungan sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter serta memastikan anak tumbuh dalam kondisi yang aman.
Momentum HAN 2026 sendiri mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Bagi Dewi, tema tersebut tidak berhenti pada ungkapan kasih sayang kepada anak. Perlindungan, pemenuhan hak, pendidikan, stimulasi yang tepat, dan lingkungan yang mendukung juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kualitas anak.
“Anak adalah bagian penting dari masa depan Kota Palembang dan bangsa Indonesia. Meningkatkan kualitas anak harus dilakukan bersama, tidak hanya lewat pendidikan formal, tetapi juga melalui keluarga dan lingkungan sosial yang aman,” tegasnya.
Besarnya Populasi Anak Jadi Tantangan
Persoalan pengasuhan menjadi semakin penting jika melihat besarnya jumlah peserta didik di Palembang.
Data BPS Kota Palembang tahun ajaran 2024/2025 mencatat terdapat 977 sekolah dengan jumlah peserta didik lebih dari 362 ribu orang. Jumlah guru pada periode yang sama mencapai sekitar 21 ribu orang.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi sekaligus tanggung jawab yang harus dihadapi pemerintah, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat dalam menyiapkan generasi penerus.
Pemkot Palembang berharap TAS “Wong Kito” nantinya tidak berhenti sebagai fasilitas yang hadir dalam momentum Hari Anak Nasional. Fasilitas tersebut diarahkan menjadi model layanan pengasuhan berbasis komunitas yang terintegrasi.
Dengan pendekatan itu, pengasuhan anak tidak hanya menjadi urusan keluarga atau sekolah. Lingkungan sekitar juga diharapkan ikut mengambil bagian dalam menciptakan ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Bagi Palembang, tantangannya kemudian bukan hanya menghadirkan fasilitas, tetapi memastikan layanan tersebut benar-benar dapat diakses dan memberi manfaat bagi anak serta orang tua.
TAS “Wong Kito” menjadi salah satu langkah awal Pemkot Palembang untuk memperluas perhatian terhadap kebutuhan anak usia dini, sekaligus memperkuat ekosistem pengasuhan di tingkat komunitas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
