HANYA sekitar 4 juta wanita dari target 40 juta mengikuti program skrining kanker di Indonesia, menimbulkan kekhawatiran terkait tingginya angka kematian akibat keterlambatan diagnosis. Data ini diungkapkan Menteri Kesehatan RI Budi G. Sadikin saat membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function Cilandak, Jakarta Selatan. Menurut Menkes, ketakutan untuk memeriksakan diri justru menjadi penghalang utama dalam penanganan kanker yang efektif.
“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Jika ditemukan di stadium awal, peluang kesembuhan sangat tinggi. Jangan takut memeriksakan diri,” ujar Menkes.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami menambahkan bahwa keterlambatan diagnosis menyebabkan sekitar 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia. Setiap tahun tercatat 400 ribu kasus baru, dengan kanker payudara dan serviks menjadi yang paling tinggi.
“Ini bukan sekadar angka, tetapi masa depan keluarga yang terdampak,” kata Ami, sapaan akrab Murti Utami.
Program Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Alat skrining tersedia hingga ke pelosok, namun partisipasi masih rendah karena rasa takut dan penyangkalan di masyarakat. Dari 4 juta wanita yang telah skrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang masih berpotensi disembuhkan jika segera ditangani.
Menkes menekankan langkah sederhana dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Perempuan dianjurkan rutin memeriksa diri sendiri di rumah, segera datang ke puskesmas jika ada gejala mencurigakan, dan mengikuti program skrining gratis yang tersedia di wilayah masing-masing.
Selain itu, gaya hidup sehat juga berperan penting, termasuk menjaga pola makan bergizi, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi alkohol, dan berhenti merokok. “Mayoritas kasus yang ditemukan berpotensi selamat jika mendapat penanganan cepat. Mari dorong seluruh sasaran untuk datang ke puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Menkes.
Linda Agum Gumelar, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan penyintas kanker, menjadi bukti hidup pentingnya deteksi dini.
“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke puskesmas. Jika kanker ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti bisa sembuh. Saya adalah buktinya,” ujar Linda.
Kanker termasuk penyakit katastropik dengan biaya tinggi. Setiap tahun, negara mengeluarkan Rp5,9 triliun untuk perawatan kanker, yang berdampak pada ekonomi masyarakat dan produktivitas keluarga.
Kesenjangan antara target skrining dan partisipasi nyata menjadi peringatan bagi semua pihak: kesadaran dan keberanian memeriksakan diri adalah langkah konkret menyelamatkan nyawa.(***)