Suara Pesawat di Atas Rumah, Kisah Wright Bersaudara Wujudkan Mimpi Terbang
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 36 menit yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi /AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pagi kemarin sekitar pukul 06.00 WIB, suara mesin pesawat terdengar memecah kesunyian, sebuah pesawat Garuda melintas tepat di atas rumah dengan suara yang cukup keras. Saya yang tengah menyapu daun-daun kering di halaman depan rumah pun berhenti sejenak, mata langsung mengikuti pesawat yang perlahan mengecil hingga akhirnya menghilang dibalik awan.
Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah biasa, hampir setiap hari pesawat datang dan pergi membawa ratusan penumpang menuju berbagai kota. Ada yang berangkat bekerja, ada yang pulang kampung, ada pula yang mengejar liburan bersama keluarga. Meski sering melihatnya, pagi itu muncul satu pertanyaan sederhana di dalam kepala saya, sejak kapan manusia bisa terbang menggunakan mesin?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya membawa saya mundur lebih dari seratus tahun ke belakang. Saat itu belum ada bandara megah, belum ada landasan pacu sepanjang beberapa kilometer, bahkan pesawat penumpang seperti yang saya lihat hari ini masih sebatas angan-angan.
Katanya, dulu ada juga orang yang mencoba untuk membuat alat yang mampu terbang, bahkan ada sebagian berhasil membuatnya terangkat beberapa saat, tetapi tidak sedikit pula yang berakhir rusak karena sulit dikendalikan. Masalahnya bukan hanya membuat mesin meninggalkan tanah, melainkan bagaimana menjaganya tetap seimbang ketika sudah berada di udara.
Di tengah berbagai percobaan itulah muncul dua bersaudara asal Dayton, Ohio, Amerika Serikat, nama mereka, yaitu Orville Wright dan Wilbur Wright.
Keduanya bukan ilmuwan dari Universitas ternama, mereka juga bukan pemilik perusahaan besar yang memiliki modal melimpah. Setiap hari mereka bekerja di sebuah bengkel sepeda, memperbaiki roda, rantai, dan berbagai komponen mekanik milik pelanggan. Siapa sangka, dari bengkel sederhana itu lahir sebuah gagasan yang kemudian mengubah cara manusia bepergian.
Wright bersaudara percaya, setiap mesin memiliki keseimbangan, pemahaman itu mereka dapatkan saat bertahun-tahun memperbaiki sepeda, dari sana mereka mulai tertarik mempelajari burung yang melayang di udara, arah angin, bentuk sayap, hingga cara menjaga keseimbangan saat terbang.
Mereka tidak terburu-buru membuat pesawat bermesin, langkah pertama yang dilakukan justru mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin. Berbagai model layang-layang dan pesawat tanpa mesin mereka uji berkali-kali. Ada yang gagal terbang, ada yang langsung jatuh, bahkan ada yang harus dibongkar lagi karena hasilnya tidak sesuai harapan. Bagi Orville dan Wilbur, kegagalan bukan alasan untuk berhenti sebab setiap percobaan yang gagal selalu menyisakan pelajaran baru, akhirnya mereka mencatat, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Ketika Wright Flyer Berhasil Terbang
Setelah melalui proses yang cukup panjang, Wright Bersaudara akhirnya merakit sebuah pesawat bermesin yang mereka beri nama Wright Flyer, pada pagi hari tanggal 17 Desember 1903, mereka membawa pesawat itu ke kawasan berpasir Kitty Hawk, North Carolina. Ketika itu, angin yang cukup kencang justru menjadi keuntungan karena membantu proses lepas landas.
Meski demikian, Orville Wright mendapat kesempatan pertama untuk menerbangkan pesawat tersebut, mesin pun mulai dinyalakan, baling-baling berputar, lalu pesawat bergerak perlahan mengikuti rel kayu yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Tak lama kemudian, Wright Flyer berhasil meninggalkan permukaan tanah, penerbangan itu memang hanya berlangsung sekitar dua belas detik dengan jarak kurang lebih tiga puluh enam meter. Angka tersebut mungkin terdengar kecil, jika dibandingkan dengan pesawat modern yang mampu menempuh ribuan kilometer. Namun, bagi orang-orang yang menyaksikannya saat itu, momen tersebut menjadi bukti manusia akhirnya mampu menerbangkan pesawat bermesin yang dapat dikendalikan.
Pada hari yang sama, Wright bersaudara kembali melakukan beberapa kali percobaan, setiap penerbangan memberikan hasil yang semakin baik hingga salah satunya mampu mencapai jarak sekitar 260 meter.
Kabar baiknya mengenai keberhasilan mereka perlahan menyebar, tak semua orang langsung percaya, tetapi hasil percobaan itu membuka perhatian banyak pihak terhadap teknologi penerbangan.
Dalam tahun-tahun berikutnya, berbagai penyempurnaan terus dilakukan, mesin dibuat lebih bertenaga, bentuk sayap terus diperbaiki, begitu pula dengan sistem kendalinya. Sedikit demi sedikit, pesawat berkembang menjadi alat transportasi yang mampu membawa manusia melintasi laut, pegunungan, hingga benua.
Sekarang, setiap kali mendengar suara pesawat melintas di langit, kita mungkin hanya menganggapnya sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Padahal, dibalik suara mesin yang terdengar dari kejauhan itu tersimpan cerita panjang tentang dua bersaudara yang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk menjawab satu pertanyaan sederhana. Bagaimana cara membuat manusia bisa terbang?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang akhirnya membawa nama Orville Wright dan Wilbur Wright dikenang dalam sejarah penerbangan. Dari sebuah bengkel sepeda kecil, lahir sebuah pesawat sederhana yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya ribuan pesawat modern yang kini mengudara setiap hari. (***)
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan referensi sejarah dan berbagai sumber mengenai Orville Wright, Wilbur Wright, Wright Flyer tahun 1903, serta perkembangan awal teknologi penerbangan. Ditulis ulang dengan gaya literasi populer khas Sumselterkini.co.id agar lebih ringan, mengalir, dan mudah dinikmati pembaca.
- Penulis: Irwan Wahyudi
