Pemerintahan

OPD Palembang Wajib Lapor Data Ekonomi Setiap Bulan

ist

PALEMBANG Kota Palembang mewajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melaporkan data ekonomi setiap bulan mulai 2026. Kebijakan ini bertujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi kota melalui monitoring real-time dan intervensi cepat jika terjadi pergeseran tren.

Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, Ketua Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, menegaskan sistem pelaporan bulanan ini menjadi tonggak baru pengelolaan ekonomi. “Dengan data yang masuk setiap bulan, kami bisa bertindak cepat, menyesuaikan alokasi anggaran, dan memantau performa ekonomi secara langsung,” ujar Aprizal saat Rapat Koordinasi di Bappeda, Selasa, (10/2/2026).

Sistem ini mendukung sembilan langkah strategis pemerintah pusat, meliputi percepatan realisasi APBD, peningkatan investasi PMA dan PMDN, pembangunan infrastruktur, pengendalian harga bahan pokok, pencegahan perdagangan ilegal, perluasan lapangan kerja, peningkatan produktivitas pangan lokal, penguatan industri manufaktur, dan penyederhanaan perizinan usaha.

Kepala Bappeda, Dr. Korlena, menekankan pentingnya ketepatan dan konsistensi pelaporan. “Kementerian Dalam Negeri memantau laporan kami setiap bulan. Setiap data menjadi dasar evaluasi ekonomi nasional,” ujarnya.

Setiap OPD diwajibkan menyerahkan laporan paling lambat tanggal 20 setiap bulan, membangun sistem umpan balik berkelanjutan. Dashboard terpusat memantau proyek infrastruktur, investasi, inflasi, dan tren ketenagakerjaan secara real-time.

Aprizal menegaskan, “Tujuan utama adalah intervensi ekonomi bersifat proaktif. Jika terjadi kenaikan harga atau proyek tertunda, kami dapat segera menyesuaikan langkah.”

Pemerintah kota juga menyediakan insentif bagi OPD yang disiplin melaporkan data. Bappeda bertindak sebagai sekretariat, memeriksa kelengkapan laporan, dan menilai kepatuhan setiap departemen. Penghargaan ini mendorong budaya akuntabilitas dan konsistensi, langsung mendukung pertumbuhan ekonomi.

Analis menilai pendekatan digital ini jarang diterapkan kota lain di Indonesia. Integrasi teknologi dan tata kelola memungkinkan Palembang mengoptimalkan alokasi sumber daya, mempercepat investasi, dan memastikan proyek infrastruktur tepat waktu, sehingga mengurangi hambatan pertumbuhan ekonomi.

Sistem pelaporan real-time juga memungkinkan evaluasi cepat terhadap pasar tenaga kerja dan produksi pangan lokal. Pemerintah dapat mendeteksi kekurangan tenaga kerja, memantau dampak inflasi, dan menyesuaikan strategi untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, sistem ini meningkatkan transparansi, memberi warga dan investor gambaran langsung tentang rencana ekonomi kota. Dashboard digital menampilkan investasi, lapangan kerja, dan proyek infrastruktur secara real-time, sehingga meningkatkan kepercayaan publik.

Langkah ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Palembang bukan hanya soal angka, tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat. Dengan menggabungkan teknologi, kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor, setiap angka pertumbuhan berkontribusi pada kesejahteraan warga. (***)

To Top