BULAN Ramadan selalu ditunggu. Aroma takjil menyebar di gang, anak-anak bersiap belajar mengaji, dan masjid menjadi pusat aktivitas, tadarus, pengajian, sholat tarawih. Tapi coba pikirkan kalau air bersih terbatas. Wudhu harus antre, ember kosong, galon bolong, semua bisa bikin tarawih kurang khusuk.
Untungnya, Masjid Sultan Agung di Kelurahan Satu Ilir, Palembang, kini memiliki sumur bor baru dari Pusri. Bukan sekadar proyek CSR formal, tapi benar-benar memudahkan aktivitas ibadah warga, terutama selama Ramadan. Anak-anak bisa cuci tangan sebelum ikut pengajian, jamaah tidak berebut kran untuk wudhu, dan ibu-ibu yang menyiapkan konsumsi takjil bisa mendapatkan air bersih tanpa drama.
Kalau dipikir-pikir, sumur bor ini lebih penting daripada panggung besar atau tulisan di media sosial. Dulu, antre wudhu bisa jadi ajang latihan kesabaran ala ninja. Ember rebutan, air setetes demi setetes, anak-anak bingung kenapa harus mengantri, ibu-ibu menghela napas panjang karena galon kosong… sekarang semua itu bisa tertangani dengan satu pengeboran cerdas. Banjir humor ringan pun ikut hilang, diganti lega dan senyum puas.
Malam-malam Ramadan sekarang terasa lebih nyaman. Lampu masjid temaram, aroma ketupat dan kolak mulai menyeruak, anak-anak bersiap ikut pengajian, dan jamaah mulai antre untuk tarawih.
Kalau dulu antrean wudhu bikin orang menyesal datang cepat, sekarang mereka tersenyum lega. Satu sumur bor sederhana telah mengubah ritme masjid dan ritme hidup warga. Humor kecil muncul ketika anak-anak bercanda sambil antre wudhu, atau bapak-bapak yang biasanya berebut keran tiba-tiba menatap satu sama lain dan tersenyum.
VP TJSL Pusri, Alde Dyanrini, menegaskan dengan nada hangat, “Melalui pembangunan sumur bor di Masjid Sultan Agung ini, Pusri berharap manfaatnya terasa nyata, baik untuk aktivitas ibadah, maupun bagi masyarakat sekitar.”
Memang, kenyataannya terasa nyata, wudhu lancar, air bersih tersedia, ibadah tarawih lebih nyaman, jamaah lebih fokus sedikit lebih khusuk, walau tetap manusiawi kalau ada yang menumpahkan air sambil tertawa kecil.
Yang menarik, langkah ini bukan sekadar seremoni atau foto prasasti. Pusri hadir langsung, memastikan fasilitas siap dipakai, dan warga merasakan manfaatnya secara nyata.
Selama Ramadan, sumur bor ini mendukung kegiatan sosial masjid, seperti buka bersama, pengajian anak, hingga sapa-sapa antar tetangga. Bahkan humor lokal ikut terselip, anak-anak bercanda, bapak-bapak saling menyindir ringan soal antrean wudhu dulu, tapi semua tetap tersenyum lega.
Hikmahnya cukup dalam tindakan kecil yang nyata bisa memberi dampak besar. Sumur bor itu bukan sekadar infrastruktur, tapi simbol kepedulian yang memungkinkan warga menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan fokus.
Kadang kita berpikir bantuan besar itu harus spektakuler, padahal satu sumur bor sederhana bisa mengubah malam Ramadan, tarawih, dan senyum anak-anak di sekeliling masjid.
Air bersih bukan sekadar kebutuhan fisik. Dalam konteks Ramadan, ia menjadi penunjang ibadah, pendidikan, dan kehidupan sosial. Pusri melalui TJSL-nya menunjukkan bahwa hadir di masyarakat tidak harus dengan kata-kata megah, tetapi dengan fasilitas sederhana yang membawa kenyamanan nyata dan kebahagiaan.
Di bulan suci ini, setiap tetes air dari sumur bor Masjid Sultan Agung bukan sekadar air. Ia adalah simbol kepedulian, kenyamanan, dan fokus dalam ibadah. Sebuah pengingat ringan tapi mendalam, kadang, yang paling bernilai bukanlah janji besar, tapi tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari, terutama saat Ramadan ketika fokus dan khusuk menjadi bagian dari pengalaman spiritual masyarakat. (***)