PAGI belum lama ini, suasana ruang Rapat Bappeda Litbang Palembang terasa berbeda, para camat datang membawa catatan, usulan, juga harapan. Di meja depan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang, Aprizal Hasyim, memimpin pembahasan persiapan HUT Kota Palembang ke-1343.
Topiknya terdengar sederhana, lomba kampung wisata.
Namun agenda itu, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar. Palembang sebenarnya sedang mencari apa? Kampung wisata yang benar-benar hidup, atau hanya kampung yang pandai bersolek ketika lomba datang?
Pertanyaan itu penting, pasalnya hari ituhampir semua daerah berlomba membuat destinasi wisata. Semua ingin terlihat kreatif.
Semua ingin viral.
Semua ingin masuk media sosial.
Tapi tidak semuanya lahir dari akar yang sama.
Ada kampung yang tumbuh karena masyarakatnya memang mencintai budaya dan lingkungannya.
Ada pula kampung yang berubah mendadak hanya karena mendengar kabar juri akan datang minggu depan.
Dan biasanya, perbedaannya mudah terasa.
Kampung yang dibangun dari kesadaran warga punya denyut kehidupan yang alami.
Yang jelas..ya memang tidak kaku.
Tidak dibuat-buat.
Warganya bergerak karena rasa memiliki, bukan hanya mengejar penilaian.
Misalnya contoh, ada seorang ibu-ibu yang sejak lama membuat kue tradisional karena memang itu warisan keluarga yang mereka banggakan. Di dinding gang sempit, ada mural yang dilukis anak muda kampung karena mereka mencintai seni, bukan karena proyek dadakan. Bahkan naturalnya misalnya lagi di tepian sungai, ada warga yang rutin membersihkan lingkungan tanpa menunggu instruksi.
Semua tumbuh pelan-pelan.
Seperti akar pohon yang diam-diam menguat di bawah tanah.
Dan justru inilah bakal menariknya, dari proses panjang itulah kampung wisata sejati lahir.
Bukan dari cat yang baru kering semalam.
Bukan dari gapura yang mendadak dicat warna-warni.
Bukan pula dari taman instan yang muncul tiga hari sebelum penilaian.
Karena kampung wisata bukan panggung sandiwara.
Kampung wisata adalah kehidupan sehari-hari yang sudah hidup jauh sebelum lomba diumumkan.
Itulah sebabnya pernyataan Aprizal terasa cukup penting ketika ia menegaskan kampung wisata tidak boleh dibuat secara dadakan.
Pemerintah Kota Palembang ingin kampung yang memang sudah memiliki potensi budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakat yang aktif.
Apalagi kita terlalu sering melihat budaya hanya muncul ketika ada event.
Lorong tiba-tiba bersih.
Tanaman mendadak tertata.
Warga mendadak kompak.
Setelah acara selesai, semuanya perlahan kembali seperti biasa.
Budaya akhirnya diperlakukan seperti dekorasi panggung. Dipasang saat acara dimulai, lalu dilepas ketika lampu padam.
Padahal budaya tidak tumbuh dalam semalam.
Budaya lahir dari kebiasaan yang dijaga bertahun-tahun.
Dan sesuatu yang dirintis lama selalu punya rasa berbeda.
Ibarat warung tua di sudut kota yang tetap ramai meski tanpa papan besar dan promosi media sosial. Orang datang bukan karena tampilannya mewah, melainkan karena rasa dan cerita yang jujur.
Begitu pula kampung wisata.
Jika lahir dari hati masyarakat, suasananya terasa hangat.
Obrolan warga terdengar alami.
Punya cerita
Kuliner memiliki cerita.
Seni tumbuh tanpa dipaksa.
Bahkan lorong kecil terasa punya identitas sendiri.
Sebaliknya, kampung yang dibangun mendadak sering kali terlihat rapi, tetapi terasa kosong.
Terlalu dipoles.
Terlalu sibuk terlihat menarik.
Namun kehilangan jiwa.
Palembang sebenarnya tidak kekurangan modal untuk membangun kampung wisata yang kuat.
Kota ini memiliki sejarah panjang, budaya besar, dan karakter lokal yang khas.
Dari kampung tepian sungai hingga sentra kuliner rumahan, semuanya menyimpan cerita.
Masalahnya, masyarakat sering terlalu dekat dengan warisan itu sehingga lupa menghargainya.
Kita lebih mudah kagum pada tempat wisata luar daerah dibanding budaya yang tumbuh di lingkungan sendiri.
Padahal sesuatu yang terlihat biasa bagi warga lokal bisa menjadi pengalaman berharga bagi orang luar.
Karena itu, lomba kampung wisata seharusnya jangan hanya menjadi perlombaan mencari kampung paling cantik.
Yang lebih penting ialah membangun kesadaran masyarakat agar mencintai lingkungannya sendiri tanpa harus menunggu momen penilaian.
Sebab kampung wisata sejati tidak hidup karena trofi.
Ia hidup karena masyarakatnya bangga.
Bangga menjaga budaya.
Bangga merawat lingkungan.
Bangga mempertahankan identitas tanpa harus meniru daerah lain.
Aprizal juga menekankan pentingnya keamanan, ketertiban, kebersihan, dan kesejukan lingkungan dalam penilaian kampung wisata.
Hal ini tentunya bukan sekadar syarat lomba, tetap harus menjadi pondasi utama, pasalnya wisata tidak akan bertahan di tempat yang semrawut.
Orang mungkin datang sekali karena penasaran. Namun mereka hanya akan kembali jika merasa nyaman.
Dan kenyamanan tidak lahir dari kerja bakti panik semalam sebelum lomba.
Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Maka dari itu sudah selayaknya juga masyarakat memegang peran paling penting.
Pemerintah bisa membuat program, lomba, hingga festival besar. Tetapi tanpa kesadaran warga, semuanya hanya akan menjadi acara tahunan yang ramai sebentar lalu hilang.
Karena sejatinya, kampung wisata bukan soal siapa paling pandai bersolek ketika juri datang.
Melainkan siapa yang tetap hidup bahkan ketika panggung acara sudah lama dibongkar. (***)