Katarak Ancam Penglihatan, 640 Ribu Orang di Indonesia Diperkirakan Mengalami Kebutaan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Katarak masih menjadi salah satu masalah serius yang mengancam penglihatan masyarakat Indonesia. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) memperkirakan sekitar 640.060 orang mengalami kebutaan akibat katarak, sementara upaya penanganannya terus dilakukan melalui perluasan akses operasi mata.
Salah satu upaya tersebut berlangsung di Purwokerto, Jawa Tengah. Sebanyak 500 warga dari wilayah Banyumas Raya mendapat layanan operasi katarak tanpa biaya di Rumah Sakit Khusus Mata (RSKM) Purwokerto, Jumat (7/8/2026).
Program tersebut digelar melalui kerja sama Kementerian Kesehatan, Noor Dubai Foundation, PERDAMI, dan RSKM Purwokerto. Peserta berasal dari wilayah Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Cilacap.
Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan besarnya persoalan gangguan penglihatan juga terlihat dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Hingga 3 Agustus 2026, sebanyak 28.049.202 orang telah menjalani skrining dalam program tersebut. Dari jumlah itu, 1.399.290 orang atau sekitar 5 persen teridentifikasi mengalami gangguan tajam penglihatan.
Menurut Dante, data tersebut menjelaskan perlunya penguatan upaya pencegahan dan penanganan gangguan penglihatan, termasuk katarak.
Mengacu pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 19,2 persen penduduk yang mengalami disabilitas penglihatan disebabkan oleh katarak. Berdasarkan proporsi tersebut, PERDAMI memperkirakan jumlah penduduk yang mengalami kebutaan akibat katarak mencapai sekitar 640.060 orang.
Dante menjelaskan katarak umumnya berkaitan dengan proses penuaan. Namun, sejumlah faktor lain seperti diabetes, infeksi mata, dan kondisi lingkungan juga dapat memicu terjadinya katarak.
Operasi menjadi salah satu penanganan utama untuk mengembalikan fungsi penglihatan pasien katarak, dengan kemampuan melihat yang membaik, pasien diharapkan dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.
Selain melayani pasien, kegiatan di Purwokerto juga dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Sekitar 10 hingga 12 dokter residen mendapat kesempatan mengikuti proses operasi dan belajar langsung bersama dokter spesialis senior.
Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri mengatakan pemulihan penglihatan melalui operasi katarak dapat membuka kembali kesempatan seseorang untuk bekerja dan menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
“Kami ingin memberdayakan masyarakat yang membutuhkan agar mereka memiliki kesempatan untuk hidup lebih mandiri,” kata Abdulla.
Kerja sama operasi katarak tersebut merupakan bagian dari kemitraan Kementerian Kesehatan dan Noor Dubai Foundation yang telah dimulai sejak 2025. Kolaborasi itu didukung hibah sebesar 294.222 dirham.
Sebelum digelar di Purwokerto, program serupa telah dilaksanakan di sejumlah daerah, di antaranya Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Chief Executive Officer Noor Dubai Foundation Manal Taryam berharap kerja sama dengan Indonesia dapat terus dilanjutkan sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan mata. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
