TUMPUKAN sampah seperti bukti bahkan terlihat berserakan dimana-mana, bahkan aroma menyengat, serta debu menari- nari terlihat di udara.
Kondisi itu hampir setiap hari menghiasi suasana di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Sukawinatan, Palembang.
Namun, di hari itu ada sesuatu yang berbeda, di tengah tumpukan plastik dan kardus, terdengar tawa anak-anak dan suara riang warga.
Tim Penggerak PKK Kota Palembang dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) turun langsung membagikan bantuan sosial di TPA belum lama ini.
Dewi Sastrani, Ketua TP PKK Kota Palembang, bersama Ida Royani, Ketua DWP Kota Palembang, hadir membawa 50 paket sembako berisi beras, minyak goreng, gandum, makanan ringan, dan minuman.
Bagi warga TPA, paket ini bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan tanda perhatian dan asa.
“Semoga kegiatan di bulan Ramadan ini bisa menjadi berkah dan bermanfaat bagi semua, terutama masyarakat yang berada di area TPA,” ujar Dewi Sastrani sambil tersenyum hangat.
Pak Roni, 42 tahun, seorang warga yang mengais rezeki di TPA, menepuk bahu temannya sambil bercanda, “Hari ini bukan cuma panen sampah, tapi panen berkah juga!.”
Bahkan senyum anak-anak yang membawa roti atau minuman ringan seakan menyalakan sudut-sudut kumuh TPA yang biasanya suram.
Kehadiran PKK dan DWP bukan sekadar pembagian sembako. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tahun 2026, dengan tema “Kuatkan 10 Program Pokok PKK Laksanakan Asta Cita Wujudkan Indonesia Emas 2026.”
Dewi menekankan momen ini adalah bukti nyata perhatian sosial bisa menjadi bagian dari implementasi visi besar pemerintah.
Kolaborasi lintas lembaga menambah kekuatan program ini. Selain PKK dan DWP, kegiatan ini didukung BAZNAS Kota Palembang. Data menunjukkan sekitar 1.200 keluarga tinggal di sekitar TPA, dengan keterbatasan akses kebutuhan pokok.
Bantuan seperti ini memberikan dampak langsung terhadap kehidupan mereka, sekaligus membangun rasa diperhatikan dan dihargai.
Bu Lestari, seorang ibu tunggal, menahan mata berkaca-kaca saat menerima paket sembako. “Kalau tidak ada bantuan seperti ini, kami hanya mengandalkan sisa pasar. Hari ini, ramadan terasa berbeda, lebih hangat,” ujarnya.
Kata-kata sederhana itu menjadi pengingat aksi kecil bisa memberikan makna besar bagi kehidupan seseorang.
Sementara itu, anak-anak TPA tampak riang, mereka berlarian di antara tumpukan sampah sambil menenteng makanan ringan yang baru dibagikan.
“Ini kali pertama aku lihat orang datang pakai baju rapi ke sini,” kata seorang anak sambil tersenyum.
Momen itu menunjukkan human touch atau perhatian langsung dari orang luar yang mampu menyalakan asa bahkan memberi rasa normalitas di tengah keterbatasan.
Meski demikian, tak semua cerita di TPA mulus, sebab beberapa warga masih menghadapi tantangan serius, seperti akses air bersih masih terbatas, pendidikan anak-anak terganggu karena harus membantu keluarga. Bahkan risiko kesehatan akibat kondisi lingkungan.
Realita hidup
Namun, kehadiran tim PKK dan DWP membuktikan perhatian nyata mampu menembus kerasnya realita hidup, meskipun hanya untuk sesaat.
“Sekali datang, rasa diperhatikan itu luar biasa,” kata warga lainnya sembari tersenyum. Bahkan bau sampah pun terasa sedikit lebih bersahabat hari ini.”
Humor sederhana itu membuat suasana hangat, dan menunjukkan bagaimana cerita kemanusiaan bisa hadir di tengah realita yang keras.
Kegiatan ini juga mendidik warga tentang pentingnya kolaborasi lintas lembaga.
Dukungan BAZNAS dan organisasi lokal membuktikan program sosial yang sukses bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Namun hasil kerja sama antara lembaga dan masyarakat. Strategi ini menjadi model efektif untuk menghadapi masalah sosial yang kompleks.
Di sela kegiatan, tawa dan percakapan ringan menjadi bukti, sejatinya muncul dari hal-hal sederhana.
Seorang anak laki-laki menenteng minuman ringan sambil tertawa, seorang ibu memeluk paket sembako dengan mata berkaca-kaca, dan Pak Roni bercanda, “Hari ini sampah pun ikut senang karena dikunjungi orang baik.”
Interaksi ini menegaskan kisah kecil bisa meninggalkan kesan besar.
Saat matahari mulai meninggi, TPA Sukawinatan tetap panas, berdebu, dan beraroma menyengat, tapi hari itu terasa berbeda.
Senyum anak-anak, tawa warga, dan kehangatan interaksi manusia menjadi cahaya yang menembus kerasnya realita.
Ramadan di TPA memang bukan sekadar bulan puasa, tapi bulan berbagi dan menghadirkan asa di tengah kesederhanaan.
“Semoga TP PKK tetap jaya dengan 10 Program Pokok, dan setiap bantuan bisa menjadi berkah bagi semua,” tutup Dewi Sastrani, menandai akhir kegiatan yang bukan hanya simbolis, melainkan mengena di hati warga TPA.
Kegiatan PKK dan DWP di TPA Sukawinatan membuktikan satu hal, kepedulian nyata mampu menembus segala keterbatasan, membawa cahaya, dan menyalakan harapan di tempat paling sederhana sekalipun.
Ramadan tahun ini bagi warga TPA bukan hanya soal puasa, tapi soal merasakan diri diperhatikan, dihargai, dan diberkati. (***)