Pendidikan Jarak Jauh Buka Peluang Anak Tidak Sekolah Kembali Raih Ijazah SMA
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 45 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : kemendikdasmen.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) membuka kesempatan bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jambi untuk kembali menempuh pendidikan formal tanpa harus meninggalkan pekerjaan yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Program yang dikoordinasikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu mulai dimanfaatkan sejumlah anak di Kabupaten Bungo. Mereka sebelumnya berhenti sekolah karena kondisi ekonomi, tetapi masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan.
Salah satunya Renaldi Pratama. Sejak lulus SMP, Renaldi bekerja sebagai pencuci motor dengan penghasilan rata-rata Rp50.000 per hari. Pekerjaan tersebut tetap dijalaninya meski kini ia kembali belajar melalui PJJ.
“Saya berharap bisa dimudahkan dapat ijazah sambil tetap bisa bekerja,” ujar Renaldi saat berdialog dengan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq di SMAN 1 Bungo, Jambi, belum lama ini.
Bagi Renaldi, PJJ menjadi pilihan agar keinginan melanjutkan pendidikan tidak harus berhadapan dengan kebutuhan untuk tetap bekerja.
Cerita serupa datang dari Yanita Franselina Manik dan Muhammad Ali Imron. Keduanya juga memilih PJJ setelah sempat tidak melanjutkan sekolah karena kondisi yang dihadapi.
Yanita berharap kesempatan tersebut membantunya mendapatkan ijazah sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik.
Sementara Imron sempat tidak bersekolah selama satu tahun. Ia kemudian kembali belajar melalui PJJ dengan harapan pendidikan dapat membantunya memperoleh pekerjaan sekaligus membuka jalan untuk berkontribusi bagi daerah.
“Saya ingin mempermudah dapat kerja, dan mungkin bisa jadi Bupati, itu tidak mustahil,” kata Imron.
Bukan sekadar jalur belajar alternatif, PJJ yang dikoordinasikan Kemendikdasmen merupakan bagian dari pendidikan formal. Para peserta terdaftar pada sekolah induk, yakni SMA Negeri 10 Jambi.
Karena status tersebut, Fajar menegaskan peserta PJJ tetap memiliki hak memperoleh ijazah setelah menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Nanti adik-adik resmi menjadi murid SMA yang terdaftar di sekolah induk di Kota Jambi. Nilainya sama, kualitasnya sama,” ujar Fajar.
Penegasan tersebut menjadi penting bagi peserta yang sebelumnya ragu kembali sekolah karena harus membagi waktu dengan pekerjaan. Pemerintah ingin memastikan mereka memahami bahwa PJJ tetap berada dalam jalur pendidikan formal.
Pendaftaran program tersebut masih dibuka hingga 30 Agustus bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Di Jambi, dukungan terhadap pelaksanaan PJJ juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Umar mengatakan pihaknya menjalankan program Pro-Jambi Cerdas untuk membantu murid dari keluarga prasejahtera yang terdata.
Bantuan yang diberikan berupa perlengkapan sekolah, mulai pakaian, tas, buku hingga sepatu.
Pemerintah daerah juga melakukan upaya menjaring ATS secara langsung. Sosialisasi dilakukan secara door-to-door, termasuk melalui kantor desa hingga tingkat RT.
“Kami mengapresiasi inovasi Kemendikdasmen ini dan telah melakukan berbagai upaya jemput bola, termasuk sosialisasi door-to-door ke kantor desa hingga tingkat RT guna menjaring ATS,” jelas Umar.
Di Kabupaten Bungo, SMAN 1 Bungo berperan sebagai sekolah mitra dan terus berkoordinasi dengan SMA Negeri 10 Jambi sebagai sekolah induk.
Kepala SMAN 1 Bungo Lugimin mengatakan informasi mengenai PJJ disebarluaskan melalui media sosial serta jaringan perangkat desa di 17 kecamatan di Kabupaten Bungo.
Sekolah juga berupaya meyakinkan masyarakat mengenai status pendidikan peserta, terutama terkait ijazah yang nantinya diterima.
“Kami berupaya meyakinkan masyarakat bahwa ijazah yang diterima nantinya benar-benar resmi dari SMA negeri di Kota Jambi,” kata Lugimin.
Tantangan PJJ berikutnya adalah memastikan pembelajaran tetap berjalan optimal. Fajar mendorong dinas pendidikan dan sekolah memperkuat infrastruktur teknologi serta meningkatkan kompetensi guru pendamping.
Pemerintah Provinsi Jambi merespons kebutuhan tersebut dengan rencana pengadaan cloud server dan pelatihan pembuatan konten video pembelajaran bagi pendidik pada tahun depan.
Dengan dukungan tersebut, PJJ diharapkan tidak berhenti pada membuka akses bagi anak yang sempat meninggalkan sekolah. Program ini juga diharapkan membantu mereka tetap memperoleh pendampingan belajar hingga menyelesaikan pendidikan formal. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
