INFLASI Palembang naik 4,37 persen secara tahunan pada Februari 2026. Angka ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik Kota Palembang dan langsung mengubah peta pembahasan ekonomi daerah. Biasanya inflasi kota ini identik dengan cabai atau ayam. Kali ini, emas perhiasan justru menjadi penyumbang terbesar tekanan harga.
Inflasi bulanan tercatat 0,58 persen, sementara inflasi tahun kalender 0,63 persen. Namun yang membuat laporan ini berbeda bukan hanya besarannya, melainkan komposisinya. Emas perhiasan menyumbang 0,240 persen terhadap inflasi month-to-month. Angka ini melampaui cabai merah yang berkontribusi 0,084 persen, daging ayam ras 0,035 persen, dan telur ayam ras 0,028 persen.
Data tersebut menunjukkan pergeseran pola. Inflasi Palembang tidak lagi sepenuhnya didorong komoditas pangan yang fluktuatif. Faktor global ikut memainkan peran.
Harga emas dunia menguat dalam beberapa bulan terakhir. Investor global berburu aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi. Pergerakan itu menjalar hingga pasar domestik. Toko perhiasan di Palembang menyesuaikan harga. Permintaan masyarakat menjelang Ramadan memperkuat tekanan tersebut.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana dinamika internasional menyentuh kota-kota daerah. Ketika harga emas global naik, inflasi lokal ikut terdorong.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang menyumbang 1,82 persen secara tahunan, terutama akibat penyesuaian tarif listrik. Struktur ini menunjukkan tekanan harga yang lebih persisten dibanding komoditas hortikultura.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa merespons kondisi tersebut dengan menegaskan penguatan strategi 4K yang mencakup ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Ia menyebut kombinasi cuaca ekstrem dan lonjakan permintaan menjelang Ramadan menjadi faktor utama kenaikan harga pangan.
“Menipisnya pasokan akibat cuaca ekstrem menurunkan hasil panen. Ditambah peningkatan permintaan menjelang Ramadan, harga cabai dan daging ayam ikut terdorong naik,” ujarnya.
Pemerintah kota menyiapkan pasar murah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan, memperkuat kerja sama antar daerah untuk menjaga suplai pangan, serta menambah cadangan strategis. Pemerintah juga melakukan rehabilitasi jalan dan revitalisasi pasar guna memperlancar distribusi barang.
Meski tekanan muncul di sejumlah komoditas, inflasi Februari tidak bersifat menyeluruh. Dari 393 komoditas yang dipantau, 275 relatif stabil. Sebanyak 89 naik harga dan 29 turun. Angka ini menegaskan tekanan harga terkonsentrasi pada sektor tertentu, bukan krisis pasokan luas.
Ada pula faktor penahan. Penurunan harga BBM nonsubsidi menyumbang deflasi 0,045 persen. Pelemahan harga minyak mentah dunia dan stabilnya nilai tukar rupiah membantu meredam sebagian tekanan, meski belum cukup mengimbangi lonjakan emas dan tarif listrik.
Inflasi 4,37 persen di Palembang merefleksikan fenomena yang lebih luas kota-kota daerah semakin terhubung dengan arus ekonomi global. Ketika harga komoditas dunia bergerak, dampaknya tidak lagi berhenti di pusat keuangan nasional. Ia sampai ke pasar tradisional dan etalase perhiasan.
Ratu Dewa menegaskan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan memanfaatkan data statistik sebagai dasar kebijakan.
“Dengan data yang akurat dan respons cepat, kami optimistis stabilitas harga dapat dijaga demi kesejahteraan masyarakat Palembang,” katanya.
Angka inflasi mungkin berdiri sebagai statistik bulanan. Namun komposisinya menunjukkan pesan yang lebih besar ekonomi daerah kini bergerak dalam irama global dan nasional sekaligus. Palembang mencatat 4,37 persen, dan struktur di balik angka itu menjadi cermin perubahan dinamika harga di tingkat lokal.(***)