DI BALI, orang tidak hanya menjual pemandangan.
Mereka menjual cerita.
Kain yang ditenun tangan, tas anyaman yang lahir dari jemari ibu-ibu desa, ukiran kayu yang membawa aroma masa lalu, sampai baju-baju lokal yang kini mulai percaya diri berdiri di etalase dunia. Semua itu bukan sekadar produk.
Ia adalah identitas, warisan, sekaligus sumber penghidupan jutaan orang.
Oleh karena itu, ketika Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Badung, Bali, Jumat (8/5), peristiwa itu sebenarnya bukan hanya soal gunting pita atau bangunan baru.
Ia adalah simbol negara mulai serius memperlakukan industri kreatif bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai mesin ekonomi masa depan.
Selama bertahun-tahun, sektor fesyen dan kriya sering dipandang sebelah mata. Padahal, di balik tas rotan yang dipakai turis asing atau baju lokal yang viral di media sosial, ada rantai ekonomi panjang yang menghidupi banyak keluarga.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, pada triwulan I tahun 2026 saja, industri fesyen dan kriya menghasilkan PDB mencapai Rp120,13 triliun. Angka yang tidak kecil. Bahkan pertumbuhannya melampaui tahun sebelumnya.
Namun yang lebih penting dari angka itu sebenarnya adalah manusianya.
Ada sekitar 1,75 juta unit usaha skala kecil dan menengah yang bergerak di sektor ini. Mereka bukan konglomerat. Bukan pemilik pabrik raksasa. Banyak di antaranya adalah pengrajin rumahan, penjahit kecil, pembatik kampung, hingga anak muda yang mencoba membangun merek lokal dari garasi rumah.
Mereka inilah pasukan senyap ekonomi Indonesia.
Sering bekerja tanpa sorotan, tetapi diam-diam menjaga dapur tetap menyala.
Oleh sebab itu, kehadiran BPIFK menjadi penting. Bukan cuma gedung megah dengan konsep hijau dan sertifikat modern, tetapi sebagai tempat bertemunya ide, kreativitas, teknologi, dan pasar.
Sebab masalah terbesar pelaku industri kreatif Indonesia sebenarnya bukan soal bakat.
Kita tidak kekurangan talenta.
Yang sering kurang adalah pendampingan, akses pasar, keberanian naik kelas, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Banyak produk lokal kualitasnya bagus, tetapi kalah kemasan.
Banyak pengrajin hebat, tetapi bingung menjual produknya secara digital.
Banyak anak muda kreatif, tetapi kehabisan napas sebelum bisnisnya tumbuh.
Setidaknya negara seharusnya hadir.
Bukan mengambil alih kreativitas masyarakat, melainkan menjadi jembatan agar kreativitas itu bisa hidup lebih lama.
Dan Bali memang tempat yang tepat untuk memulai.
Jadi pencipta
Pulau ini sudah lama menjadi etalase kreativitas Indonesia di mata dunia. Di sana, seni bukan hanya pajangan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang Bali paham budaya bisa menjadi ekonomi tanpa kehilangan ruhnya.
Itulah pelajaran pentingnya.
Bahwa industri kreatif bukan sekadar mengejar cuan.
Industri kreatif itu, juga tentang menjaga identitas bangsa di tengah dunia yang makin seragam.
Di era ketika produk luar begitu mudah masuk lewat layar ponsel, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar.
Kita harus menjadi pencipta.
Menjadi produsen ide.
Bahkan menjadi pemilik merek.
Karena negara yang besar bukan hanya negara yang kaya sumber daya alam.
Tetapi negara yang mampu menjual kreativitas dan nilai budayanya kepada dunia.
BPIFK mungkin hanya satu gedung.
Tetapi kadang perubahan besar memang dimulai dari satu ruang kecil tempat orang-orang kreatif diberi kesempatan untuk tumbuh.
Dan siapa tahu, dari gedung itu nanti lahir merek lokal yang dipakai dunia.
Atau mungkin, lahir harapan baru bahwa produk Indonesia tidak lagi hanya bangga dibuat tangan sendiri, tetapi juga bangga bersaing di panggung global. (***)