Catatan-Kaki Bukit

Layar Tak Lagi Aman, Anak Terpapar Konten Seksual

foto : Komdigi

SENIN pagi kemarin, di sebuah forum literasi digital di Jakarta, para narasumber kembali menyoroti satu hal yang makin sulit diabaikan, anak-anak kini tumbuh di tengah layar yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Anak-anak sudah terbiasa memegang ponsel bahkan sebelum benar-benar memulai aktivitas hari mereka. Mereka membuka layar lebih dulu sebelum membuka percakapan dengan orang di rumah.

Masalahnya, layar itu tidak pernah menawarkan dunia yang tersaring sepenuhnya untuk usia mereka.

Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat  lebih dari 50,3 persen anak Indonesia telah terpapar konten bermuatan seksual di media sosial. Data ini menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital sudah menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar wacana.

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar, menekankan bahwa situasi ini tidak bisa lagi dipandang ringan.

 “50,3 persen anak terpapar konten bermuatan seksual melalui media sosial, jadi kebayang teman-teman, dari 80 juta itu setengahnya terpapar. Dari 80 juta, 48 persen mengalami kekerasan gender berbasis online,” katanya.

Pernyataan itu menunjukkan satu hal penting anak terpapar konten seksual di internet sudah terjadi dalam skala besar, bukan lagi kasus yang berdiri sendiri.

Di ruang digital, anak-anak menghadapi dua jenis risiko utama risiko konten dan risiko kontak.

Risiko konten muncul ketika anak terus terpapar berbagai informasi di media sosial tanpa batas usia yang jelas. Algoritma tidak memilihkan mana yang sesuai, sehingga semua jenis konten bisa muncul di layar mereka.

Alfreno menjelaskan anak-anak dengan adanya akses ke media sosial bisa terpapar konten apapun itu, mau negatif, positif, semua jadi yurisdiksinya anak-anak itu sendiri.

Risiko lain datang dari kontak. Anak-anak tidak hanya melihat konten, tetapi juga mulai berinteraksi dengan orang yang tidak mereka kenal.

“Hari ini enggak sedikit anak-anak kita bisa ngobrol sama orang yang enggak dikenal, setelah itu dicekoki informasi-informasi yang buruk, seperti radikalisme. Selain itu, juga bisa terjadi pelecehan anak,” paparnya.

Kondisi ini memperlihatkan  keamanan anak di media sosial tidak hanya soal apa yang mereka lihat, tetapi juga siapa yang mereka temui di sana.

Anak Tumbuh di Tengah Algoritma

Hari ini, anak-anak tidak lagi sekadar “menggunakan internet”. Mereka hidup di dalamnya.

Setiap scroll, setiap klik, dan setiap tontonan membentuk apa yang mereka lihat berikutnya. Algoritma bekerja tanpa henti, mengatur aliran informasi yang masuk ke layar mereka.

Pada masalah ini literasi digital anak menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Karena akses internet sudah lebih cepat dibanding kesiapan pendampingan di rumah maupun sekolah.

Oleh karena itu untuk menjawab tantangan itu, pemerintah menerbitkan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Regulasi ini hadir untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital, tanpa menghentikan perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat.

Alfreno menegaskan kebijakan ini tidak bertujuan membatasi anak muda, tetapi melindungi mereka dari risiko yang mereka hadapi setiap hari di dunia digital.“Kita enggak pernah mau membatasi inovasi untuk anak muda. Kita cuma mau anak muda itu mengerti apa yang benar dan salah. Kita cuma ingin anak-anak muda Indonesia itu terjauhkan dari risiko, tapi kita enggak menunda inovasi,” tambahnya lagi.

Meski aturan sudah mulai berjalan, tantangan anak terpapar konten seksual di media sosial masih terus bergerak. Platform digital berkembang cepat, sementara pengawasan, edukasi, dan pendampingan belum selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.

Di sinilah peran orang tua, sekolah, dan platform digital menjadi penting. Tanpa kerja bersama, ruang digital akan tetap terbuka, tetapi belum tentu aman.

Oleh karena itu perlindungan anak di internet bukan hanya soal regulasi. Hal  ini soal bagaimana kita hadir dalam dunia digital yang sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak.

Layar kini bukan lagi hanya alat, ia sudah menjadi ruang tumbuh, seperti ruang tumbuh pada umumnya, ia bisa menjadi tempat yang aman atau justru sebaliknya, jika tidak dijaga bersama. (***)

To Top